Parlemen Inggris dibekukan, poundsterling cenderung mendatar



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kondisi terbaru Brexit datang dari rencana Perdana Menteri Inggris Boris Johnson untuk membekukan parlemen Inggris. Johnson telah mengantongi izin Ratu Elizabeth untuk menjalankan rencana yang akan mempermudah langkah eksekusi Brexit tanpa kesepakatan pada akhir Oktober.

Rencana pembekuan parlemen mencuat sejak kemarin dan menyebabkan kurs poundsterling melemah. Pada Kamis (29/8) pukul 19.37 WIB, pasangan mata uang GBPUSD melemah 0,01% ke 1,2211. Pelemahan poundsterling pun tampak pada pairing EUR/GBP yang menguat tipis ke 0,9072. Penguatan sterling hanya tampak pada pairing GBPJPY masih naik 0,14% ke 129,77.

Analis Asia Trade Point Futures Deddy Yusuf Siregar mengatakan, pelaku pasar masih khawatir terhadap kepemilikan poundsterling. Kemungkinan terjadinya hard Brexit atau no-deal Brexit yang berarti Inggris keluar dari Uni Eropa tanpa kesepakatan makin besar.


Baca Juga: Hentikan Brexit, Parlemen Inggris ditantang mengubah undang-undang atau pemerintah

Menurut Deddy, hal ini dapat memberikan dampak buruk pada perekonomian di Inggris. “Nantinya kalo keluar tanpa kesepakatan berarti tidak ada kesepakatan perdagangan juga. Nantinya bisa merepotkan setiap negara yang hendak berurusan dengan Inggris terkait perdagangan,” jelas Deddy.

Pembekuan parlemen Inggris ini berlangsung lima pekan September-Oktober menambah kekhawatiran pasar terhadap isu Brexit. “Kondisi ini menyebabkan pelaku pasar agak sedikit ragu untuk menahan terlalu lama posisi mereka di poundsterling,” ujar Deddy.

Meskipun GBP/USD melemah, Deddy bilang bahwa dari dolar Amerika Serikat (AS) sebenarnya juga memiliki sentimen negatif, terutama dari sikap Presiden AS Donald Trump dan Gubernur Federal Reserve Jerome Powell yang tak ingin diintervensi. “Hanya saja, situasi ini lebih menguntungkan dolar dibandingkan poundsterling,” ujar Deddy.

Analis Monex Investindo Ahmad Yudiawan juga berpendapat terkait pasangan EUR/GBP dan GBP/JPY. Yudi menyebutkan walaupun sedikit menguat, poundsterling tertekan karena memiliki pengaruh utama dari isu Brexit yang memanas sejak beberapa pekan lalu.

Baca Juga: Demi loloskan Brexit, Perdana Menteri Inggris intervensi Ratu Elizabeth II

Yudi menambahkan bahwa data ekonomi Inggris dirasa masih belum mampu membuat bank sentral Inggris untuk memutuskan kebijakan baru. “Bank sentral masih memandang pemangkasan suku bunga berpotensi dilakukan selama data ekonomi Inggris dalam kondisi belum membaik,” ujar Yudi.

Tapi, kondisi serupa juga tampak pada Zona Euro. Hal ini menyebabkan EUR/GBP pergerakannya terbatas karena sama-sama memiliki sentimen negatif. “Data Jerman dilaporkan belum mengalami perbaikan dan Prancis juga demikian,” ujar Yudi.

Yudi berpendapat, pergerakan mata uang yang berpasangan dengan poundsterling ini menunggu kepastian Brexit. Yudi bilang jika yang terjadi adalah soft Brexit maka hal ini menjadi sentimen positif bagi poundsterling. “Kita tidak tahu pasti ini akan terjadi hard brexit atau soft brexit,” tambah Yudi.

Baca Juga: Partai oposisi mencegah no-deal Brexit, poundsterling menguat

Sependapat, Deddy juga mengatakan bahwa GBP/USD akan terus melihat perkembangan dari isu Brexit. Ia mengatakan bahwa GBP bisa rebound jika ada petunjuk bahwa Johnson memiliki kesepakatan dengan Uni Eropa. “Ini menjadi satu-satunya indikator yang bisa membuat GBP rebound,” ujar Deddy.

Untuk kondisi saat ini, Deddy merekomendasikan sell untuk GBP/USD. Alasannya belum ada katalis positif yang mampu menopang poundsterling dan trennya masih bearish. Ia memperkirakan GBP/USD akan bergerak di rentang support 1,215 - 1,208 dan resistance 1,228 - 1,235.

Yudi merekomendasikan sell untuk GBP/JPY dengan support 128,90 - 128,50 dan ressistance 129,50 - 129,80. Dia merekomendasikan sell on strength untuk EUR/GBP di support 0,9050 - 0,9030 dan ressistance 0,8909 - 0,9110.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati