Pasar Bergejolak, Saham BUMN Ini Tetap Mendaki, Masih Adakah Peluang Investasi?
Jumat, 06 Februari 2026 06:10 WIB
Oleh: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - Jakarta. Harga saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) terus menguat sepanjang awal 2026 meski pasar modal di Tanah Air bergejolak. Analis menilai permintaan gas industri dan dividen tinggi jadi katalis utama saham PGAS. Harga saham badan usaha milik negara (BUMN) tersebut menunjukkan tren penguatan sejak awal tahun 2026 hingga Februari ini. Sejumlah analis pun kompak memberikan rekomendasi beli (buy) saham PGAS, seiring prospek permintaan gas industri dan potensi dividen yang tetap menarik. Pada perdagangan Kamis (5/2/2026), saham PGAS ditutup stagnan di level Rp 2.200. Meski demikian, sejak awal tahun 2026, saham PGAS telah terakumulasi naik 270 poin atau sekitar 13,99%.
Kenaikan harga saham PGAS berbanding terbalik dengan kondisi pasar saham yang tertekan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sejak awal tahun telah susut sebesar 644,25 poin atau 7,36% ke level 8.103,88. Baca Juga: Internal Kompak Menyelamatkan Saham CDIA, Harga Mendaki Di sisi kinerja keuangan, PGAS mencatat penurunan laba bersih sepanjang Januari–September 2025. Namun, prospek permintaan gas dari sektor industri diperkirakan menjadi katalis positif yang menopang kinerja perseroan pada tahun 2026. Hingga September 2025, PGAS membukukan pendapatan sebesar US$ 2,9 miliar, tumbuh 3,8% secara tahunan (yoy). Sementara itu, laba bersih tercatat sebesar US$ 237,9 juta, turun 9,68% yoy. Rizal Rafly, Analis Ajaib Sekuritas Asia, menilai gas bumi tetap memiliki peran strategis sebagai energi transisi di tengah percepatan pengembangan energi terbarukan. Gas diposisikan sebagai bahan bakar jembatan untuk menjaga keandalan sistem energi nasional. Penurunan produksi gas dari ladang hulu yang telah matang diperkirakan akan memperlebar kesenjangan pasokan domestik. Di sisi lain, permintaan gas dari pelanggan PGAS diproyeksikan tumbuh sekitar 2%–3% per tahun. Seiring kondisi tersebut, porsi Liquefied Natural Gas (LNG) dalam bauran pasokan PGAS diproyeksikan meningkat dari sekitar 10% pada 2024 menjadi 18%–20% pada 2026. Peningkatan ini didukung hingga 19 kargo LNG, sembari menunggu proyek hulu baru seperti Masela, Andaman, dan Indonesia Deepwater Development (IDD) pada akhir dekade ini. Secara operasional, PGAS menargetkan volume niaga gas mencapai 877 BBTUD pada 2026 atau tumbuh 4% yoy. Sementara volume transmisi gas diproyeksikan naik menjadi 1.620 MMSCFD, juga tumbuh 4% yoy, seiring peningkatan permintaan industri dan ekspansi jaringan di Jawa serta Sumatra. Tonton: Purbaya Usul Pengelolaan SDA Dibatasi Hanya untuk BUMN dan Lembaga Negara Ringkasan proyeksi kinerja PGAS: - Pendapatan tahun 2025 diproyeksikan mencapai US$ 3,79 miliar. - Laba bersih tahun 2025 diperkirakan sebesar US$ 320 juta. - Pendapatan tahun 2026 diprediksi meningkat menjadi US$ 3,91 miliar. - Laba bersih tahun 2026 diproyeksikan tumbuh menjadi US$ 361 juta. - Volume niaga gas tahun 2026 ditargetkan mencapai 877 BBTUD. Dari sisi kebijakan dividen, UBS Sekuritas Indonesia memperkirakan rasio pembayaran dividen PGAS dapat meningkat hingga 90% pada 2026 dan 100% pada 2027. Hal ini berpotensi menghasilkan dividend yield sekitar 10%–12% per tahun. Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas, mengingatkan investor untuk mencermati risiko pasokan gas, tekanan margin akibat regulasi harga, serta kenaikan biaya operasional.
Meski demikian, mayoritas analis tetap optimistis. Rizal Rafly dan Timothy Handerson merekomendasikan buy saham PGAS dengan target harga masing-masing Rp 2.500 dan Rp 2.400 per saham. Sementara itu, Kiwoom Sekuritas memberikan rekomendasi trading buy dengan target harga Rp 2.310–Rp 2.500 per saham.
Moody’s Turunkan Outlook Utang RI Jadi Negatif, Pemerintah Bilang Aman — Ini Faktanya