KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Astra International Tbk (ASII) menguasai hampir separuh dari total pangsa pasar otomotif nasional hingga akhir kuartal I-2026. Berdasarkan pada laporan penjualan mobil yang dirilis Jumat (10/4/2026), ASII mencatatkan penjualan sebanyak 101.613 unit sepanjang tiga bulan pertama 2026, atau setara dengan 49% dari total pasar otomotif domestik. Capaian tersebut menunjukkan penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada kuartal I-2025, Astra masih menguasai 54% pangsa pasar dengan total penjualan mencapai 110.812 unit.
Baca Juga: Rupiah Ditutup Melemah Tipis ke Rp 17.105 Per Dolar AS Hari Ini (13/4), Asia Turun Head of Corporate Communications Astra Windy Riswantyo mengatakan pergerakan pangsa pasar dipengaruhi oleh dinamika industri otomotif secara keseluruhan, termasuk penyesuaian permintaan di beberapa segmen, khususnya entry level, seiring dengan pelemahan daya beli masyarakat kelas menengah di Indonesia. Namun di tengah dinamika pasar otomotif nasional, Astra tetap berkomitmen untuk mempertahankan kepemimpinan pasar otomotif yang didukung berbagai jenama mobil Grup Astra, jaringan penjualan dan layanan yang luas di seluruh Indonesia, serta ketersediaan solusi pembiayaan. “Astra akan terus berkomitmen untuk meluncurkan produk, teknologi dan layanan yang sesuai dengan kebutuhan dan minat pelanggan yang bervariasi,” kata Windy kepada Kontan, Senin (13/4/2026). Secara terpisah,
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan mengatakan penurunan pangsa pasar dari 54% ke 49% bukan hanya soal angka, melainkan refleksi dari perubahan struktur pasar. David merinci ada beberapa penyebab perubahan kondisi pasar otomotif.
Pertama, gempuran kendaraan listrik (EV) asal China semakin terasa. Sejumlah produsen seperti BYD, Wuling Motors, dan GAC Aion tampil agresif dengan menawarkan teknologi canggih serta harga yang kompetitif. "Strategi ini berhasil menarik minat konsumen yang sebelumnya loyal terhadap merek Jepang di bawah grup Astra," kata David kepada Kontan, Senin (10/4/2026).
Kedua, terjadi perubahan preferensi konsumen. Masyarakat kini mulai beralih dari kendaraan konvensional (Internal Combustion Engine) ke kendaraan yang lebih hemat biaya operasional. Di sisi lain, portofolio kendaraan listrik murni milik Astra masih relatif terbatas jika dibandingkan dengan para pesaing yang telah membangun ekosistem EV lebih lengkap.
Baca Juga: Eskalasi Timur Tengah Picu Aset Safe Haven, Rupiah Masih Rentan Melemah Ketiga, tekanan faktor eksternal turut memengaruhi. Suku bunga yang masih tinggi serta nilai tukar rupiah yang berada di kisaran Rp17.000 per dolar AS menahan daya beli, terutama bagi konsumen kelas menengah yang mengandalkan pembiayaan kredit. "Dalam situasi ini, kompetitor di luar Astra cenderung lebih agresif menawarkan promo maupun subsidi bunga demi merebut pangsa pasar," tambahnya. Lebih lanjut, David memperkirakan, kinerja ASII hingga akhir tahun akan diwarnai dinamika antara faktor pendorong dan penekan. Dari sisi positif, peluncuran model
hybrid dan EV baru sepanjang sisa tahun 2026 berpotensi menjadi katalis. Selain itu, kekuatan jaringan purna jual Astra yang luas masih menjadi keunggulan kompetitif yang sulit ditandingi pemain baru. Kemudian, jika tren penurunan suku bunga benar-benar terjadi pada akhir tahun, Astra dinilai berpeluang pulih lebih cepat berkat dukungan ekosistem pembiayaan yang solid melalui ACC dan TAF. Namun demikian, terdapat sejumlah risiko yang perlu dicermati. Persaingan harga yang semakin ketat dari produsen China berpotensi menekan margin. Di sisi lain, apabila harga minyak dunia gagal turun misalnya akibat kegagalan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran, maka kendaraan listrik akan tetap terlihat lebih ekonomis dibandingkan mobil berbahan bakar bensin, sehingga dapat menjadi tekanan tambahan bagi Astra. Jika ditelisik lebih lanjut, penurunan pangsa pasar secara kuartalan ini sejalan dengan pelemahan penjualan di hampir seluruh segmen. Pada segmen Toyota dan Lexus, total penjualan tercatat 60.770 unit hingga kuartal I-2026, turun dari 69.296 unit pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kemudian, Daihatsu mencatatkan penjualan sebesar 34.881 unit, sedikit lebih rendah dibandingkan capaian kuartal I-2025 yang sebesar 34.999 unit. Di segmen kendaraan niaga, Isuzu membukukan penjualan 5.781 unit, menurun dari 5.911 unit pada periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, penurunan paling tajam terjadi pada UD Trucks. Penjualannya merosot dari 606 unit pada kuartal I-2025 menjadi hanya 181 unit pada awal 2026. Dari sisi teknikal,
Head of Research Retail MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mencermati pergerakan ASII masih berada di fase
downtrend dalam jangka menengah, meskipun masih berada di atas MA20.
“Volume yang ada cenderung mengecil, demikian pula MACD yang melandai. Cermati
Stochastic yang
deadcross di
area netral,” ujar Herditya. Herditya merekomendasikan
speculative buy saham ASII di target harga Rp 6.500-Rp6.800. Level
support berada di posisi Rp 6.025 dan
resistance Rp 6.350.
Baca Juga: Setor Modal Rp 18,75 Miliar, Prima Andalan Mandiri (MCOL) Kembangkan Usaha Baru Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News