KONTAN.CO.ID - Pertarungan panjang memperebutkan Warner Bros Discovery memasuki babak akhir. Netflix resmi mundur dari proses penawaran setelah menolak menaikkan bid, membuka jalan bagi Paramount Skydance sebagai pemenang utama dalam akuisisi studio legendaris Hollywood tersebut. Netflix menyatakan tetap disiplin dalam strategi akuisisinya. “Pada harga yang dibutuhkan untuk menyamai penawaran terbaru Paramount Skydance, transaksi ini tidak lagi menarik secara finansial,” ujar perusahaan itu dalam pernyataan resmi Kamis (26/2/2026) dilansir dari
Reuters.
Baca Juga: Gelombang PHK Besar-besaran Melanda AS, Ini Daftar 17 Perusahaan yang Terdampak Keputusan mundur ini langsung disambut positif pasar. Saham Netflix melonjak lebih dari 10%, mencerminkan kelegaan investor bahwa perusahaan tidak terjebak dalam perang harga yang dinilai tidak rasional. Sebelumnya, Warner menyebut proposal revisi Paramount senilai US$31 per saham lebih unggul dibanding tawaran Netflix sebesar US$27,75 per saham untuk aset streaming dan studio milik Warner. Dewan direksi Warner kini tinggal meresmikan penghentian kesepakatan dengan Netflix dan mengadopsi perjanjian merger dengan Paramount. CEO Warner David Zaslav menyebut kombinasi Paramount Skydance dan Warner Bros Discovery akan menciptakan nilai besar bagi pemegang saham dan membuka potensi kolaborasi konten global yang masif.
Baca Juga: AS–Iran Catat Kemajuan Terkait Negosiasi Nuklir, Putaran Lanjutan Segera Digelar Duel Strategis dan “Taruhan” Ellison Sumber internal menyebut penasihat Netflix menyarankan perusahaan mundur karena harga sudah tak masuk akal secara ekonomi. Netflix disebut enggan “bermain chicken” dengan miliarder Larry Ellison, pendiri Oracle dan pendukung utama Paramount Skydance melalui Ellison Trust. Ellison disebut siap membayar premi tinggi demi mengamankan Warner, langkah yang oleh Netflix dinilai terlalu agresif. Paramount bahkan menaikkan termination fee menjadi US$7 miliar (dari US$5,8 miliar) jika kesepakatan gagal akibat hambatan regulasi. Mereka juga sepakat menanggung biaya US$2,8 miliar yang harus dibayar Warner kepada Netflix akibat pembatalan perjanjian awal. Pendanaan jumbo turut disiapkan: Ellison Trust menggelontorkan komitmen ekuitas US$45,7 miliar, sementara pembiayaan utang US$57,5 miliar disediakan oleh konsorsium bank termasuk Bank of America Merrill Lynch, Citi, dan Apollo.
Baca Juga: Negosiasi Nuklir Iran–AS : Ada Kemajuan Signifikan di Jenewa, Ancaman Perang Mereda? Ujian Berat di Meja Regulator Jika merger ini disahkan, industri hiburan global akan berubah drastis. Kombinasi tersebut akan menyatukan dua studio besar Hollywood, dua platform streaming HBO Max dan Paramount+ serta dua raksasa berita, CNN dan CBS. Namun jalan menuju penyelesaian transaksi masih terjal. Kesepakatan ini hampir pasti menghadapi pengawasan antimonopoli di Washington, sejumlah negara asing, dan negara bagian seperti California. Jaksa Agung California Rob Bonta sebelumnya menyatakan akan mencermati ketat baik proposal Netflix maupun Paramount. Sejumlah senator Demokrat seperti Elizabeth Warren, Bernie Sanders, dan Richard Blumenthal juga menyuarakan kekhawatiran potensi favoritisme politik dalam persetujuan merger. Meski demikian, analis menilai peluang persetujuan federal cukup besar dalam iklim politik saat ini, walaupun potensi tantangan dari regulator negara bagian dan Eropa tetap terbuka.
Baca Juga: Perang Dagang Baru AS-China Dimulai? Ini Skenario Terburuk Tarif Win-Win bagi Netflix? Bagi Netflix, mundur justru dipandang sebagai kemenangan disiplin finansial. Alih-alih membayar mahal untuk memperbesar portofolio studio, perusahaan memilih menjaga neraca dan fleksibilitas investasi konten internal. Sementara itu, investor aktivis Ancora Holdings menyebut keputusan Netflix membuka jalan bagi pemegang saham Warner untuk menerima lebih banyak uang tunai dan peluang persetujuan yang lebih realistis. Kini sorotan beralih ke regulator. Jika lolos, merger ini akan menjadi salah satu konsolidasi media terbesar dekade ini dan bisa mengubah peta persaingan streaming global.