KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Knight Frank Indonesia, konsultan properti global melaporkan perkembangan permintaan pasar hunian vertikal, yakni apartemen sewa dan kondominium. Dalam paparannya, Willson Kalip Country Head Knight Frank Indonesia menuturkan pasar apartemen sewa merupakan sektor dengan niche segment, atau memiliki pasar pada segmen tertentu. Dia memperhatikan bahwa di Jakarta, penghuni apartemen sewa umumnya didominasi oleh expatriat dan corporate company client. Meski tingkat keterisian apartemen sewa terus pulih, namun belum berada pada kondisi performa seperti sebelum masa pandemi. Periode tahun 2012-2013 menjadi salah satu masa kejayaan apartemen sewa,dengan tingkat keterisian apartemen sewa dapat mencapai 86%, dan pertumbuhan harga sewa mencapai double digit. Pada periode semester I-2026 ini, ada sekitar 9.843 unit apartemen sewa dengan rerata tingkat penyewaan sedikit terkoreksi, yaitu sekitar 67,6%. Baca Juga: Oversupply Apartemen Masih Menekan Pasar, BSDE Fokus Jual Unit Siap Huni pada 2026 Adapun rerata harga sewa untuk tipe serviced mengalami perbaikan dengan indikasi kenaikan tahunan sebesar 2% yoy, meski rerata harga sewa pada apartemen non servis sedikit terkoreksi, sekitar 1%. yoy. Setidaknya, terdapat 872 unit baru yang akan kembali masuk pasar sampai tahun 2028 dengan submarket CBD memiliki tingkat hunian yang lebih tinggi dibandingkan submarket lainnya. "Ini menunjukan preferensi tenant terhadap kawasan pusat bisnis," jelas Willson, Kamis (6/8/2026). Lebih lanjut, di tengah masa perbaikan yang terus bergulir, tenan ekspatriat dari Asia Timur mendominasi hunian apartemen sewa di Jakarta, baik yang menetap di kawasan CBD maupun Prime Non?CBD. Expatriat asal Eropa, Amerika Serikat dan Timur Tengah juga turut mewarnai hunian di ruang apartemen sewa Jakarta saat ini. Awal tahun 2026 ditandai dengan berbagai dinamika pada sektor apartemen sewa, diantaranya beberapa project yang menunda proses launching?nya, sehingga pasokan terpantau tetap pada semester awal, namun diprediksi stok akan masuk kembali di akhir tahun ini. Dia juga menyebutkan bahwa persaingan di pasar apartemen sewa semakin ketat seiring bertambahnya pilihan hunian premium di Jakarta. "Dalam kondisi pasar yang masih berada pada fase softening market, keunggulan tidak lagi hanya ditentukan oleh kualitas fisik properti, tetapi juga oleh kemampuan pengelola menghadirkan pengalaman tinggal (living experience) yang berbeda melalui layanan yang inovatif, fleksibel, dan berorientasi pada kebutuhan penyewa," imbuhnya. Di saat yang sama, perluasan target pasar serta kolaborasi dengan sektor kreatif, pariwisata, dan ekosistem bisnis menjadi langkah strategis untuk menciptakan sumber permintaan baru dan memperkuat daya saing.
Pasar Apartemen Sewa &Kondominium Jakarta Mulai Terlihat Stabil di Paruh Pertama 2026
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Knight Frank Indonesia, konsultan properti global melaporkan perkembangan permintaan pasar hunian vertikal, yakni apartemen sewa dan kondominium. Dalam paparannya, Willson Kalip Country Head Knight Frank Indonesia menuturkan pasar apartemen sewa merupakan sektor dengan niche segment, atau memiliki pasar pada segmen tertentu. Dia memperhatikan bahwa di Jakarta, penghuni apartemen sewa umumnya didominasi oleh expatriat dan corporate company client. Meski tingkat keterisian apartemen sewa terus pulih, namun belum berada pada kondisi performa seperti sebelum masa pandemi. Periode tahun 2012-2013 menjadi salah satu masa kejayaan apartemen sewa,dengan tingkat keterisian apartemen sewa dapat mencapai 86%, dan pertumbuhan harga sewa mencapai double digit. Pada periode semester I-2026 ini, ada sekitar 9.843 unit apartemen sewa dengan rerata tingkat penyewaan sedikit terkoreksi, yaitu sekitar 67,6%. Baca Juga: Oversupply Apartemen Masih Menekan Pasar, BSDE Fokus Jual Unit Siap Huni pada 2026 Adapun rerata harga sewa untuk tipe serviced mengalami perbaikan dengan indikasi kenaikan tahunan sebesar 2% yoy, meski rerata harga sewa pada apartemen non servis sedikit terkoreksi, sekitar 1%. yoy. Setidaknya, terdapat 872 unit baru yang akan kembali masuk pasar sampai tahun 2028 dengan submarket CBD memiliki tingkat hunian yang lebih tinggi dibandingkan submarket lainnya. "Ini menunjukan preferensi tenant terhadap kawasan pusat bisnis," jelas Willson, Kamis (6/8/2026). Lebih lanjut, di tengah masa perbaikan yang terus bergulir, tenan ekspatriat dari Asia Timur mendominasi hunian apartemen sewa di Jakarta, baik yang menetap di kawasan CBD maupun Prime Non?CBD. Expatriat asal Eropa, Amerika Serikat dan Timur Tengah juga turut mewarnai hunian di ruang apartemen sewa Jakarta saat ini. Awal tahun 2026 ditandai dengan berbagai dinamika pada sektor apartemen sewa, diantaranya beberapa project yang menunda proses launching?nya, sehingga pasokan terpantau tetap pada semester awal, namun diprediksi stok akan masuk kembali di akhir tahun ini. Dia juga menyebutkan bahwa persaingan di pasar apartemen sewa semakin ketat seiring bertambahnya pilihan hunian premium di Jakarta. "Dalam kondisi pasar yang masih berada pada fase softening market, keunggulan tidak lagi hanya ditentukan oleh kualitas fisik properti, tetapi juga oleh kemampuan pengelola menghadirkan pengalaman tinggal (living experience) yang berbeda melalui layanan yang inovatif, fleksibel, dan berorientasi pada kebutuhan penyewa," imbuhnya. Di saat yang sama, perluasan target pasar serta kolaborasi dengan sektor kreatif, pariwisata, dan ekosistem bisnis menjadi langkah strategis untuk menciptakan sumber permintaan baru dan memperkuat daya saing.
TAG: