Pangsa Pasar Otomotif Astra (ASII) Tergerus di Awal Tahun 2026, Ini Penyebabnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Astra International Tbk (ASII) menguasai hampir separuh total pangsa pasar otomotif nasional hingga akhir kuartal I-2026.

Berdasarkan pada laporan penjualan mobil yang dirilis Jumat (10/4/2026), ASII mencatatkan penjualan sebanyak 101.613 unit sepanjang tiga bulan pertama 2026, atau setara dengan 49% dari total pasar otomotif domestik

Meski demikian, capaian tersebut menunjukkan penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada kuartal I-2025, Astra masih menguasai 54% pangsa pasar dengan total penjualan mencapai 110.812 unit.


Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan mengatakan penurunan pangsa pasar dari 54% ke 49% bukan hanya soal angka, melainkan refleksi dari perubahan struktur pasar.

Baca Juga: Minta Restu RUPS, Sinergi Inti Andalan (INET) Investasi di Sarana Global Indonesia

Secara rinci, David bilang ada beberapa penyebab perubahan kondisi pasar otomotif. Pertama, gempuran kendaraan listrik (EV) asal China semakin terasa. Sejumlah produsen seperti BYD, Wuling Motors, dan GAC Aion tampil agresif dengan menawarkan teknologi canggih serta harga yang kompetitif.

"Strategi ini berhasil menarik minat konsumen yang sebelumnya loyal terhadap merek Jepang di bawah grup Astra," kata David kepada Kontan, Senin (10/4/2026).

Kedua, terjadi perubahan preferensi konsumen. Masyarakat kini mulai beralih dari kendaraan konvensional (Internal Combustion Engine) ke kendaraan yang lebih hemat biaya operasional. Di sisi lain, portofolio kendaraan listrik murni milik Astra masih relatif terbatas jika dibandingkan dengan para pesaing yang telah membangun ekosistem EV lebih lengkap.

Ketiga, tekanan faktor eksternal turut memengaruhi. Suku bunga yang masih tinggi serta nilai tukar rupiah yang berada di kisaran Rp17.000 per dolar AS menahan daya beli, terutama bagi konsumen kelas menengah yang mengandalkan pembiayaan kredit. 

"Dalam situasi ini, kompetitor di luar Astra cenderung lebih agresif menawarkan promo maupun subsidi bunga demi merebut pangsa pasar," tambahnya.

Lebih lanjut, David memperkirakan, kinerja ASII hingga akhir tahun akan diwarnai dinamika antara faktor pendorong dan penekan.

Dari sisi positif, peluncuran model hybrid dan EV baru sepanjang sisa tahun 2026 berpotensi menjadi katalis. Selain itu, kekuatan jaringan purna jual Astra yang luas masih menjadi keunggulan kompetitif yang sulit ditandingi pemain baru. 

 
ASII Chart by TradingView

Kemudian, jika tren penurunan suku bunga benar-benar terjadi pada akhir tahun, Astra dinilai berpeluang pulih lebih cepat berkat dukungan ekosistem pembiayaan yang solid melalui ACC dan TAF.

Namun demikian, terdapat sejumlah risiko yang perlu dicermati. Persaingan harga yang semakin ketat dari produsen China berpotensi menekan margin. 

Di sisi lain, apabila harga minyak dunia gagal turun misalnya akibat kegagalan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran, maka kendaraan listrik akan tetap terlihat lebih ekonomis dibandingkan mobil berbahan bakar bensin, sehingga dapat menjadi tekanan tambahan bagi Astra.

Jika ditelisik lebih lanjut, penurunan pangsa pasar secara kuartalan ini sejalan dengan pelemahan penjualan di hampir seluruh segmen.

Pada segmen Toyota dan Lexus, total penjualan tercatat 60.770 unit hingga kuartal I-2026, turun dari 69.296 unit pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca Juga: IHSG Naik 0,46% ke 7.492 Sesi I Senin (13/4): Saham BRPT, MEDC, EMTK Jadi Top Gainers

Kemudian, Daihatsu mencatatkan penjualan sebesar 34.881 unit, sedikit lebih rendah dibandingkan capaian kuartal I-2025 yang sebesar 34.999 unit.

Di segmen kendaraan niaga, Isuzu membukukan penjualan 5.781 unit, menurun dari 5.911 unit pada periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, penurunan paling tajam terjadi pada UD Trucks. Penjualannya merosot dari 606 unit pada kuartal I-2025 menjadi hanya 181 unit pada awal 2026.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News