Pandemi Covid-19 semakin menggerus optimisme konsumen



KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Pandemi Covid-19 yang belum jelas kapan akan berakhir di dalam negeri, berdampak besar terhadap tingkat optimisme konsumen. Pada April 2020, tingkat keyakinan konsumen terhadap kondisi perekonomian dalam negeri, menurun tajam.

Berdasarkan hasil survei konsumen yang dilakukan Danareksa Research Institute (DRI), Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) April sebesar 80,2 atau turun 20,5% dibanding dengan bulan sebelumnya yang sebesar 101,10. 

Baca Juga: BI super optimistis menatap prospek ekonomi 2021, pertumbuhan 7%, rupiah 14.900/US$


Penurunan ini disebabkan oleh penurunan dua komponen penyusun indeks, yaitu Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) dan Indeks Ekspektasi Kondisi Ekonomi (IEK). Lebih terperinci, IKE saat ini tercatat sebesar 54,5 atau merosot tajam 36,9% month on month (mom). Sementara IEK tercatat sebesar 99,5 alias menurun 11,1% mom.

Melemahnya penilaian konsumen terhadap kondisi ekonomi domestik antara lain disebabkan dampak Covid-19 yang mulai dirasakan konsumen. Apalagi setelah penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) oleh pemerintah di beberapa daerah.

Baca Juga: Pertumbuhan ekonomi AS dan China melambat, Indonesia perlu waspada

Hal ini terlihat dari konsumen yang khawatir akan ancaman virus korona Covid-19 terhadap perekonomian mencapai 24,48%. Seiring dengan ini, sebanyak 12,40% konsumen khawatir akan menurunnya kinerja industri manufaktur dan sebanyak 9,50% khawatir akan pemutusan hubungan kerja (PHK). 

Survei DRI juga menunjukkan, konsumen tidak terlalu khawatir akan kenaikan harga makanan (inflasi). Ini ditopang oleh inflasi bulan Maret 2020 yang rendah atau di kisaran 0,10% mom. Namun demikian, konsumen di daerah yang mengkhawatirkan persoalan gagal panen meningkat. Konsumen juga berharap, tingkat inflasi ke depan tetap rendah.

Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Yusuf Rendy mengatakan, selain ancaman PHK. Kelompok pekerja formal juga menghadapi potensi turunnya pendapatan bersih yang biasa mereka terima. Saat ini, mereka mengharapkan bantuan langsung pemerintah dan juga program Kartu Prakerja yang masih terkendala validasi data. "Kombinasi ini bermuara pada turunnya optimisme konsumen," kata Yusuf kepada KONTAN, Minggu (3/5).

Menurut Yusuf, optimisme konsumen tergantung seberapa cepat pemerintah bisa memenangi perang terhadap penanggulangan Covid-19. Peningkatan kualitas penyaluran bantuan sosial oleh pemerintah ini juga penting dilakukan untuk meningkatkan kembali rasa optimisme masyarakat menghadapi pandemi.

"Yang tidak kalah penting, masyarakat tentu akan menunggu strategi pemerintah dalam penciptaan lapangan kerja setelah pandemi betul-betul dinyatakan berakhir," tambahnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Adinda Ade Mustami