Pasar Barang Mewah Global Bangkit, Konsumen Muda AS Pendorong Utama!



KONTAN.CO.ID - MILAN. Pasar barang mewah global menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada kuartal kedua. Perusahaan konsultan Bain & Company dalam risetnya menuliskan, pemulihan didorong permintaan di AS lebih kuat dari yang diperkirakan.

Bain mengatakan, skenario dasar mereka sekarang menunjukkan potensi peningkatan penjualan barang mewah pribadi sebesar 2% hingga 4% tahun ini. Kendati begitu, angka ini masih lebih rendah dibandingkan proyeksi yang dibuat di November sebelum perang di Timur Tengah, yakni naik 3% hingga 5%.

Pasar barang mewah pribadi, yang bernilai € 358 miliar dolar AS pada tahun 2025, atau setara Rp 7.301 triliun, telah mengalami kontraksi selama dua tahun terakhir.


Baca Juga: Harga Produk Apple Naik Efek Tingginya Chip AI, Harga Macbook Neo Jadi US$ 699

Bila dihitung dengan nilai kurs dolar AS terhadap euro saat ini, nilai pasar barang mewah pribadi menyusut 2% di 2025. Tapi bila dihitung dalam mata uang konstan, nilainya meningkat 1%.

Bain & Co menyusun laporan terbaru mengenai pasar barang mewah global tersebut bersama grup industri barang mewah Italia, Altagamma.

"Kami melihat ketidakpastian dan gejolak yang semakin meningkat di tingkat makroekonomi dan sosial-politik, tetapi pasarnya tetap ada," kata Francesca Levato, mitra Bain, seperti dikutip Reuters, Kamis (25/6/2026).

Baca Juga: Impor Emas China Turun 38%, Tapi Cadangan Emas Terus Bertambah

Secara geografis, pertumbuhan di AS, yang dipimpin oleh merek-merek lokal dan belanja  konsumen muda, mengimbangi perlambatan penjualan di Timur Tengah dan Eropa.

Pasar China perlahan pulih, dengan pertumbuhan yang lebih banyak dipimpin oleh produk pakaian jadi dibanding barang-barang kulit. "Amerika tumbuh lebih dari yang diperkirakan dan China pulih lebih cepat dari yang diperkirakan," kata Levato.

Pasar Eropa masih terdampak oleh penurunan arus wisatawan, meskipun tanda-tanda stabilisasi muncul pada bulan Mei.

Baca Juga: China Gencar Kembangkan Energi Terbarukan: Separuh Listrik dari Non-Fosil di 2030

Levato mengatakan, industri barang mewah global telah kehilangan sekitar 70 juta konsumen sejak 2022. Penyebabnya, merek-merek menaikkan harga dan lebih fokus pada klien dengan nila belanja tertinggi.

"Industri ini seharusnya mendorong pertumbuhan basis konsumen daripada hanya fokus pada 1% teratas," kata Levato.

Studi ini juga menemukan bahwa akal imitasi (AI) dengan cepat mengubah cara konsumen menemukan dan mengevaluasi merek mewah. Sekitar setengah dari konsumen barang mewah sudah menggunakan AI dalam melakukan pembelian, mengandalkannya untuk menemukan dan membandingkan produk.

Pasar barang mewah bekas juga sedang meningkat. Setengah dari pembeli barang mewah sekarang berkonsultasi dengan pasar tersebut sebelum membeli barang baru.