Pandangan BI tentang shutdown AS



JAKARTA. Bank Indonesia menaruh harapan besar agar masalah penutupan roda pemerintahan federal Amerika Serikat (AS) atau shutdown, dapat cepat selesai. BI berharap, parlemen AS dapat melakukan negosiasi dan menemui titik temu sebelum 17 Oktober mendatang. Sebab, setelah tanggal itu, batas kemampuan pembayaran utang pemerintah telah habis. Kementerian Keuangan AS akan kehabisan dana tunai dan hanya menyisakan US$ 30 miliar di kas negara. Gubernur BI Agus Martowardojo melihat, jika shutdown AS ini berlangsung selama dua pekan, akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di kuartal IV dan berdampak terkoreksinya pertumbuhan ekonomi AS sebesar 0,4% terhadap keseluruhan pertumbuhan ekonomi AS. "Jika masalah ini sampai berlangsung satu bulan, maka bisa mengoreksi pertumbuhan ekonomi AS sebesar 1,4%. Ini berdampak pada mitra dagang utama AS dan Indonesia bisa terkena dampak pada financial conclusion Indonesia," kata Agus di Gedung BI, Jakarta, Selasa (8/10).

Indonesia tetap waspada Dalam kesempatan yang sama, Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara bilang, atas hal ini, Indonesia harus waspada. Meski saat ini masih terjadi perdebatan, tapi Mirza yakin pemerintah AS pasti membayarkan utangnya. "Kita harus waspada. Kita juga tahu ini adalah seni politik. Tapi kami juga harus optimis, pada akhirnya pemerintah, kongres dan senat sepakat mengenai budget dan debt ceiling," ujarnya di Gedung BI, Jakarta, Selasa (8/10). Penundaan pengurangan stimulus ekonomi alias tapering off selama dua tahun berturut-turut, juga harus diwaspadai. Menurut Mirza, AS akan melihat perkembangan shutdown untuk mengambil langkah kebijakan tapering off. "Tapering off masih terus melihat situasi, karena ini tergantung siapa gubernur sentral yang baru dan bagaimana policy dalam mengurangi stimulus. Kita harus tetap monitor dan waspada," kata Mirza.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor: