Pameran Keliling, PBB Angkat Sejarah Perbudakan Kolonial dan Perlawanan di Indonesia



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pusat Informasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNIC) di Indonesia dan Universitas BINUS hari ini (29/9/2026) membuka rangkaian pameran poster bertajuk Slavery: Ten True Stories of Dutch Colonial Slavery (Perbudakan: Sepuluh Kisah Nyata Perbudakan Kolonial Belanda) yang dikembangkan oleh Rijksmuseum di Amsterdam.

Poster dipamerkan di Universitas BINUS pada tanggal 29–30 September. Pameran ini mengajak mahasiswa dan masyarakat luas untuk menyelami sejarah perbudakan melalui kisah hidup individu; termasuk mereka yang diperbudak, mereka yang melakukan perlawanan, serta mereka yang mengambil keuntungan dari sistem tersebut.

Kisah-kisah dalam pameran ini menjangkau wilayah Belanda, Indonesia, Suriname, Karibia, dan berbagai tempat lain yang terhubung dengan penjajahan Belanda. Benda-benda bersejarah yang ditampilkan mengungkapkan bagaimana perbudakan membentuk kehidupan di seluruh jaringan ini.


Beberapa kisah mengarah langsung ke Nusantara, termasuk Batavia, Kepulauan Banda, dan Jawa. Di antaranya adalah Untung Surapati, yang diperbudak di Bali lalu melarikan diri dari Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC) di Batavia. Untung memelopori perlawanan terhadap kekuasaan kolonial.

Baca Juga: Neraca Perdagangan Diperkirakan Surplus US$ 770 Juta Pada Agustus 2026

Pada akhirnya, ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia, menjadikan kisahnya sebagai representasi sosok yang dikenal luas dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Kisah lainnya mengangkat nasib enam individu yang diperdagangkan dari Teluk Benggala dan disebarkan melalui jaringan VOC, termasuk ke wilayah Batavia dan Kepulauan Banda.

 “Kita perlu membicarakan sejarah perbudakan agar orang-orang yang mengalaminya tidak terlupakan, dan agar kita dapat memahami bagaimana ketidakadilan pada masa itu sempat dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Pelajaran tersebut sangat penting saat ini. Perbudakan tidak hanya terbatas di masa lalu: masih ada orang-orang yang menjadi korban atas praktik kerja paksa, dan berbagai bentuk perbudakan modern lainnya. Mengingat sejarah ini akan memperkuat komitmen kita untuk melindungi kebebasan semua orang,” kata Direktur UNIC Indonesia, Miklos Gaspar dalam pesan tertulisnya.

Selain pameran, acara juga dilengkapi dengan diskusi bertajuk “Perbudakan, Masa Lalu dan Masa Kini: Menghadapi Ketidakadilan Sejarah dan Bentuk Eksploitasi Kontemporer.” Diskusi ini mempertemukan sejarawan Asep Kambali, Miklós Gáspár, dan Dr. Lili Yulyadi, B.IRK., B.HSc., M.HSc.

Para pembicara mendiskusikan keterkaitan perbudakan kolonial Belanda dengan Indonesia, serta bagaimana pengalaman individu dilestarikan dan direpresentasikan. Mereka juga membahas apa yang dapat diajarkan oleh sejarah ini kepada kita tentang eksploitasi masa kini dalam kaitannya dengan tanggung jawab bersama.

Baca Juga: Prabowo Panggil Mendiktisaintek hingga Wamenkes ke Istana, Bahas Penanganan Narkoba

Bagi Universitas BINUS, menjadi tuan rumah bagi pameran dan diskusi ini memberikan kesempatan para mahasiswa untuk mengeksplorasi sejarah melalui pengalaman individu, sekaligus merefleksikan bagaimana masa lalu terus membentuk pemahaman kita tentang kebebasan, martabat, dan tanggung jawab. Program ini juga mendorong generasi muda untuk terlibat dengan kisah dan materi sejarah sekaligus mempertimbangkan relevansinya bagi masyarakat saat ini.

“Pameran dan diskusi ini menawarkan kesempatan bagi kita untuk memahami perbudakan tidak hanya sebagai sebuah sistem sejarah, tetapi melalui pengalaman orang-orang yang melewatinya. Dengan menggali kisah-kisah mereka, memori sejarah, dan makna kebebasan, kami berharap mahasiswa dan masyarakat luas dapat merefleksikan martabat manusia dan bagaimana pemahaman kita tentang masa lalu dapat membentuk rasa tanggung jawab kita hari ini,” jelas Rini Setiowati, Vice Rector Collaboration & Global Engagement , Universitas BINUS.

Kerangka Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-Bangsa melarang perbudakan dan perdagangan budak dalam segala bentuknya. Pada bulan Maret 2026, Majelis Umum PBB mengadopsi resolusi 80/250, yang membahas perdagangan dan perbudakan berbasis rasial terhadap orang-orang Afrika, serta menyerukan upaya peringatan, pendidikan, dan penelitian yang lebih kuat mengenai sejarah tersebut beserta dampaknya yang berkepanjangan.

Meskipun resolusi tersebut membahas sejarah yang spesifik, penekanannya pada kebenaran dan pendidikan memperkuat betapa pentingnya mempelajari sejarah perbudakan lainnya, termasuk yang berkaitan erat dengan Indonesia.

Baca Juga: Prabowo Panggil Mendiktisaintek hingga Wamenkes ke Istana, Bahas Penanganan Narkoba

“Salah satu kisah yang menarik perhatian saya adalah kisah Untung Surapati. Saya belajar bagaimana dia diperbudak di Bali, melarikan diri dari VOC di Batavia, dan kemudian menjadi tokoh yang melawan penjajahan. Kisahnya menunjukkan kepada saya bahwa pameran ini bukan hanya tentang perbudakan, melainkan juga tentang beragam pengalaman dan perjuangan orang-orang yang mengalaminya,” ujar Felicia Chritsty, mahasiswa Komunikasi Pemasaran, B29, Universitas BINUS.

Setelah pembukaannya di Universitas BINUS pada 29–30 September, pameran ini direncanakan akan berlanjut ke Monas pada 23–25 Oktober — bertepatan dengan momen Hari Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN Day) — dan kemudian ke salah satu pusat perbelanjaan (mal) di Jakarta pada 5–8 November 2026.

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News