KONTAN.CO.ID - Sebagian besar bursa saham Asia berada di jalur penurunan mingguan pada Jumat (21/8/2026). Tekanan pasar obligasi global belum mereda, sementara kebuntuan diplomatik di kawasan Teluk mendorong harga minyak ke level tertinggi dalam sebulan dan kembali meningkatkan kekhawatiran inflasi. Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) kembali meningkat setelah intervensi mengejutkan Departemen Keuangan AS pada Rabu hanya memberikan sedikit kelegaan dari aksi jual obligasi.
Baca Juga: Inflasi Inti Jepang Naik pada Juli, Perkuat Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga Kenaikan imbal hasil terjadi meskipun Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pemerintah masih dapat meningkatkan pembelian kembali obligasi Treasury. Bessent juga mengemukakan kemungkinan konsolidasi fiskal. Namun, para analis skeptis pemerintah AS dapat menemukan cukup banyak pemangkasan belanja untuk secara signifikan mengurangi defisit anggaran yang mencapai lebih dari 6% terhadap produk domestik bruto (PDB). Beban pembayaran bunga saja diperkirakan mencapai US$ 1,2 triliun tahun ini. "Secara historis, pasar akan melawan ketika mereka menilai fundamental seperti rekor tingkat utang dan defisit yang sangat besar berada di pihak mereka. Intervensi lebih lanjut bisa menjadi terlalu mahal untuk ditanggung," kata Steven Zeng, strategist Deutsche Bank dilansir dari
Reuters. Ia menambahkan, terdapat potensi biaya terhadap kredibilitas institusional Departemen Keuangan AS jika pendekatan yang terlalu aktif mengikis kepercayaan dan manfaat yang selama ini dibangun melalui kerangka kebijakan yang teratur dan dapat diprediksi. Skeptisisme investor tercermin dari kenaikan imbal hasil obligasi AS tenor 30 tahun kembali ke 5,25%, sementara imbal hasil Treasury 10 tahun mencapai 4,71%.
Baca Juga: Subaru Tersandung Kasus Akses Data Servis Kendaraan di Australia Pasar kini menganggap level 5,30% sebagai batas yang berpotensi menjadi masalah bagi Departemen Keuangan AS, serupa dengan level 160 yen per dolar yang menjadi perhatian bagi pembuat kebijakan Jepang. Imbal hasil obligasi yang lebih tinggi meningkatkan biaya utang secara global. Kondisi tersebut terjadi ketika perusahaan teknologi raksasa AS tengah meningkatkan pinjaman untuk membiayai belanja modal kecerdasan buatan (AI), sekaligus meningkatkan tingkat diskonto terhadap laba perusahaan dan menekan valuasi saham. Bursa Asia Tertekan Tekanan terlihat pada indeks Nikkei Jepang yang turun 0,8% pada Jumat. Dengan demikian, penurunan Nikkei sepanjang pekan mencapai 4,4%. Bursa Korea Selatan dan Taiwan masing-masing bergerak naik tipis pada perdagangan hari ini, tetapi keduanya tetap berada di zona merah secara mingguan.
Baca Juga: PMI Manufaktur Jepang Ekspansi, Pesanan Baru Tumbuh Tercepat Sejak 2018 Sementara itu, indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang naik 0,5%. Di Eropa, kontrak berjangka EUROSTOXX 50 dan DAX bergerak sedikit melemah, sedangkan FTSE futures turun 0,1%. Di Wall Street, musim laporan keuangan yang kuat masih memberikan dukungan. Kontrak berjangka S&P 500 naik 0,1%, sementara Nasdaq futures menguat 0,2%. Perhatian investor berikutnya tertuju pada Nvidia, yang akan merilis laporan keuangan pekan depan. Prospek permintaan infrastruktur AI dan pendapatan pusat data akan menjadi faktor penting bagi keberlanjutan reli saham teknologi. Sementara itu, Walmart menunjukkan risiko dari ekspektasi pasar yang terlalu tinggi. Saham perusahaan tersebut anjlok 9% pada Kamis setelah mencatat penjualan di bawah ekspektasi.
Baca Juga: AS Akan Jatuhkan Sanksi Terberat Dalam Sejarah Bagi Iran Harga Minyak Naik, Emas Menguat Ketegangan geopolitik kembali menjadi perhatian pasar setelah Bessent memperluas pernyataan mengenai janji Presiden Donald Trump untuk melakukan perang ekonomi terhadap Iran. Bessent mengatakan Amerika Serikat akan memberlakukan "sanksi terberat dalam sejarah" terhadap Iran. Pernyataan tersebut semakin mengurangi harapan tercapainya kesepakatan yang dapat membuka sepenuhnya Selat Hormuz, jalur penting bagi perdagangan minyak dunia. Harga minyak Brent sempat mencapai US$ 94,71 per barel, level tertinggi dalam sebulan, sebelum aksi ambil untung menekan harga.
Baca Juga: AS Tingkatkan Volume Buyback US Treasury, Bessent: Bisa Ditambah Lagi Harga Brent kemudian turun 0,7% menjadi US$ 93,12 per barel, tetapi masih menguat lebih dari 5% sepanjang pekan. Minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) juga turun 0,7% menjadi US$ 86,18 per barel. Di pasar valuta asing, dolar AS berada di jalur penurunan mingguan yang cukup besar. Kekhawatiran terhadap meningkatnya utang AS dan ketidakpastian kebijakan mendorong investor mencari aset langka seperti emas. Harga emas stabil di sekitar US$ 4.513 per ons troi dan telah menguat sekitar 3,1% sepanjang pekan. "Dolar kembali berada di bawah tekanan, sebagian karena kembali menguatnya narasi 'debasement'," kata Jonas Goltermann, Chief Markets Economist Capital Economics. Indeks dolar AS turun hampir 0,9% sepanjang pekan menjadi 98,802 setelah sempat menyentuh level terendah dalam tiga bulan. Euro menguat 1% sepanjang pekan menjadi US$ 1,1686, setelah menyentuh level tertinggi dalam 14 pekan. Sementara itu, dolar AS relatif stabil terhadap yen di 159,07 yen.
Baca Juga: Saham Kripto Melonjak Usai Trump Dorong Pengesahan Clarity Act Data terbaru menunjukkan inflasi konsumen inti Jepang meningkat pada Juli karena perusahaan meneruskan kenaikan biaya impor. Kondisi ini semakin memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of Japan pada September. Pasar saat ini telah memperhitungkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 1,25%. Namun, investor menginginkan sinyal yang lebih tegas dari pembuat kebijakan mengenai kemungkinan pengetatan moneter yang lebih cepat dan agresif.