KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Unilever Indonesia Tbk (
UNVR) mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan kinerja setelah menghadapi tekanan pangsa pasar dalam beberapa tahun terakhir. Pada kuartal II 2026, pangsa pasar perusahaan ini meningkat baik secara nilai maupun volume, sekaligus menjadi kenaikan pertama secara kuartalan sejak 2024. Analis CGS International Sekuritas Baruna Arkasatyo dalam riset 29 Juli 2026 mencatat, pangsa pasar Unilever Indonesia pada kuartal II 2026 mencapai 30,8% berdasarkan nilai dan 27% berdasarkan volume. Angka tersebut meningkat dari masing-masing 30,6% dan 26,3% pada kuartal I-2026. Perbaikan pangsa pasar tersebut terjadi di tengah pertumbuhan volume penjualan yang cukup kuat. Penjualan Unilever Indonesia pada kuartal II 2026 mencapai Rp 8,5 triliun, tumbuh 12% secara tahunan, sementara volume penjualan meningkat lebih tinggi sebesar 12,7% year-on-year (yoy).
Baca Juga: BRI MI Siap Meluncurkan Reksadana ETF Emas Syariah XDES pada 10 Agustus “Pertumbuhan penjualan yang didorong oleh peningkatan volume serta perluasan pangsa pasar berdasarkan nilai,” ujar Baruna dalam riset. Menurut Baruna, kinerja penjualan pada semester I-2026 masih sejalan dengan ekspektasi. Penjualan enam bulan pertama tahun ini telah mencapai sekitar 50% dari proyeksi setahun penuh CGS International Sekuritas dan 51% dari konsensus Bloomberg. Dari sisi segmen, pertumbuhan terutama ditopang oleh bisnis home and personal care (HPC). Penjualan segmen tersebut tumbuh 12% yoy pada kuartal II 2026. Sementara itu, penjualan segmen food and refreshments (FR) meningkat 7% yoy. Manajemen Unilever Indonesia menargetkan pertumbuhan penjualan perusahaan dapat melampaui pertumbuhan pasar. Untuk mencapai target tersebut, perusahaan memperkuat keunggulan merek, memperluas cakupan distribusi, serta meningkatkan penetrasi pasar. Baruna menilai strategi tersebut mulai memberikan hasil, terutama terlihat dari peningkatan pangsa pasar pada kuartal II 2026. Di sisi lain, pertumbuhan harga dan volume diperkirakan menjadi lebih seimbang pada paruh kedua tahun ini. Hal tersebut didorong oleh kenaikan harga yang mulai diterapkan Unilever Indonesia pada Juni 2026. “Pertumbuhan harga dan volume diperkirakan akan lebih seimbang pada paruh kedua 2026, seiring kenaikan harga yang diterapkan pada Juni 2026 mulai memberikan dampak,” tulis Baruna. Secara kumulatif, laba bersih inti (core NPAT) Unilever Indonesia pada semester I 2026 mencapai Rp 2,1 triliun, tumbuh 10% yoy. Capaian tersebut setara dengan 51% dari estimasi CGS International Sekuritas dan 50% dari konsensus Bloomberg untuk tahun penuh 2026.
Margin Masih Tertekan
Meski pertumbuhan penjualan dan pangsa pasar mulai membaik, tekanan biaya masih menjadi tantangan bagi kinerja Unilever Indonesia.
