KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Pakuwon Jati Tbk (
PWON) mencatatkan pendapatan prapenjualan alias marketing sales sebesar Rp 316 miliar sepanjang kuartal I 2026. Director of Business Development Pakuwon Jati Ivy Wong mengatakan, raihan tersebut sudah mencakup sekitar 21% dari target marketing sales di tahun ini yang sebesar Rp 1,5 triliun. “Kontribusi terbesar berasal dari produk
high-rise, diikuti
landed house, sementara segmen
office relatif lebih kecil,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (21/4/2026).
Ivy bilang, aset
recurring income masih menjadi unggulan kinerja PWON hingga saat ini. Bahkan, porsi pendapatan dari aset
recurring income mencapai 79% dari total raihan sepanjang tahun 2025.
Baca Juga: YLKI Tolak Wacana DJP Pungut Pajak Tol, Bakal Kirim Surat ke Menkeu Purbaya Segmen ritel mall dan
hospitality pada tahun lalu memberikan arus kas yang stabil dan relatif defensif di tengah dinamika ekonomi. “Untuk tahun ini, kinerja PWON akan ditopang oleh proyek-proyek dalam ekosistem superblock yang telah matang. Ini tersebar di Surabaya, Jakarta & Bekasi, serta Yogyakarta, Solo dan Bali,” ungkapnya. Di sisi lain, PWON melihat konflik di Timur Tengah juga akan berdampak kepada kenaikan harga energi global yang berpotensi memicu inflasi. Pada kuartal I-2026, dampaknya memang belum terasa signifikan di Indonesia, karena belum ada penyesuaian harga BBM. “Namun memasuki kuartal II, dengan adanya kenaikan harga BBM non-subsidi, efek domino terhadap peningkatan biaya logistik dan distribusi yang pada akhirnya dapat menekan daya beli masyarakat,” katanya. Untuk segmen
recurring income, dampak dari konflik geopolitik ini memang bersifat tidak langsung. Namun, tetap perlu diantisipasi adanya potensi tekanan melalui penurunan daya beli masyarakat yang dapat memengaruhi performa tenant. Meski demikian, portofolio
recurring PWON fokus di segmen menengah atas yang bersifat aspiring, sehingga relatif lebih resilien terhadap tekanan tersebut.
“Kami terus memonitor kondisi ini secara seksama dan secara aktif bekerja sama dengan tenant untuk menjaga daya tarik pusat perbelanjaan, sehingga
traffic pengunjung tetap terjaga,” ungkapnya. Sementara itu, pada segmen
development, dampak terlihat dari dua sisi. Dari sisi konstruksi, meskipun pembelian bahan baku dilakukan dalam rupiah, harga bahan konstruksi tetap sensitif terhadap dinamika global sehingga berpotensi menekan margin.
“Dari sisi permintaan, konsumen juga cenderung menjadi lebih berhati-hati dan selektif dalam melakukan pembelian properti di tengah ketidakpastian,” tuturnya. Sebagai respon, kata Ivy, strategi PWON adalah menjalankan pengembangan secara disiplin dan tepat sasaran, serta mengatur waktu peluncuran proyek agar tetap sesuai dengan kondisi pasar dan daya serap. “Dengan kekuatan pada
recurring income yang resilien serta strategi
development yang disiplin, perseroan berada pada posisi yang solid untuk menjaga kinerja yang berkelanjutan di tengah ketidakpastian global,” paparnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News