Panca Budi (PBID) Optimalkan Pasar Lokal untuk Dongkrak Penjualan 10% pada 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Faktor daya beli masih membayangi kinerja bisnis dan keuangan PT Panca Budi Idaman Tbk (PBID). Emiten kemasan plastik ini ingin mengoptimalkan potensi di pasar dalam negeri demi mendongkrak penjualan pada tahun 2026.

Berkaca dari performa tahun 2025, penjualan PBID menyusut tipis 0,95% secara tahunan atau year on year (yoy) dari Rp 5,24 triliun menjadi Rp 5,19 triliun. Pendapatan PBID tahun lalu bersumber dari penjualan kemasan plastik senilai Rp 3,44 triliun, biji plastik senilai Rp 1,41 triliun dan dari segmen lain-lain sebesar Rp 332,67 miliar.

Dari sisi pemasaran, PBID masih mengandalkan pasar dalam negeri. Penjualan lokal PBID kepada pihak ketiga tercatat senilai Rp 4,58 triliun dan kepada pihak berelasi sebesar Rp 461,07 miliar. Sedangkan penjualan ekspor berkontribusi sebesar Rp 147,47 miliar. 


Secara bottom line, PBID membukukan laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 400,58 miliar sepanjang tahun 2025. Laba bersih PBID merosot 17,40% dibandingkan keuntungan tahun 2024, yang kala itu tercatat sebesar Rp 484,97 miliar.

Direktur & Corporate Secretary Panca Budi Idaman, Lukman Hakim mengatakan bahwa capaian penjualan dan laba bersih tersebut mencerminkan ketangguhan PBID dalam menghadapi dinamika ekonomi dan industri sepanjang tahun lalu. Lukman menyoroti daya beli masyarakat sebagai faktor krusial dalam performa bisnis kemasan plastik PBID.

Pelemahan daya beli membuat PBID melakukan penyesuaian harga. Lukman menjelaskan bahwa penurunan harga jual pada sejumlah kategori produk berdampak terhadap pendapatan dan margin laba.

Pada saat yang sama, faktor pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) turut menekan laba PBID. "Ada faktor daya beli masyarakat dan penurunan harga jual, sehingga menurunkan penjualan dan net profit. Juga faktor fluktuasi nilai tukar," terang Lukman saat dihubungi Kontan.co.id, Rabu (4/3/2026).

Lukman menggambarkan bahwa PBID menguasai pangsa pasar (market share) sekitar 33% - 35% dari total pasar kemasan plastik di Indonesia. Di tengah eskalasi geopolitik global yang bergejolak sejak awal tahun ini, PBID akan tetap fokus menggali potensi dari pasar dalam negeri.

Lukman mengamini, tantangan pelemahan daya beli masih membayangi. Meski begitu, dia optimistis segmen kemasan plastik untuk pasar Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) serta sektor makanan dan minuman masih memiliki daya tahan yang cukup kuat.

Target dan Strategi Tahun 2026

Pada awal tahun ini, Lukman berharap momentum Ramadan - Idulfitri bisa mendongkrak kinerja PBID pada kuartal I-2026. Dia belum merinci potensi pertumbuhan permintaan kemasan plastik maupun potensi kenaikan penjualan PBID pada periode Ramadan - Idulfitri.

Lukman hanya menggambarkan bahwa para pelanggan atau toko-toko plastik sudah menambah persediaan sejak Januari - Februari 2026. "Untuk bulan Ramadan, pasti ada kenaikan konsumsi, yang mana akan meningkatkan penjualan kami. Ke depannya kami lebih stable growth karena mendukung consumer goods," ujar Lukman.

Secara operasional, saat ini PBID memiliki kapasitas produksi sebesar 157.000 ton per tahun. Dengan rata-rata utilisasi sekitar 75%, produksi tahunan PBID mencapai sekitar 120.000 ton.

PBID pun ingin terus menambah tingkat utilisasi produksinya. Dalam hal ini, pasokan bahan baku menjadi faktor krusial. Lukman pun menyoroti eskalasi konflik di Timur Tengah pasca serangan AS dan Israel terhadap Iran.

Lukman mengatakan bahwa sejauh ini gejolak geopolitik di Timur Tengah tidak berdampak terhadap PBID. Sebab, PBID memiliki sumber bahan baku yang terdiversifikasi melalui kerja sama dengan lebih dari 20 perusahaan petrokimia.

Tak hanya mengandalkan Timur Tengah, PBID juga bisa mendapatkan pasokan bahan baku dari perusahaan petrokimia di Asia Timur dan Asia Tenggara. "Kami nggak bergantung pada Timur Tengah. Kami kerja sama dengan lebih 20 petrochemical, untuk supply chain masih lancar," tegas Lukman.

Mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, pada tahun ini PBID memasang target yang relatif konservatif. Perusahaan kemasan plastik yang mengusung merek cap Tomat, Wayang dan Sparta ini menargetkan pertumbuhan penjualan sekitar 10% dibandingkan tahun lalu.

Baca Juga: Jelang Lebaran, Pertamina Pastikan Stok BBM, LPG dan Avtur Aman

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News