Baca Juga: BEI Targetkan Lima Manajer Investasi Garap ETF Emas Tahap Awal Gross profit margin (GPM) pada kuartal II 2026 turun menjadi 45,0%, atau melemah 3,2 poin persentase dibandingkan kuartal sebelumnya maupun periode yang sama tahun lalu. Baruna menyebut penurunan margin terutama disebabkan oleh tekanan inflasi biaya bahan baku. Harga crude palm oil (CPO), bahan kemasan, dan surfaktan mengalami kenaikan. Selain itu, UNVR masih menghadapi biaya transformasi yang tinggi, terutama terkait optimalisasi rantai pasok dan distribusi. Namun, tekanan tersebut diperkirakan mulai mereda pada semester II 2026. Baruna memperkirakan margin laba kotor Unilever Indonesia dapat meningkat dari 46,6% pada semester I 2026 menjadi 48,6% pada semester II 2026. Perbaikan tersebut diperkirakan berasal dari penurunan biaya transformasi serta dampak kenaikan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP). Dalam analyst call pada 28 Juli 2026, manajemen Unilever Indonesia menyampaikan bahwa biaya transformasi sepanjang 2026 diperkirakan 30%-40% lebih rendah dibandingkan 2025. Kendati mempertahankan pandangan positif terhadap perbaikan operasional, CGS International Sekuritas melakukan sejumlah penyesuaian terhadap proyeksi kinerja Unilever Indonesia. Analis memangkas proyeksi non-core earnings per share (EPS) 2026 sebesar 2%, terutama karena estimasi nilai bersih dari divestasi bisnis teh lebih rendah dari perkiraan sebelumnya. Asumsi GPM 2026 juga diturunkan dari 48,3% menjadi 47,6% akibat biaya input yang lebih tinggi. Sementara itu, estimasi EPS 2027-2028 hanya disesuaikan turun 1%. Penyesuaian tersebut mempertimbangkan prospek pertumbuhan penjualan segmen HPC yang kini diperkirakan mencapai 7% yoy, naik dari proyeksi sebelumnya sebesar 6%, seiring dengan semakin luasnya cakupan distribusi.
Baca Juga: Rupiah Berpeluang Lanjut Menguat Pekan Depan, Simak Proyeksinya Terlepas dari penyesuaian proyeksi tersebut, CGS International Sekuritas mempertahankan rekomendasi Add untuk saham UNVR. Baruna menilai berbagai inisiatif operasional UNVR berpotensi mendorong perbaikan kinerja secara bertahap. Beberapa di antaranya adalah ekspansi distribusi, transformasi digital, optimalisasi persediaan, serta stabilisasi harga. Langkah-langkah tersebut dinilai dapat mendukung peningkatan pangsa pasar sekaligus pertumbuhan volume penjualan. Namun, CGS International Sekuritas menurunkan target harga saham UNVR berbasis discounted cash flow (DCF) menjadi Rp 2.040 per saham. Penurunan tersebut terutama disebabkan kenaikan asumsi weighted average cost of capital (WACC) dari 9,3% menjadi 10,4%. Harga saham UNVR naik 0,83% di Rp 1.820 per saham pada Jumat (7/8/2026). Dalam lima hari saham UNVR naik 3,41%. Kenaikan WACC tersebut dipicu oleh peningkatan asumsi tingkat bebas risiko (risk-free rate) menjadi 7,1% dari sebelumnya 6,0%, sejalan dengan meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun. Menurut Baruna, terdapat sejumlah katalis yang dapat mendorong re-rating saham UNVR. Dua faktor utama yang perlu diperhatikan adalah berlanjutnya perbaikan pangsa pasar pada semester II 2026 serta peningkatan disiplin fiskal perusahaan.
Namun, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko. Risiko tersebut mencakup kembali meningkatnya biaya input, tekanan permintaan akibat persaingan yang semakin ketat dan melemahnya daya beli masyarakat, serta risiko eksekusi terkait pemisahan segmen food and refreshments (FR). Dengan demikian, perbaikan pangsa pasar pada kuartal II 2026 menjadi sinyal awal yang positif bagi Unilever Indonesia. Tantangan berikutnya adalah mempertahankan momentum tersebut sekaligus mengembalikan tekanan margin ke level yang lebih sehat pada paruh kedua 2026.
Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini Stagnan di Level Rp 2.690.000 Per Gram pada Minggu (9/8) Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News