KONTAN.CO.ID - Dolar Singapura menguat pada perdagangan Senin (27/7/2026) setelah Monetary Authority of Singapore (MAS) secara mengejutkan memperketat kebijakan moneternya. Sebaliknya, rupiah melemah hingga sempat menyentuh level psikologis Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) setelah Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengumumkan pengunduran dirinya.
Baca Juga: Mantan Presiden Korsel Yoon Suk Yeol Divonis 18 Bulan Penjara, Hukuman Ditangguhkan Di sisi lain, pasar saham Asia berkembang bergerak menguat pada perdagangan sore setelah harga minyak dunia anjlok menyusul jeda konflik antara AS dan Iran selama akhir pekan. Melansir
Reuters, Indeks MSCI Emerging Markets Asia naik hampir 1%, dengan bursa saham Korea Selatan dan Taiwan masing-masing menguat hingga 2%. MAS secara tak terduga menaikkan laju apresiasi koridor kebijakan berbasis nilai tukar (
exchange rate policy band). Langkah tersebut diambil dengan alasan meningkatnya risiko inflasi akibat konflik di Timur Tengah. Keputusan itu mendorong dolar Singapura menguat ke level tertinggi dalam tujuh sesi terhadap dolar AS dan yuan China. Mata uang tersebut juga mencapai level tertinggi dalam satu bulan terhadap ringgit Malaysia. Sentimen positif juga mengangkat pasar saham Singapura. Indeks acuan FTSE Straits Times mencetak rekor tertinggi baru, didorong oleh kenaikan saham bank-bank besar seperti DBS Group, OCBC, dan United Overseas Bank (UOB) yang masing-masing menguat sekitar 0,4% hingga 0,6%.
Baca Juga: Super El Nino Ancam Ekonomi Negara Berkembang, Inflasi Pangan Berpotensi Naik Rupiah tertekan usai Perry Warjiyo mundur Di Indonesia, rupiah sempat melemah hingga menyentuh level Rp 18.000 per dolar AS, level yang terakhir terlihat sekitar tujuh sesi perdagangan lalu. Bursa saham Indonesia juga bergerak melemah. Tekanan tersebut muncul setelah Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengumumkan bahwa Perry Warjiyo mengundurkan diri dari jabatan Gubernur Bank Indonesia. Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, ditunjuk sebagai pelaksana tugas (Plt.) Gubernur BI. Sejumlah analis menilai pengunduran diri Perry secara mendadak dapat mengguncang kepercayaan investor, terutama terkait independensi bank sentral dan arah kebijakan fiskal maupun moneter Indonesia.
Baca Juga: Harga Minyak Anjlok Lebih dari 6% Pasca Iran dan AS Sepakat Hentikan Pertempuran Harapan diplomasi dorong sentimen pasar Secara global, sentimen pasar membaik setelah muncul harapan terhadap penyelesaian diplomatik konflik di Timur Tengah. Harga minyak sempat turun hingga US$ 89,58 per barel, sementara dolar AS dan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS juga melemah. Research Strategist Pepperstone Dilin Wu mengatakan, penguatan pasar saham Asia saat ini lebih mencerminkan reli akibat kelegaan sementara (relief rally) dibandingkan perubahan sentimen menjadi benar-benar optimistis. "Pergerakan pasar saham menunjukkan bahwa ini bukan reli yang sepenuhnya mencerminkan peningkatan selera risiko (risk-on), melainkan lebih merupakan relief rally yang masih belum sepenuhnya dipercaya investor," ujar Wu. Menurutnya, tercapainya perdamaian yang berkelanjutan akan sangat menguntungkan negara-negara pengimpor energi seperti Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan India karena dapat mengurangi tekanan pada transaksi berjalan, meredakan inflasi, serta mengurangi kebutuhan mempertahankan nilai tukar dari penguatan dolar AS.
Baca Juga: Perhiasan Jadi Penyelamat Industri Barang Mewah, Tas Mewah Kehilangan Daya Tarik Meski demikian, kekhawatiran terhadap prospek industri kecerdasan buatan (
artificial intelligence/AI) masih membatasi penguatan pasar, terutama di Korea Selatan dan Taiwan. Pada pekan lalu, bursa Seoul sempat turun hampir 2% setelah investor kembali mencemaskan lambatnya imbal hasil dari besarnya investasi perusahaan teknologi AS di sektor AI. Volatilitas tinggi akibat perdagangan leveraged exchange-traded funds (ETF) juga turut menekan saham-saham produsen chip.