Pakuwon Jati (PWON) Optimistis Hadapi 2026, Recurring Income Jadi Penopang Kinerja



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) tetap optimistis melihat prospek bisnis sepanjang tahun 2026, meskipun kondisi pasar properti residensial masih relatif menantang.

Pada tiga bulan pertama tahun ini, PWON membukukan total pendapatan sebesar Rp1,65 triliun atau tumbuh 6% secara tahunan (YoY). Sementara recurring revenue naik 8% menjadi Rp1,43 triliun dan EBITDA meningkat 10% menjadi Rp916 miliar.

Di sisi lain, marketing sales tercatat sebesar Rp316 miliar pada kuartal I-2026 atau turun sekitar 4% YoY. Penurunan tersebut dipengaruhi oleh sikap wait and see konsumen.


Director of Business Development PWON Ivy Wong menyampaikan, pihaknya menilai target recurring income tahun ini masih realistis tercapai terutama di dukung oleh kuatnya daya tarik portfolio retail mall PWON yang tercermin dari tingkat okupansi yang secara konsisten berada di kisaran 95%.

Baca Juga: BPDP Pastikan Dana Kompensasi Biodiesel B50 Aman hingga Akhir 2026

“Tingkat okupansi yang tinggi ini memberikan PWON bargaining power yang kuat dalam melakukan rental reversion kepada tenant, sehingga dapat mendukung pertumbuhan pendapatan sewa secara berkelanjutan,” ungkap Ivy, kepada Kontan.co.id, pekan lalu. 

Perusahaan juga masih optimistis target marketing sales tahun ini dapat tercapai seiring rencana peluncuran produk high-end di Kota Kasablanka Phase 4.

Meski demikian, PWON mengakui pasar residensial pada 2026 masih relatif menantang. Selain faktor suku bunga, ketidakpastian ekonomi serta geopolitik global membuat sebagian konsumen menunda keputusan pembelian properti.

Selain tantangan permintaan, manajemen juga mencermati tekanan biaya akibat suku bunga tinggi. Namun dampaknya terhadap PWON relatif lebih terbatas karena mayoritas produk perusahaan menyasar segmen middle-up, yang secara daya beli lebih resilien terhadap perubahan siklus ekonomi maupun tingkat suku bunga.

Di sisi lain, kondisi suku bunga yang tinggi, pelemahan nilai tukar rupiah, dan tekanan inflasi juga berpotensi meningkatkan biaya konstruksi. 

Sebab, sebagian material bangunan masih memiliki keterkaitan dengan harga komoditas global maupun komponen impor. “Sehingga biaya pembangunan cenderung meningkat. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut akan mendorong kenaikan harga jual properti di pasar,” jelasnya. 

Untuk menjaga pertumbuhan di tengah tantangan tersebut, PWON mengandalkan penguatan recurring income sebagai strategi utama.

PWON juga terus menjaga okupansi retail mall di kisaran 95%-96%, memperkuat ekosistem mixed-use development, menjaga traffic aset melalui berbagai acara dan promosi, serta mengandalkan kontribusi aset-aset baru yang mulai beroperasi.

"Bagi PWON, kami tetap optimistis terhadap prospek bisnis ke depan. Portofolio aset yang terdiversifikasi, tingkat okupansi yang tinggi, posisi keuangan yang kuat, serta pipeline pengembangan yang terus berjalan memberikan fondasi yang solid untuk menjaga pertumbuhan secara berkelanjutan," tutup Ivy.

Baca Juga: One Global Capital Bantu Buka Akses Investasi Warga RI ke Pasar Global

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News