Panas Bumi Dilirik Asing, Kepemimpinan Baru PGEO Diharap Percepat Pengembangan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sektor energi baru dan terbarukan (EBT) kian menjadi tumpuan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi hingga 8%, salah satunya lewat percepatan transisi energi yang tertuang dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034. 

Dalam periode tersebut, kapasitas pembangkit EBT ditargetkan meningkat hingga 76%.


Arah kebijakan ini membuat sektor EBT semakin menarik bagi investor, termasuk investor asing. Masuknya modal global mencerminkan kepercayaan terhadap prospek pengembangan energi bersih di Indonesia, meski tantangan di lapangan masih cukup besar.

Baca Juga: Pertamina Geothermal Energy (PGEO) Siap Bangun Ekosistem Panas Bumi

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Telisa Aulia Falianty, menilai ketertarikan investor menunjukkan potensi ekonomi EBT yang sangat menjanjikan. Salah satu sumber energi yang dinilai paling strategis adalah panas bumi atau geothermal.

“Potensi panas bumi Indonesia sangat besar, bahkan tercatat sebagai yang terbesar kedua di dunia dengan kapasitas sekitar 24 gigawatt. Ini menjadi peluang ekonomi yang signifikan jika dapat dikelola secara optimal,” ujar Telisa dalam keterangannya, Minggu (25/1/2026).

Namun demikian, Telisa menekankan pengembangan panas bumi masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari aspek teknis, regulasi, hingga pembiayaan. Menurutnya, tantangan tersebut perlu diselesaikan secara bertahap agar pengembangan panas bumi berjalan berkelanjutan.

“Indonesia sebenarnya sudah memiliki banyak kajian dan pemetaan potensi panas bumi. Tantangannya sekarang adalah bagaimana mengimplementasikan kajian tersebut secara efektif,” katanya.

Dari sisi pendanaan, Telisa menilai kehadiran Danantara berpotensi menjadi katalis penting untuk mempercepat pemanfaatan panas bumi. 

Baca Juga: Industri Panas Bumi Dinilai Makin Prospektif, Pemerintah Diminta Percepat Eksplorasi

Ia berharap PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE/PGEO), sebagai pemain utama panas bumi nasional, dapat berperan aktif dalam merumuskan solusi atas berbagai hambatan yang ada.

Harapan tersebut sejalan dengan langkah PGE yang baru saja melakukan pergantian kepemimpinan.

Melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Senin (20/1/2026), PGE menunjuk Ahmad Yani sebagai Direktur Utama, menggantikan Julfi Hadi. Dalam rapat yang sama, Andi Joko Nugroho ditetapkan sebagai Direktur Operasi.

Menurut Telisa, pergantian kepemimpinan ini diharapkan dapat menjawab berbagai kendala operasional yang selama ini menghambat pengembangan panas bumi.

“Pergantian ini saya lihat sebagai upaya penyesuaian agar ekosistem yang dibangun PGE selaras dengan ekspektasi Danantara. Di bawah kepemimpinan baru, diharapkan berbagai kendala bisa diselesaikan secara lebih menyeluruh,” ujarnya.

Baca Juga: PLN Siapkan Dua Proyek Pembangkit Panas Bumi di Bengkulu

Ahmad Yani sebelumnya menjabat sebagai Direktur Operasi PGE sejak 2023. Ia dikenal memiliki pengalaman panjang di industri panas bumi dan berperan penting dalam menjaga keandalan operasi serta meningkatkan efisiensi pembangkitan.

Dengan dukungan kebijakan pemerintah, minat investor, serta penguatan kepemimpinan di tubuh PGE, pengembangan panas bumi diharapkan dapat melaju lebih cepat dan berkontribusi nyata bagi ketahanan energi serta perekonomian nasional.

Selanjutnya: Fintech Amartha Angkat Bicara Soal Potensi Melakukan IPO

Menarik Dibaca: 5 Manfaat Rutin Minum Kopi Setiap Hari untuk Kesehatan Tubuh

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News