Pasar Cemas: Siapa Lagi Setelah Lehman?



NEW YORK. Setelah Lehman Brothers Inc kolaps, pasar kini bertanya-tanya, institusi keuangan mana lagi yang bakal bernasib serupa. Sementara ini, kekhawatiran itu tertuju pada American International Group Inc. (AIG).

Selasa (16/9), Fitch Ratings, S&P, dan Moody bersama-sama menurunkan peringkat kredit perusahaan asuransi terbesar berdasarkan aset itu. S&P memangkas rating obligasi AIG tiga peringkat menjadi A-. Moody menurunkan rating AIG dua peringkat ke A2. Lantas, Fitch memangkas nilainya dari AA- menjadi A.

Bulan lalu, AIG telah memperkirakan, penurunan rating sebanyak satu peringkat akan membuat perusahaan menambah jaminan senilai US$ 13,3 miliar. Ini tentu akan menumpuk masalah AIG. Pasalnya, AIG kini sangat butuh dana untuk menghadapi kemungkinan penyusutan asetnya yang terkait kredit perumahan serta instrumen credit default swap yang mereka miliki.


Pasar pun khawatir AIG bakal menyusul Lehman. Sebab, selama tiga kuartal terakhir AIG sudah mencatatkan kerugian US$ 18,5 miliar. Hari Senin sebelumnya (15/9), harga saham AIG anjlok 61%. Bahkan, kapitalisasi pasar AIG telah menyusut 93% dari puncaknya senilai hampir US$ 190 miliar di akhir 2006.

Padahal, sebelumnya muncul kabar melegakan buat AIG. Gubernur New York David Paterson mengizinkan AIG memakai dana darurat senilai US$ 20 miliar dari aset-aset anak perusahaannya untuk bertahan.

Saat ini, menurut dua orang sumber Bloomberg, AIG tengah mencari pinjaman US$ 70 miliar - US$ 75 miliar dengan bantuan Goldman Sachs dan JPMorgan & Chase. Selain itu, AIG kabarnya telah menolak tawaran akuisisi dari KKR & Co., TPG Inc., dan J.C Flowers & Co.

Hingga hari Senin lalu, bankir-bankir besar Wall Street berkumpul untuk keempat harinya bersama The Fed New York. Setelah tiga hari membahas Lehman, di hari keempat mereka berembuk soal AIG. AIG telah menjual US$ 441 miliar portofolio pasar uangnya kepada bank dan investor. Celakanya, di antara jumlah itu, US$ 57,8 miliar berupa obligasi yang terkait kredit perumahan.

"Kegagalan AIG berisiko sistemik karena dia merupakan counterparty yang besar. Terlalu besar untuk dibiarkan jatuh," ujar Prasad Patkar dari Platypus Asset Management. Senada, Chief Executive Officer Bank of America Kenneth Lewis menegaskan, "Saya tak tahu bank besar mana yang tak akan kena dampak dari AIG. Jatuhnya AIG akan menjadi masalah yang jauh lebih besar daripada yang kita lihat sekarang."

Selain AIG, pasar mulai was-was pula dengan beberapa lembaga keuangan. Misalnya saja, Washington Mutual. S&P menurunkan peringkat obligasi bank simpan pinjam terbesar AS ini menjadi BBB- alias berating junk, tiga peringkat di bawah investment grade.

Kemarin, pasar dikejutkan pula dengan berita dari Goldman Sachs Group Inc. Bank investasi terbesar AS itu membukukan laba bersih kuartal ketiga yang anjlok 70%, dari US$ 2,95 miliar menjadi US$ 845 juta. Ini merupakan salah satu penurunan laba bersih terbesar yang terjadi di pasar akibat terjadinya krisis kredit.

Bloomberg, Reuters

Editor: Test Test