Para Pemimpin Asia Tenggara Cari Strategi untuk Meredam Dampak Perang di Iran



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Para pemimpin negara-negara Asia Tenggara yang tergabung dalam Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) diperkirakan akan merumuskan respons terkoordinasi terhadap dampak krisis di Timur Tengah dalam pertemuan tingkat tinggi di Cebu, Filipina, pada Jumat (8/5/2026).

ini diambil di tengah tekanan terhadap ekonomi kawasan yang sangat bergantung pada impor energi.

Krisis yang dipicu ketegangan di Timur Tengah, termasuk gangguan pada jalur perdagangan strategis Selat Hormuz, telah menimbulkan kekhawatiran akan potensi guncangan pasokan minyak dan gas global. Kondisi ini turut meningkatkan risiko bagi negara-negara ASEAN yang tengah menghadapi tekanan inflasi energi.


Dalam sambutan pembukaan sebagai Ketua ASEAN, Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr menegaskan pentingnya solidaritas kawasan dalam menghadapi ketidakpastian global.

“Kami harus memastikan keamanan dan ketahanan energi regional,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa di tengah volatilitas yang meningkat, ASEAN perlu memperkuat koordinasi, meningkatkan kesiapsiagaan, serta mengambil langkah kolektif yang praktis untuk menjaga stabilitas pasokan energi dan memperkuat konektivitas kawasan.

Baca Juga: Trump Ajak CEO Nvidia hingga Boeing dalam Lawatan ke China

Dorongan Diversifikasi dan Mekanisme Krisis Energi

Dalam pertemuan tingkat menteri ekonomi ASEAN sehari sebelumnya, para pejabat disebut telah mengidentifikasi sejumlah langkah respons praktis untuk menjaga ketahanan energi dan pangan. Namun, usulan tersebut masih belum memuat rincian implementasi yang jelas.

Beberapa opsi yang dibahas mencakup diversifikasi pemasok energi dan jalur distribusi, serta penyusunan protokol komunikasi krisis. Meski demikian, belum ada kesepakatan konkret mengenai tindakan yang akan segera diambil.

ASEAN, yang memiliki populasi hampir 700 juta jiwa dengan nilai ekonomi gabungan mencapai sekitar 3,8 triliun dolar AS, dinilai sangat rentan terhadap dampak konflik di Timur Tengah, khususnya gangguan pasokan energi global.

Filipina, yang menjadi salah satu negara pertama di dunia yang menetapkan status darurat energi, mendorong percepatan kesepakatan kerangka kerja berbagi minyak berbasis komersial di antara negara anggota ASEAN.

Tantangan Koordinasi di Dalam ASEAN

Meski memiliki potensi ekonomi besar, integrasi di dalam ASEAN masih menghadapi tantangan serius. Perbedaan tingkat pembangunan antar negara anggota serta tidak adanya otoritas pusat yang mengikat membuat implementasi kesepakatan kawasan sering berjalan lambat.

Para pemimpin ASEAN juga diperkirakan akan menyerukan penyelesaian damai antara Amerika Serikat dan Iran, serta pembukaan kembali Selat Hormuz yang sebelum konflik terjadi menjadi jalur penting bagi sekitar 130 kapal per hari, serta mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.

Baca Juga: Mata Uang Asia Melemah Jumat (8/5) Pagi, Won Korea Selatan Pimpin Penurunan

Dalam draf pernyataan kerja yang beredar, ASEAN juga mendorong negara-negara anggota untuk segera menyelesaikan proses domestik terkait kesepakatan berbagi bahan bakar, agar dapat segera diberlakukan.

Perkembangan Diplomasi Kawasan

Di luar isu krisis Timur Tengah, pertemuan di Cebu juga mencatat sejumlah kemajuan diplomatik regional. Presiden Marcos menginisiasi pertemuan antara pemimpin Thailand dan Kamboja di tengah gencatan senjata yang rapuh, yang menghasilkan kesepakatan untuk melanjutkan dialog setelah dua kali konflik perbatasan yang mematikan tahun lalu.

Selain itu, para menteri luar negeri ASEAN juga sepakat mengadakan pertemuan virtual dengan perwakilan Myanmar. Negara tersebut tengah berupaya menormalisasi hubungan dengan ASEAN setelah sebelumnya dikenai pembatasan pasca kudeta militer 2021 yang memicu konflik berkepanjangan di dalam negeri.

Krisis politik Myanmar sendiri masih menjadi sumber perpecahan di dalam ASEAN, terutama terkait pendekatan terhadap pemerintahan baru yang dipimpin secara de facto oleh mantan pemimpin militer Min Aung Hlaing, yang baru-baru ini naik sebagai presiden melalui pemilu yang dinilai tidak seimbang.