Pangsa khalayak MNCN menjadi nomor satu



JAKARTA. PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) berhasil menduduki porsi khalayak alias audience share  tertinggi di antara pesaing sepanjang 2014. Namun, para analis masih menilai pertumbuhan bisnis media masih melambat seiring dengan keadaan makro ekonomi Indonesia yang belum stabil.

Rizki Hidayat Analis Mandiri Sekuritas dalam risetnya pada 6 Januari 2015 memaparkan, Desember 2014 raihan audiance share MNCN 34,1%. Persentase itu naik 170 basis poin (bps) dari bulan sebelumnya. "Di sepanjang tahun lalu, MNCN juga berhasil menjaga tahtanya sebagai peraih audience share terbesar meraih 30,9%," tulis dia.

Walaupun masih menduduki peringkat atas, hasil tersebut menurun 530 bps dari tahun 2013. Menurut Rizki, hal itu terjadi karena meningkatnya persaingan dengan para pesaingnya seperti  PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) dan PT Visi Media Asia Tbk (VIVA).


Dimana, audience share SCMA 29,1% naik 400 bps year on year (yoy) dan VIVA naik 510 bps yoy menjadi 16,5%. Sementara Trans Grup turun 460 bps menjadi 19,1% yoy.

Rizki menjelaskan, kenaikan audience share MNCN itu dibantu kenaikan di jam tayang utama alias prime time (19.00-22.00). Kala itu, MNC TV menayangkan semi-final dan final pertandingan sepak bola AFF Suzuki Cup 2014.

Pasalnya, pendapatan iklan pada jam prime time berkontribusi 60% dari total pendapatan. Analis Ciptadana Securities Hasan menilai, harga iklan prime time MNCN paling mahal. Dia juga menambahkan, torehan peringkat porsi khalayak MNCN berpeluang meningkatkan harga per slot iklannya. "Iklan per slot MNCN (Gabungan dari RCTI, MNC TV, dan Global) dapat naik 15%," proyeksi dia.

Sedangkan di luar jam tayang utama atawa non prime time, MNCN memiliki pangsa pasar 35,6% di Desember 2014. Ini berasal dari, tayangan kartun anak-anak miliki MNC TV Adit & Sopo Jarwo.

Melambat

Untuk tahun ini, Hasan memproyeksikan, pertumbuhan bisnis industri media masih akan melambat. Ini karena keadaan ekonomi Indonesia belum stabil. Sehingga perusahaan konsumer cenderung menahan diri saat memasang iklan di televisi. Apalagi 70% iklan MNCN mayoritas dari perusahaan konsumer.

Nah, untuk menyiasati, MNCN akan menerima slot iklan di dua stasiun lainnya yakni, Sindo Channel dan MNC Channel. "Sebelumnya di dua stasiun ini tak ada iklan," jelas Hasan. Meski harga per slotnya lebih murah, alternatif ini dinilai bisa membantu kinerja MNCN.

MNCN juga akan menghadapi tantangan lain dari melemahnya rupiah terhadap dollar Amerika Serikat. Sebab selama ini, MNCN masih mengandalkan acara asing untuk menggaet penonton. Seperti Global TV dengan film Hollywood.

Hasan memperkirakan, di tahun ini MNCN akan mengantongi pendapatan Rp 8,4 triliun naik dari proyeksi tahun 2014 Rp 7,4 triliun. Sedangkan laba bersih diproyeksi Rp 2,1 triliun di 2015 dan Rp 1,85 triliun di 2014

William Surya Wijaya, Analis Asjaya Indosurya Securities dan Hasan merekomendasikan, hold dengan target di Rp 2.800 dan Rp 2.490. Sedangkan Rizki merekomendasikan beli di Rp 3.500. Kamis (8/1) harga MNCN naik 0,19% ke Rp 2.645.     

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Avanty Nurdiana