Paramount Rampungkan Akuisisi Warner Bros US$110 Miliar, Lahir Raksasa Baru Skydance



KONTAN.CO.ID - Paramount Skydance resmi menyelesaikan akuisisi Warner Bros Discovery senilai US$110 miliar pada Selasa (6/10/2026).

Transaksi ini melahirkan perusahaan hiburan raksasa baru bernama Skydance yang akan dipimpin CEO David Ellison.

Merujuk Reuters, kesepakatan tersebut menggabungkan studio yang berada di balik sejumlah waralaba besar seperti Mission: Impossible, Harry Potter dan DC Studios dengan jaringan televisi dan layanan streaming seperti CBS, CNN, Paramount+ dan HBO Max.


Baca Juga: Dolar AS Bertahan Melemah Rabu (7/10) Pagi, Pasar Tunggu Sinyal Suku Bunga The Fed

Penggabungan tersebut menciptakan salah satu perusahaan hiburan dan media terbesar yang mencakup bisnis film, televisi, streaming hingga berita.

Dalam memo kepada karyawan, Ellison mengatakan merger tersebut menjadi peluang untuk membangun perusahaan media dan hiburan generasi baru yang mengandalkan kreativitas dan teknologi.

Menurut dia, tujuan merger bukan sekadar memperbesar skala bisnis, melainkan menghadapi para pemain terbesar di industri hiburan.

Perusahaan baru bernama Skydance ini merupakan kelanjutan dari konglomerasi media yang sebelumnya dikendalikan keluarga mendiang Sumner Redstone.

Konglomerasi tersebut mengalami penyusutan bisnis dalam beberapa tahun terakhir seiring perubahan perilaku konsumen yang semakin beralih ke konten berita dan hiburan dari platform digital, penerbit kecil serta kreator independen.

Skydance kini harus menghadapi persaingan ketat dari Netflix dan Walt Disney, sekaligus perusahaan teknologi seperti Apple, Meta dan Amazon. Perusahaan juga menghadapi ancaman dari perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI).

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik Rabu (7/10), Badai AS dan Serangan Houthi Ancam Pasokan

Ellison menilai, merger tersebut diperlukan agar perusahaan lebih mampu menghadapi persaingan di tengah industri media yang dinilai terlalu lama bertahan dengan model bisnis lama.

"Mereka membiarkan Netflix mengganggu bisnis mereka. Mereka membiarkan Amazon Prime Video masuk dan mengganggu bisnis mereka. Mereka tidak bertransformasi dan terlalu lama bertahan di masa lalu," ujar Ellison kepada wartawan.

Saham perusahaan hasil merger tersebut mulai diperdagangkan di New York Stock Exchange (NYSE) pada Selasa, setelah sebelumnya tercatat di Nasdaq, dengan kode saham "SKYD".

Hadapi Tantangan Industri Media

Penyelesaian merger ini terjadi setelah kesepakatan dengan sejumlah negara bagian AS serta serikat penulis Hollywood menghilangkan hambatan hukum utama terhadap transaksi tersebut. Kesepakatan ini menjadi salah satu merger terbesar dalam sejarah industri media.

Transaksi berlangsung ketika industri Hollywood menghadapi penurunan jumlah pelanggan televisi kabel, tingginya biaya untuk memperebutkan pelanggan layanan streaming serta tekanan berkelanjutan dari serikat pekerja terkait lapangan kerja dan hak pekerja kreatif.

Baca Juga: Harga Emas Spot Stabil Rabu (7/10) Pagi, Pasar Menanti Risalah The Fed

Presiden AS Donald Trump menyatakan dukungannya terhadap merger tersebut. Ketika ditanya mengenai transaksi itu pada Selasa, Trump mengatakan perusahaan baru tersebut akan menjadi perusahaan yang hebat.

Namun, merger juga memunculkan perhatian terhadap independensi bisnis berita, khususnya CNN dan CBS News.

Kepala CNN Mark Thompson dan Pemimpin Redaksi CBS News Bari Weiss tetap menduduki posisi masing-masing dan akan melapor secara terpisah kepada Ellison serta co-CEO Ynon Kreiz.

Struktur tersebut dimaksudkan untuk meredam kekhawatiran bahwa Weiss akan memiliki kendali lebih besar terhadap seluruh operasi berita Skydance.

Kekhawatiran mengenai independensi pemberitaan meningkat setelah sejumlah anggota parlemen mengkritik Ellison terkait dugaan penyesuaian pemberitaan CBS News yang menguntungkan Trump.

