KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan rencana menggelar Penambahan Modal Tanpa Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) alias
private placement.
Pertama, PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (
PANI) berencana untuk melakukan PMTHMETD tahap IV. PANI akan menerbitkan saham baru sebanyak 72.476.600 saham dengan nilai nominal Rp100 per saham. Dengan demikian, jumlah saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh dalam perseroan akan meningkat dari semula sebanyak 18.117.025.598 saham menjadi 18.189.502.198 saham setelah pelaksanaan PMTHMETD IV.
Baca Juga: Antam (ANTM) Diproyeksi Catat Kinerja Terkuat Kuartal III-2026, Didukung Emas & Nikel Seluruh saham baru tersebut akan diambil bagian oleh pemodal, yakni PT Victoria Jaya Abadi dan Providentia Wealth Management Ltd. PMTHMETD IV akan dilakukan dengan harga pelaksanaan Rp 6.875 per lembar saham. Melalui penanaman modal ini, PANI memiliki keyakinan bahwa dapat segera memperoleh dana hasil pelaksanaan PMTHMETD IV yang dapat langsung digunakan untuk merealisasikan rencana bisnis sesuai dengan target penggunaan dana. “Khususnya, untuk memperkuat struktur permodalan dan menunjang kelangsungan kegiatan usaha entitas anak, yaitu PT Panorama Eka Tunggal dan PT Karunia Utama Selaras,” ujar direksi PANI dalam keterbukaan informasi.
Kedua, PT Waskita Beton Precast Tbk (
WSBP) yang berencana untuk melakukan
private placement tahap VI. Direktur Keuangan, HCM, dan Manajemen Risiko WSBP, Koento Wahyudiat mengatakan, perusahaan akan melaksanakan PMTHMETD dengan melaksanakan konversi utang para kreditur sebagai pelaksanaan atas Perjanjian Perdamaian yang telah disahkan (homologasi). Lembar saham yang akan diterbitkan pada PMTHMETD Tahap VI ini senilai 178,68 juta saham biasa. Nilai nominal per saham sebesar Rp 50.
Baca Juga: Pasca Kenaikan BI-Rate Yield SBN Mulai Melandai, Ini Pemicunya Ketiga, PT MNC Tourism Indonesia Tbk (
KPIG) akan menerbitkan sebanyak 7,45 miliar saham baru dengan nilai nominal dan harga pelaksanaan masing-masing Rp100 per saham. Dengan jumlah saham yang diterbitkan tersebut, KPIG berpotensi memperoleh dana sebesar Rp745,53 miliar. Dana hasil aksi korporasi ini direncanakan untuk memperkuat posisi keuangan perusahaan sekaligus mendukung berbagai rencana pengembangan usaha. Sebelum aksi korporasi dilaksanakan, jumlah saham ditempatkan dan disetor penuh KPIG tercatat sebanyak 99,86 miliar saham. Setelah penerbitan saham baru sebanyak 7,45 miliar saham, jumlah saham perusahaan ini akan meningkat menjadi 107,31 miliar saham.
Keempat, PT Wira Global Solusi Tbk (
WGSH) akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 208,5 juta saham baru dengan nilai nominal Rp20 per saham. Harga pelaksanaan PMTHMETD akan ditetapkan paling sedikit sebesar 90 persen dari rata-rata harga penutupan saham Perseroan selama 25 hari bursa berturut-turut di Pasar Reguler sebelum pelaksanaan transaksi. Dana yang diperoleh dari aksi
private placement tersebut akan digunakan untuk memperkuat modal kerja WGSH guna mendukung kegiatan operasional dan pengembangan usaha.
Baca Juga: Pasca Kenaikan BI-Rate Yield SBN Mulai Melandai, Ini Pemicunya Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand melihat, jumlah private placement KPIG menjadi yang paling besar dengan target dana yang dihimpun Rp745,5 miliar untuk ekspansi pariwisata dan properti MNC Group. Namun, aksi korporasi PANI yang paling kredibel dengan Rp498 miliar yang seluruhnya diserap dua investor non-afiliasi, yaitu PT Victoria Jaya Abadi dan Providentia Wealth Management Ltd dari Singapura. “Kepastian
standby buyer PANI menjadikannya paling berpotensi terserap maksimal di kondisi pasar saat ini,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (17/6/2026). Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Arinda Izzaty mengatakan, dari empat emiten tersebut, PANI paling menarik karena nilai
private placement cukup besar dan sudah memiliki investor pembeli yang jelas, sehingga berpeluang tinggi untuk terserap secara penuh. “Dana yang diperoleh juga berpotensi langsung mendukung ekspansi dan memperkuat kinerja ke depan,” katanya kepada Kontan, Rabu (17/6/2026). Sementara, WSBP lebih berfokus pada konversi utang sehingga dampaknya lebih ke perbaikan neraca dibanding pertumbuhan bisnis. ”WGSH berpotensi mendapat tambahan modal untuk ekspansi, tetapi belum ada investor strategis yang diumumkan,” katanya.
Baca Juga: Menanti Putusan MSCI, BI hingga S&P, Pasar Keuangan Indonesia Berpotensi Volatil Senior
Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta mengatakan, private placement yang paling kredibilitas adalah PANI, karena sudah ada
standby buyer. “Untuk WSBP dan KPIG itu perlu dicermati
track record penyerapannya. Saham yang diterbitkan KPIG juga sangat besar, sehingga ada risiko delusi yang lebih tinggi,” ujarnya kepada Kontan, Rabu. Abida melihat, kinerja PANI didukung katalis Tol KATARAJA yang diperkirakan rampung akhir 2026 sehingga membuka aksesibilitas kawasan PIK 2. Selain itu, free float saham PANI sudah 15,91% mendukung kualitas perdagangan. Kemudian, KPIG solid didukung pemulihan pariwisata dan ekosistem MNC yang terintegrasi. “WSBP juga diuntungkan akselerasi proyek infrastruktur pemerintah semester II 2026,” katanya. Arinda bilang, untuk semester II 2026, PANI memiliki prospek fundamental dan saham terbaik berkat pertumbuhan bisnis properti PIK 2 yang masih kuat. KPIG berada di posisi kedua dengan katalis dari pengembangan KEK Lido, meskipun manfaatnya lebih jangka menengah. Kemudian, WGSH menawarkan potensi pertumbuhan tinggi, tetapi risikonya juga lebih besar karena skala bisnis masih kecil. Lalu, WSBP berpotensi membaik setelah restrukturisasi utang, namun pertumbuhannya masih bergantung pada pemulihan sektor infrastruktur. “Sentimen positif utama berasal dari ekspansi bisnis dan perbaikan struktur modal, sedangkan sentimen negatifnya meliputi risiko dilusi, perlambatan ekonomi, dan tekanan suku bunga,” ungkapnya. Nafan menambahkan, PANI juga memiliki bisnis yang prospektif dari sisi operasional lantaran punya
landbank luas dan
marketing sales yang tinggi.
Baca Juga: Merdeka Gold Resources (EMAS) Siapkan Dual Listing di Hong Kong, Simak Rekomendasinya “PANI juga kuat di sektor properti premium. Risiko tertinggi dari suku bunga tinggi,” katanya. Nafan pun merekomendasikan
speculative buy untuk WGSH dengan target harga Rp141 per saham. Rekomendasi
add juga disematkan Nafan untuk PANI dengan target harga Rp 7.425 per saham. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News