KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Semester-I 2023, pasar apartemen atau kondominium di Indonesia belum juga membaik. Ini terlihat dari penjualan proyek
eksisting yang hanya tumbuh 0,4 persen selama Kuartal II-2023 dibanding Kuartal I-2023, dan hanya bergeser 0,1 persen dari periode yang sama tahun lalu. Berdasarkan data apartemen di Jakarta selama Q2 2023 yang dikeluarkan oleh Colliers, dikutip Selasa (08/08). Apartemen yang baru selesai dibangun hingga akhir Juni 2023 menyumbang 1.342 unit, sehingga total pasokan apartemen di Jakarta menjadi 225.167 unit. Penambahan baru-baru ini menandakan peningkatan sebesar 2,5% year on year (yoy). Kalau dijumlah dengan semua apartemen di wilayah Bodebek, hingga Juni 2023, total pasokan kumulatif kondominium mencapai 375.438 unit meningkat 0,29% secara kuartalan, dan 6,8% secara tahunan.
Baca Juga: Agung Podomoro Land (APLN) Optimistis Target Marketing Sales Rp 2 Triliun Terkejar Dengan 24% dari jumlah unit ini belum dijual pada tahun 2023, namun pasar dinilai masih akan terus bersiap untuk perkembangan apartemen selanjutnya. Dan jika dibandingkan, peningkatan jumlah apartemen dengan peningkatan jumlah pembeli atau penyewa sangat ‘jomplang’. Senior Associate Director Research Colliers Indonesia Ferry Salanto menjelaskan masih melemahnya pasar apartemen di Indonesia bisa disebabkan oleh beberapa hal, salah satunya adalah monopoli investor atau repeated buyer. “Apartemen atau kondominium ini kan sejak lama memang didominasi oleh investor buyer. Jadi orang beli tujuannya memang bukan untuk dihuni tapi untuk investasi. Invest itu tujuannya untuk mendapatkan
return atau imbal hasil yang sesuai dengan harapan dia,” jelas dia saat dihubungi Kontan, Selasa (08/08). Namun investasi jenis ini kata Ferry tampaknya sudah tidak relevan lagi. Sejak beberapa tahun terakhir ini, pasar
leasing juga lesu. Ia mengatakan, ini artinya memang penyewanya berkurang, namun apartemennya banyak, sehingga banyak unit-unit yang belum terisi. “Akibatnya return yang mereka harapkan tidak sesuai,
retur-nya di bawah investasi. Akhirnya, mereka menilai lebih menguntungkan kalau beli produk-produk investasi keuangan lainnya yang lebih menjanjikan
return yang lebih baik. Penyebab kedua adalah
return yang tidak sesuai namun investor harus tetap memiliki kewajiban membayar
service charge dan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).
Baca Juga: Marketing Sales Emiten Properti: SMRA, CTRA dan MTLA Kompak Naik “Sehingga ada
cost yang mereka harus tetap keluarkan walaupun unit mereka kosong atau
return-nya
gak sesuai. Sehingga bebannya itu jadi bertambah,” kata dia. Para pembeli di pasar apartemen-kondominium Indonesia jelas Ferry kebanyakan adalah orang-orang repeated buyer, artinya orang-orang yang sama, investor yang sama, karena pemain di sektor ini terbatas. Ia kemudian membandingkan dengan penjualan rumah tapak yang terhitung positif di semester-I 2023. “Kalau rumah tapak itu sasarannya
end user, yang memang butuh. Sedangkan apartemen
gak seperti itu,” katanya.
Baca Juga: KPR Jadi Penopang Utama Pertumbuhan Kredit Konsumer Perbankan pada Semester I Meskipun tahun 2023 ini komposisi pembeli apartemen sedikit berubah dimana
end user-nya sedikit lebih banyak, namun belum bisa mengalahkan rumah tapak. Ia menambahkan saat ini
developer belum kembali kepada ritmenya untuk mengeluarkan
supply atau
launching apartemen baru. Hingga akhir 2023,
developer diprediksi akan terus fokus pada penjualan unit-unit lama. “Untuk strategi penurunan harga sebenarnya bisa dicoba, terutama untuk produk
existing. Jadi unit-unit yang sudah jadi, sudah mulai diturunkan harga-harganya, sehingga sekarang sebenarnya bisa kita lihat banyak
end user yang sudah cukup banyak (di apartemen),” tutupnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News