Pangkalan Militer AS-Inggris Diego Garcia Diserang Iran, Pangkalan Siprus Dibatalkan
Minggu, 22 Maret 2026 00:12 WIB
Oleh: Syamsul Ashar | Editor: Syamsul Azhar
NICOSIA, - Ketegangan Iran vs Barat makin panas! Setelah laporan Iran menembakkan rudal ke pangkalan militer Diego Garcia, kini muncul pernyataan penting dari Inggris: basis militernya di Siprus tidak akan digunakan untuk serangan. Apa artinya ini? Apakah Barat mulai menahan diri? Sebelumnya, Wall Street Journal melaporkan Iran menembakkan dua rudal balistik jarak menengah ke arah Diego Garcia, pangkalan militer strategis milik Amerika Serikat dan Inggris di Samudra Hindia. Namun serangan itu tidak berhasil. Satu rudal dilaporkan gagal di udara, sementara satu lainnya direspons oleh kapal perang AS menggunakan sistem interceptor SM-3. Hingga kini, belum ada kepastian apakah rudal tersebut benar-benar berhasil dicegat.
Baca Juga: AS Pertimbangkan Redam Perang Iran, Fasilitas Nuklir Natanz Diserang Di tengah situasi ini, muncul perkembangan baru dari Inggris. Pemerintah Inggris menegaskan bahwa mereka tidak akan menggunakan basis militernya di Siprus untuk operasi militer ofensif dalam krisis Iran saat ini. Pernyataan ini disampaikan setelah percakapan antara Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan Presiden Siprus Nikos Christodoulides. Dalam pernyataan resmi pemerintah Siprus, ditegaskan bahwa keamanan Siprus adalah hal fundamental bagi Inggris. Bahkan, Inggris disebut telah meningkatkan berbagai langkah pencegahan untuk menjaga stabilitas di wilayah tersebut.
Donald Trump Tegaskan Tidak Ada Gencatan Senjata! Iran Sudah Hancur
Yang paling penting, Inggris secara eksplisit menegaskan: pangkalan militernya di Siprus tidak akan digunakan untuk operasi militer ofensif. Sebagai konteks, Inggris memang memiliki dua pangkalan militer di Siprus sejak negara itu merdeka pada tahun 1960. Salah satu yang paling dikenal adalah RAF Akrotiri, yang selama ini menjadi titik penting operasi militer Inggris di kawasan Timur Tengah. Menariknya, pangkalan ini sempat mengalami insiden keamanan. Pada 2 Maret lalu, sebuah drone tipe Shahed—yang identik dengan teknologi militer Iran—menghantam fasilitas di Akrotiri dan menyebabkan kerusakan ringan. Dua drone lainnya berhasil dicegat, dan sejak saat itu tidak ada insiden lanjutan yang dilaporkan.
Tonton: PRESIDEN PRABOWO SUBIANTO GELAR OPEN HOUSE DI ISTANA NEGARA Pernyataan Inggris ini bisa dibaca sebagai sinyal deeskalasi. Di satu sisi, Iran menunjukkan kemampuan militernya dengan meluncurkan rudal balistik. Namun di sisi lain, Inggris tampak berhati-hati agar tidak memperluas konflik. Langkah ini penting, karena penggunaan basis militer di Siprus bisa memperluas medan konflik ke wilayah Mediterania Timur. Jika itu terjadi, dampaknya bisa jauh lebih besar, mulai dari ketegangan militer hingga gangguan stabilitas kawasan. Sementara itu, serangan rudal ke Diego Garcia tetap menjadi alarm serius. Meski gagal, ini menunjukkan bahwa target strategis Barat kini berada dalam jangkauan ancaman.