Sebagai bagian dari kesepakatan, Ellison setuju membentuk dewan independensi editorial yang akan mengawasi CNN dan CBS. Namun, sejumlah pakar menilai kewenangan dewan tersebut berpotensi terbatas.

Ellison mengatakan, nama Skydance dipilih untuk mempertahankan identitas masing-masing studio Paramount dan Warner Bros, alih-alih menggabungkannya di bawah merek baru.

Baca Juga: Francis Halzen Raih Nobel Fisika 2026, Ungkap Rahasia Kosmos dari Es Antarktika

Skydance sendiri berkembang pesat dalam 16 tahun terakhir. Perusahaan yang didirikan pada 2010 oleh David Ellison, putra salah satu pendiri Oracle Larry Ellison, awalnya dikenal sebagai studio independen dan produser sejumlah film besar Paramount, termasuk Top Gun: Maverick.

Setelah merger dengan Paramount pada tahun lalu, Skydance kemudian mengincar Warner Bros dan terlibat dalam persaingan akuisisi dengan Netflix serta sejumlah calon pembeli lain, termasuk Comcast.

Pemegang saham Warner Bros juga menerima tambahan pembayaran sebesar US$41,9 juta sebagai ticking fee, berdasarkan jumlah hari antara akhir September dan tanggal penyelesaian transaksi.

Target Hemat US$6 Miliar

Dalam struktur manajemen baru, Ellison menunjuk Ynon Kreiz sebagai co-CEO untuk menangani operasional harian dan memimpin proses integrasi. Sementara itu, Ellison akan fokus pada arah kreatif serta strategi perusahaan secara keseluruhan.

Kreiz, yang sebelumnya merupakan CEO Mattel, juga bergabung dalam jajaran dewan direksi Skydance bersama mantan CEO Activision Blizzard Bobby Kotick dan Laurene Powell Jobs, pendiri Emerson Collective sekaligus penerbit The Atlantic. Mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair juga akan bergabung sebagai penasihat perusahaan.

Baca Juga: IEA Akan Memutuskan Rincian Pelepasan Cadangan Diesel Pekan Depan

Penunjukan Kreiz menunjukkan fokus Skydance terhadap efisiensi biaya. Manajemen menghadapi tantangan menggabungkan dua perusahaan besar sekaligus merealisasikan target penghematan US$6 miliar.

Sebagian besar penghematan tersebut ditargetkan berasal dari pos non-tenaga kerja, termasuk integrasi teknologi dan penyedia layanan cloud dari kedua perusahaan. Namun, besarnya pemangkasan biaya diperkirakan tetap berdampak terhadap lapangan kerja di Hollywood.

Skydance juga berencana menggabungkan layanan streaming HBO Max dan Paramount+ menjadi satu layanan. Perusahaan menargetkan produksi sedikitnya 30 film per tahun dari masing-masing studio dalam dua tahun pertama setelah merger, kemudian meningkat menjadi 32 film per tahun.

Perusahaan hasil merger tersebut diperkirakan menanggung utang sekitar US$80 miliar. Kondisi ini memberikan tekanan kepada Ellison untuk meningkatkan bisnis streaming, mempertahankan arus kas dari jaringan televisi kabel dan memperbaiki kinerja film bioskop.

Ellison berkomitmen mengalokasikan sedikitnya US$30 miliar per tahun untuk konten.

Baca Juga: Defisit Perdagangan AS Melebar pada Agustus 2026, Dipicu Lonjakan Impor

Analis MoffettNathanson memperkirakan laba operasional inti atau EBITDA Skydance mencapai US$16 miliar pada 2028 dan meningkat menjadi US$19 miliar pada 2030.

Pendapatan perusahaan diperkirakan mencapai sekitar US$67 miliar pada 2028 dan meningkat menjadi sekitar US$70 miliar pada 2030.

Berdasarkan dokumen regulator, Ellison akan menerima gaji pokok tahunan US$5 juta serta bonus tahunan dengan target US$5 juta.

Ketika ditanya Reuters mengenai strategi untuk meyakinkan Hollywood yang masih skeptis terhadap merger tersebut, Ellison mengatakan dirinya memahami kekhawatiran yang muncul.

Namun, menurut dia, penting untuk melihat persoalan industri media secara lebih luas dan mempertanyakan alternatif yang tersedia bagi perusahaan jika merger tidak dilakukan.