KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Panca Budi Idaman Tbk (
PBID) mengandalkan strategi multi supplier untuk menjaga pasokan bahan baku di tengah gejolak geopolitik di Timur Tengah yang memicu volatilitas harga minyak dan bahan baku petrokimia global. Direktur Utama PT Panca Budi Idaman Tbk Vicky Taslim mengungkapkan, perusahaan tidak bergantung pada satu pemasok bahan baku biji plastik untuk mengantisipasi gangguan rantai pasok akibat konflik geopolitik. “Di setiap bahan biji plastik yang kita beli, minimal ada empat sampai lima
backup supplier. Jadi kita tidak boleh bergantung sama satu,” ujar Vicky dalam paparan publik di Jakarta, Jumat (8/5/2026).
Baca Juga: Tarif Layanan E-Commerce Naik, Asperindo: Industri Jasa Pengiriman Saat Ini Tertekan Menurut dia, pemasok bahan baku PBID berasal dari berbagai perusahaan petrokimia, baik domestik maupun global, seperti Chandra Asri, Lotte Chemical, Polytama, Chevron Phillips, ExxonMobil, PTT hingga SCG. Strategi tersebut dinilai penting mengingat industri petrokimia sangat rentan terhadap gangguan geopolitik dan fluktuasi harga energi global. Vicky mencontohkan, saat konflik geopolitik memanas dan salah satu produsen petrokimia nasional mengumumkan
force majeure, operasional PBID tetap berjalan normal karena masih memiliki alternatif pasokan dari pemasok lain. “Pada saat salah satu produsen biji plastik terbesar di Indonesia mengumumkan
force majeure, di kita tidak pengaruh karena supplier lain masih ada,” katanya. Selain mengandalkan diversifikasi pemasok, perusahaan juga menjaga ketersediaan stok bahan baku pada level aman agar tidak perlu melakukan
panic buying ketika harga melonjak. Menurut Vicky, PBID memilih menjaga keseimbangan persediaan tanpa melakukan spekulasi berlebihan terhadap pergerakan harga bahan baku.
Baca Juga: AirAsia Group Tambah 150 Armada Airbus Senilai US$ 19 Miliar “Kita tidak
panic buying. Kita jaga
feedstock cukup nyaman sehingga kalau ada kejadian seperti itu kita tidak perlu ikut berebut beli,” ujarnya. Ia mengungkapkan, harga biji plastik sempat melonjak signifikan sejak konflik geopolitik memanas. Namun, dalam beberapa waktu terakhir harga mulai mengalami koreksi seiring meredanya ketegangan pasar. Di sisi lain, PBID menilai dampak terbesar dari konflik berkepanjangan bukan hanya risiko pasokan bahan baku, tetapi juga potensi inflasi akibat tingginya harga minyak dunia.
Vicky mengatakan, kenaikan harga energi dapat mempengaruhi daya beli masyarakat dan sektor barang konsumsi secara lebih luas. “Kalau perangnya berkepanjangan, saya lebih mengkhawatirkan tingkat inflasinya,” katanya. Meski menghadapi tekanan global, PBID tetap optimistis terhadap prospek bisnis tahun 2026. Perusahaan menargetkan pertumbuhan penjualan sebesar 10% seiring meningkatnya permintaan
consumer packaging, khususnya di sektor makanan dan minuman. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News