Paladium diproyeksikan masih akan cemerlang



JAKARTA. Pamor paladium diproyeksikan masih akan cemerlang. Meski sempat mengalami koreksi pasca peringatan hari Marthin Luther, tetapi secara fundamental paladium masih mendapatkan sentimen positif. Membaiknya industri otomotif diyakini mampu mengkerek harga.

Mengutip Bloomberg, Selasa (18/1) pukul 15.44 WIB harga paladium kontrak pengiriman Maret di di New York Mercantile Exchange tercatat menguat 0,14% ke level US$ 750,20 per ons troi dibanding hari sebelumnya. Namun jika dibandingkan sepekan lalu harganya justru melemah 1,97%.

Sebelum akhirnya mengalami penguatan, sebenarnya pekan lalu harga paladium cukup banyak mengalami tekanan. Bahkan di awal perdagangan kemarin (18/1) sekitar pukul 12.21 WIB, harga paladium sempat mengalami koreksi ke level US$ 747,60 per ons troi.


Andri Hardianto, analis PT Asia Tradepoin Futures mengatakan pelemahan di awal sesi kali ini lebih disebabkan karena pamor paladium sebagai komoditas safe haven masih kalah dengan emas dan mata uang yen. Meski kini kondisi global masih diliputi ketidakpastian jelang pelantikan Presiden AS ke 45 dan keterangan pers Perdana Menteri Inggris mengenai Brexit, tetapi investor tetap tak memburu paladium.

“Meski masuk precious metal tapi konsentrasi save haven masih ke gold dan yen. Ini yang menyebabkan paladium sempat terkoreksi,” ungkapnya kepada Kontan, Selasa (18/1).

Walaupun hasil data perdagangan China bulan Desember terkikis dari 298 miliar yuan menjadi 275 miliar yuan, tetapi hal tersebut dinilai tidak terlalu berpengaruh. Ekspor dan impor Negeri Panda yang juga terkoreksi dibanding bulan sebelumnya hanya dianggap memberi dampak yang singkat.

Secara fundamental, Andri optimis pertumbuhan pasar otomotif di China, Eropa dan Amerika Serikat (AS) masih memberikan sentimen positif bagi pergerakan harga paladium. Apalagi selama ini 70% penggunaan paladium banyak digunakan sebagai katalis konverter untuk industri otomotif.

Pada bulan Desember kemarin, total penjualan kendaraan di AS juga tercatat tumbuh dari 17,9 miliar menjadi 18,4 miliar. General Motor Co dan Ford Motor Co sebagai produsen mobil terbesar di Negeri paman Sam bahkan mencatatkan kenaikan pembuatan mobil sekitar 4,6%.

“Ke depannya untuk jangka pendek, trend kenaikannya masih cukup positif,” tandasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie