Pakistan Pastikan AS dan Iran Hampir Mencapai Kesepakatan Meski Ada Serangan Kapal



KONTAN.CO.ID - DUBAI. Pakistan menyatakan bahwa Amerika Serikat dan Iran hampir mencapai semacam kesepakatan, dan sesama mediator, Qatar, menyebutkan bahwa pembicaraan mengenai pengelolaan Selat Hormuz telah mencapai tahap lanjut, terlepas dari adanya laporan serangan baru terhadap kapal-kapal di perairan kawasan tersebut.

Mengutip Reuters, Selasa (11/8/2026), Pernyataan-pernyataan ini memberikan harapan bahwa Iran dan AS dapat mengakhiri kebuntuan yang secara efektif telah menghambat jalur air vital tersebut—tempat mengalirnya seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia sebelum perang terjadi. 

Prospek tercapainya kesepakatan sempat tampak meredup pada hari Senin menyusul pernyataan dan tuntutan terbaru dari kedua belah pihak.


Baca Juga: Nvidia Sedang Mengembangkan Open Source Nemotron 4

Dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg News, Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif mengatakan bahwa "situasi kembali mengarah pada kesepakatan damai atau suatu bentuk kesepakatan."

"Sinyal-sinyal dalam dua atau tiga hari terakhir menunjukkan bahwa kita hampir mencapai semacam kesepakatan."

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi bertemu dengan Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi di Teheran pada hari Selasa, demikian disampaikan melalui saluran Telegram Araqchi pada hari yang sama, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar dalam sebuah taklimat pada hari Selasa menyatakan bahwa diskusi terpisah antara Oman dan Iran mengenai pengelolaan Selat Hormuz telah mencapai tahap lanjut.

Kantor Humas Kementerian Luar Negeri Iran tidak segera menanggapi permintaan komentar.

Pakistan dan Qatar telah menjadi mediator utama dalam konflik yang telah menewaskan ribuan orang—terutama di Iran dan Lebanon— ...sejak serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari. Iran telah membalas dengan menyerang aset dan infrastruktur AS di berbagai negara, termasuk Oman, Yordania, Kuwait, Israel, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi.

Harga Minyak Turun

Harga minyak kembali turun pada hari Selasa setelah sempat mencapai level tertinggi dalam satu minggu pada sesi perdagangan awal, meskipun harganya masih jauh lebih tinggi dibandingkan sebelum perang.

Iran menyatakan pada hari Minggu bahwa mereka hampir mencapai kesepakatan final dengan Oman mengenai penetapan jalur pelayaran baru di Selat Hormuz—yang membentang di antara kedua negara—namun menegaskan bahwa hal itu saja tidak akan membuka jalur perairan tersebut kecuali AS memenuhi syarat-syarat tertentu.

Syarat-syarat tersebut sebagian besar sejalan dengan nota kesepahaman untuk mengakhiri konflik yang dicapai antara Washington dan Teheran pada bulan Juni, serta mencakup pemberian kompensasi dan penghentian sanksi maupun ancaman militer.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, mengatakan pada hari Minggu bahwa Teheran dan Washington tidak sedang melakukan pembicaraan langsung, namun pesan-pesan tetap dipertukarkan melalui pihak perantara.

Presiden AS Donald Trump memberikan tanggapan pada Senin malam dengan mengajukan tuntutan baru; ia menyatakan ingin menuntut ganti rugi dari Teheran, sebuah langkah yang tampaknya membuat kedua belah pihak menemui jalan buntu.

Baca Juga: Harga Minyak Turun Tipis di Tengah Sorotan Terhadap Pembicaraan Oman-Iran

"Kami akan meminta ganti rugi atas kerusakan yang mereka timbulkan selama kurun waktu 50 tahun," ujar Trump di Gedung Putih, seraya menambahkan bahwa pembayaran tersebut akan mencakup kompensasi atas kematian warga sipil yang berdemonstrasi maupun personel militer AS di kawasan tersebut.

"Jadi, jika ada ganti rugi yang harus dibayarkan, menurut saya Iran-lah yang harus membayarnya," kata Trump.

Dua Kapal Diserang

Meskipun terdapat tanda-tanda awal kemajuan dalam diplomasi, muncul laporan mengenai serangan baru terhadap kapal-kapal di Teluk Oman dan Laut Merah, yang menyoroti semakin meluasnya ancaman terhadap perdagangan maritim.

Empat awak kapal tewas dalam dugaan serangan oleh kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran terhadap sebuah kapal kargo kecil di Selat Bab el-Mandeb pada hari Selasa; demikian pernyataan Kementerian Transportasi Yaman.

Korban jiwa di atas kapal Tihamah milik Mesir tersebut—jika terkonfirmasi—akan menjadi kematian pertama akibat serangan Houthi terhadap kapal sejak perang Iran dimulai. Kelompok Houthi belum mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. 

Sebuah kapal kontainer juga dilaporkan terkena rudal di lepas pantai Pakistan saat melintasi Teluk Oman dalam insiden yang diduga sebagai serangan AS, menurut keterangan sejumlah sumber.

Wall Street Journal mengutip pernyataan seorang pejabat AS yang menyebutkan bahwa kapal tersebut diserang oleh helikopter militer AS setelah awaknya mengabaikan peringatan dari personel yang bertugas menegakkan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. 

Baca Juga: Sea Ltd Cetak Pendapatan US$7,79 Miliar, Ditopang Kinerja Shopee

AS pertama kali mengumumkan blokade terhadap kapal-kapal yang hendak menuju pelabuhan Iran pada bulan April dan memberlakukannya kembali pada bulan Juli setelah kesepakatan damai bulan Juni gagal.

Kelompok Houthi menyatakan embargo maritim terhadap Arab Saudi di Laut Merah pada tanggal 20 Juli sebagai tanggapan atas apa yang mereka sebut sebagai pengepungan oleh Saudi. Pihak Riyadh membantah bahwa Yaman sedang dalam kondisi terkepung.

Trump berada di bawah tekanan untuk mengakhiri perang yang—menurut berbagai jajak pendapat—sangat tidak disukai oleh pemilih AS. Tekanan ini muncul hanya beberapa bulan menjelang pemilihan umum paruh waktu yang krusial, di mana Partai Republik yang dipimpinnya berisiko mengalami kekalahan telak, terutama akibat tingginya harga bahan bakar yang menjadi keluhan utama masyarakat.