KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah pakar gizi menegaskan bahwa pangan olahan tidak bisa begitu saja dicap berbahaya hanya karena mengandung bahan tambahan atau diproses secara industri. Pasalnya, berbahaya tidaknya akan tergantung pada jenis bahan, dosis, tingkat paparan, kandungan gizi, dan pola konsumsinya. Oleh karena itu, masyarakat disebut perlu berhenti menilai pangan hanya dari nama bahan atau klaim yang viral di media sosial. Penilaian harus berpijak pada bukti ilmiah, sementara konsumsi tetap perlu dilakukan secara secukupnya dan seimbang. Seperti diketahui, baru-baru ini muncul informasi berantai dan sejumlah konten di sosial media tentang anggapan bahaya makan sosis. Informasi ini tentu saja bisa menyesatkan jika tidak dilengkapi dengan konteks masalahnya. Padahal, industri makanan olahan memiliki pangsa pasar yang sangat besar dengan rekam jejak yang panjang dan kredibel.
Pangan Olahan Tak Bisa Asal Dicap Berbahaya
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah pakar gizi menegaskan bahwa pangan olahan tidak bisa begitu saja dicap berbahaya hanya karena mengandung bahan tambahan atau diproses secara industri. Pasalnya, berbahaya tidaknya akan tergantung pada jenis bahan, dosis, tingkat paparan, kandungan gizi, dan pola konsumsinya. Oleh karena itu, masyarakat disebut perlu berhenti menilai pangan hanya dari nama bahan atau klaim yang viral di media sosial. Penilaian harus berpijak pada bukti ilmiah, sementara konsumsi tetap perlu dilakukan secara secukupnya dan seimbang. Seperti diketahui, baru-baru ini muncul informasi berantai dan sejumlah konten di sosial media tentang anggapan bahaya makan sosis. Informasi ini tentu saja bisa menyesatkan jika tidak dilengkapi dengan konteks masalahnya. Padahal, industri makanan olahan memiliki pangsa pasar yang sangat besar dengan rekam jejak yang panjang dan kredibel.