Paris dan London Kepanasan, Rumah yang Dirancang Tahan Dingin Kini Jadi Oven



KONTAN.CO.ID - Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa Barat tidak hanya mencetak rekor suhu tertinggi, tetapi juga mengungkap kelemahan desain perumahan di kota-kota seperti Paris dan London yang selama puluhan tahun dibangun untuk mempertahankan panas saat musim dingin, bukan menghalau suhu tinggi.

Di Paris, suhu mencapai rekor 40,9 derajat Celsius pada Rabu (25/6/2026), sementara Inggris mencatat suhu tertinggi sepanjang Juni sebesar 36,7 derajat Celsius pada Kamis (26/6).

Baca Juga: Airbus dan Kawasaki Jajaki Pengembangan Drone Militer Versi Jepang


Kondisi tersebut terjadi di tengah gelombang panas yang telah menewaskan puluhan orang, mengganggu pasokan listrik, serta memaksa penutupan sekolah dan sejumlah destinasi wisata.

Fenomena tersebut juga mulai berdampak pada aktivitas ekonomi. Ulysse Zachary, mahasiswa berusia 21 tahun yang menjalani magang di bidang pemasaran digital, mengaku kesulitan berkonsentrasi bekerja karena apartemen mungilnya di bawah atap seng Paris berubah menjadi seperti "oven" setiap kali matahari bersinar.

"Saat tubuh lelah dan kepanasan, kita merasa sengsara dan tidak bisa bekerja dengan baik. Saya kesulitan berkonsentrasi saat bekerja," ujarnya dilansir Reuters.

Analisis terbaru dari Kantor Wali Kota London menunjukkan sekitar satu juta rumah di ibu kota Inggris berisiko mengalami panas berlebih (overheating), yang dapat berdampak terhadap kesehatan masyarakat, konsumsi energi, hingga produktivitas tenaga kerja.

Baca Juga: Volkswagen Siapkan PHK hingga 100.000 Karyawan, 4 Pabrik di Jerman Terancam Tutup

Para ahli menilai pemerintah tidak memiliki solusi cepat untuk mengatasi persoalan tersebut.

Selain membutuhkan biaya besar untuk merenovasi bangunan lama, penggunaan pendingin ruangan (AC) secara masif juga memicu perdebatan karena meningkatkan konsumsi listrik sekaligus membuang panas ke lingkungan sekitar, sehingga memperparah efek pulau panas perkotaan (urban heat island).

Kepala Hellenic Institute of Passive Building Stefanos Pallantzas mengatakan, hanya sekitar seperempat rumah tangga di Eropa yang memiliki AC.

Angka tersebut jauh di bawah Amerika Serikat dan Jepang yang tingkat kepemilikan AC-nya mencapai sekitar 90%.

Baca Juga: Saudi Aramco Kembali Isi Kapal Tanker dengan Minyak, Siap Ekspor Besar-Besaran

Menurut Profesor Anna Mavrogianni dari University College London, sebagian besar rumah baru di Eropa masih dirancang dengan fokus mempertahankan panas selama musim dingin. Padahal, perubahan iklim membuat gelombang panas semakin sering terjadi sehingga pendekatan tersebut kini menjadi tantangan baru.

Ia menyarankan penggunaan peneduh luar ruangan, ventilasi yang lebih baik, permukaan bangunan yang memantulkan panas, penghijauan kawasan perkotaan, serta desain bangunan yang lebih adaptif terhadap cuaca ekstrem.

"Cara paling efektif adalah mencegah panas masuk ke dalam bangunan sejak awal, bukan membuang panas setelah ruangan sudah telanjur panas," katanya.

Arsitek dari Madrid, Eugenia del Río, menilai negara-negara seperti Inggris, Prancis, dan Jerman dapat belajar dari desain bangunan tradisional Spanyol yang sejak lama mengandalkan pendinginan pasif melalui dinding tebal, fasad berwarna terang, jendela kecil dengan penutup, serta tata ruang yang memaksimalkan sirkulasi udara.

Baca Juga: IAEA Sebut Kesepakatan Damai AS dan Iran Buka Akses untuk Periksa Nuklir Iran

Sementara itu, CEO Bouygues Immobilier Emmanuel Desmaizieres mengatakan kota-kota di Eropa perlu memperbanyak ruang hijau, pepohonan, unsur air, serta bangunan yang memberikan keteduhan agar tetap layak dihuni di tengah meningkatnya frekuensi gelombang panas akibat perubahan iklim.

Meski mengakui AC tetap dibutuhkan di rumah sakit dan beberapa fasilitas publik, ia menilai solusi jangka panjang tidak bisa hanya mengandalkan pendingin ruangan, melainkan harus melalui perubahan desain bangunan dan tata kota yang lebih tahan terhadap suhu ekstrem.