Pamer Kemajuan Hilirisasi Industri RI, Luhut: We're Not Banana Republic



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Usai bertemu dengan beberapa pengusaha dan pejabat pemerintahan di Australia, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan berkesempatan mengunjungi Australia National University.

Dalam pertemuan tersebut, Luhut menjelaskan bahwa saat ini Indonesia sudah menjadi negara yang sudah jauh lebih berkembang. Pasalnya, saat perekonomian global babak belur, justru perekonomian Indonesia masih tetap tumbuh dan resilien

"We're not banana republic, Indonesia sudah jauh lebih berkembang daripada yang Anda tahu sebelumnya," ujar Luhut dikutip dari unggahan di instagram pribadinya @luhut.pandjaitan, Senin (20/2).


Luhut menegaskan, pencapaian perekonomian Indonesia yang tetap tumbuh positif di tengah tantangan pandemi covid-19 dan krisis global tidak terlepas dari pengembangan industri hilirisasi yang bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah kekayaan alam Indonesia.

Baca Juga: Luhut Pandjaitan Minta Kemendag Kerek DMO Minyak Goreng Menjadi 50%

Oleh karena itu, Luhut mengundang para peneliti ikut bersama Menteri Perindustrian Australia untuk berkunjung ke Indonesia agar dapat melihat pengembangan industri hilirisasi.

"Kalian bisa lihat bagaimana industri hilirisasi benar-benar kita bangun dari hulu ke hilir. Selain memberi nilai tambah kepada kekayaan alam Indonesia, kami juga memberi nilai tambah kepada sumber daya manusia Indonesia," katanya.

Selain itu, dirinya juga mengajak para peneliti dan pejabat Australia untuk melihat langsung bagaimana transfer teknologi yang terjadi melalui dibangunnya beberapa Politekni Industri di Tanah Air. Menurutnya, hal tersebut sangat penting untuk pengembangan sumber daya manusia (SDM).

"Jika kita punya tenaga kerja lokal yang terdidik dan terampil mengoperasikan mesin-mesin industri, kita tidak perlu mendatangkan lagi tenaga kerja dari luar negeri yang sudah tentu menghabiskan banyak biaya," ungkap Luhut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Anna Suci Perwitasari