Panen kabar baik di awal 2013



JAKARTA. Meski mengandung angka mitos sial, 13,  tahun ini dimulai dengan harapan cerah. Perekonomian global yang terus mengupayakan perbaikan sejak krisis 2008, kini mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan.Salah satu bukti, sektor manufaktur dan jasa di Amerika Serikat (AS) meninggalkan fase kontraksi, ketika data Purchasing Managers Index (PMI) di atas 50, yaitu 50,7 per Desember lalu. Konsumsi masyarakat membaik, ditunjukkan penjualan mobil di AS naik hingga 9%, tertinggi dalam lima tahun.Di Eropa, manufaktur Inggris paling ngebut sepanjang 19 bulan. Kenaikan pengangguran di Jerman tak setinggi perkiraan pasar. Pertama kali dalam lima bulan, Spanyol  mencatat penurunan tingkat orang kehilangan pekerjaan. Dan sejak Oktober, China mempertahankan angka PMI di atas 50, mengakhiri perlambatan ekonomi 7 kuartal.Eric Alexander Sugandi, Ekonom Standard Chartered Bank Indonesia menilai perekonomian global di jalur pemulihan. Dia memperkirakan, pertumbuhan ekonomian China bisa 7,8% tahun ini, naik dibanding tahun lalu 7,7%. India juga bisa naik dari 5,4% menjadi 6%. Catatan positif kedua negara itu mampu menggairahkan pasar komoditas. Ekonomi AS diperkirakan tumbuh 2,3% tahun iniSementara lembaga riset internasional, Ipsos yang menggelar survei Oktober lalu menunjukkan, 22% warga dunia percaya, ekonomi di wilayah mereka enam bulan ke depan lebih kuat. Satu poin lebih rendah dari survei sebelumnya.Menurut Harry Pattikawa, Credit Portofolio Risk Analyst DHB Bank, Rotterdam, Belanda, pasar harus tetap memperhatikan fakta atau pendapat lain yang berseberangan. "Krisis karena proyeksi terlalu tinggi dan meremehkan ketidakpastian," kata dia. Menurut dia, pasar sebaiknya tak bersandar pada indikator PMI semata. Apalagi, Desember adalah bulan istimewa, tingkat konsumsi lebih tinggi daripada bulan-bulan sebelumnya.Coba tengok Dana Moneter Internasional (IMF) yang memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 3,5% tahun ini, lebih tinggi dibandingkan 3,2% di tahun lalu. Angka itu masih lebih kecil dibandingkan sebelum krisis 2008, yaitu 4%-5%.AS juga masih dipenuhi kabar mendung. Seperti angka pengangguran 7,9% dan utang membengkak. Jerman masih menyandang outlook status kredit negatif. Pandangan negatif juga meliputi Eropa dan Amerika Latin. "PMI membaik bisa sesuatu yang positif, tapi bukan berarti semua membaik dalam sekejap," kata Harry. Prediksi ekonom dan bank sentral, krisis memakan waktu 5 tahun-8 tahun.Baik Harry maupun Eric sepakat, perekonomian Indonesia memiliki benteng cukup baik, karena tak terlalu tergantung pada ekonomi dunia dan mengandalkan belanja konsumsi dalam negeri. "Perbaikan ekonomi global menjadi bonus bagi negara kita," kata Eric. Dengan peningkatan kembali ekonomi global, permintaan ekspor Indonesia kembali meningkat. Perkiraan dia, ekonomi Indonesia tahun ini tumbuh 6,5%, sementara tahun lalu 6,3%. Dengan catatan, inflasi dan daya beli masyarakat terus terjaga. Tantangan tahun ini masih terletak di krisis Eropa.Tapi, berdasarkan survei Ipsos, setengah dari responden Indonesia pesimistis dengan ekonomi nasional. Menurut survei itu, enam bulan mendatang perekonomian Indonesia tidak akan banyak berubah dibandingkan saat ini.  Apalagi, tahun 2013 adalah tahun terakhir sebelum Pemilu 2014.