Pamer ke China, India-AS-Jepang-Australia gelar latihan angkatan laut besar-besaran



KONTAN.CO.ID - NEW DELHI. India, Amerika Serikat, Jepang, dan Australia memulai latihan angkatan laut gabungan terbesar mereka dalam lebih dari satu dekade pada Selasa (3/11/2020). Menurut sumber Reuters dari pemerintah India, langkah ini dipandang sebagai bagian dari upaya untuk menyeimbangkan kekuatan militer dan ekonomi China yang besar di wilayah tersebut.

Reuters memberitakan, permainan perang "Malabar" tahunan yang diadakan India dengan Amerika Serikat dan Jepang telah diperluas hingga mencakup Australia pada tahun ini untuk mencakup semua anggota Quad, sebuah kelompok informal dari empat negara demokrasi terbesar di Indo-Pasifik.

China menuduh Amerika Serikat, yang telah memimpin upaya untuk membentuk front bersama di antara sekutunya, atas "mentalitas Perang Dingin" dan prasangka ideologis.


Menurut Kementerian Pertahanan India, lima kapal Angkatan Laut India, termasuk sebuah kapal selam, dikerahkan dalam latihan bersama dengan kapal perusak rudal John S McCain Angkatan Laut AS, fregat Ballarat Australia, dan sebuah kapal perusak Jepang.

Baca Juga: Pasca musim panas berdarah, India kehilangan kendali atas 300 km persegi ke China

"Tidak akan ada kontak antara personel militer dari empat negara karena pembatasan Covid-19 selama fase pertama latihan yang berlangsung hingga 6 November," kata sumber Reuters.

Akhir bulan ini, India dan Amerika Serikat akan mengerahkan kapal induk dalam latihan tersebut, kata sumber militer.

"Latihan ini akan menunjukkan sinergi dan koordinasi tingkat tinggi antara angkatan laut sahabat, yang didasarkan pada nilai-nilai dan komitmen bersama mereka terhadap Indo-Pasifik yang terbuka dan inklusif dan tatanan internasional berbasis aturan," kata kementerian pertahanan India dalam laporannya. 

Baca Juga: China kalahkan AS dan Rusia dalam jumlah peluncuran satelit ke luar angkasa

Latihan itu dilakukan pada saat tuan rumah, India, terkunci dalam kebuntuan militer di perbatasan darat yang disengketakan dengan China.

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie