KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kehadiran
exchange traded fund (ETF) emas mendapat respons awal yang cukup positif dari investor. Meski dana kelolaan (AUM) masih relatif kecil, produk ini dinilai masih berada dalam tahap awal pembentukan pasar sehingga belum mencerminkan potensi pertumbuhan dalam jangka panjang. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat dana kelolaan pada tujuh produk
exchange traded fund (ETF) emas yang diterbitkan oleh tujuh manajer investasi mencapai Rp 90,39 miliar sejak 10 Agustus hingga akhir Agustus 2026. Infovesta mencatat, AUM Rp 90,39 miliar tersebut baru sekitar 0,014% dari total dana kelolaan industri reksadana yang mencapai Rp 652,88 triliun.
"Menurut saya, AUM sekitar Rp 90,39 miliar dalam kurang dari satu bulan menunjukkan
initial response yang cukup positif, mengingat ETF emas masih merupakan produk baru dan investor masih dalam tahap mengenal mekanisme serta likuiditasnya," kata Pengamat pasar modal Elandry Pratama kepada Kontan, Selasa (8/9/2026).
Baca Juga: Simak Rekomendasi Saham PTBA, SSIA, dan BUMI untuk Rabu (9/9) Meski demikian, jika dibandingkan dengan target sejumlah manajer investasi (MI) yang mencapai ratusan miliar hingga Rp 1 triliun, skala dana kelolaan ETF emas saat ini masih relatif kecil. Karena itu, Elandry menilai capaian tersebut lebih tepat dipandang sebagai fase awal pembentukan pasar, bukan sebagai gambaran akhir dari potensi ETF emas di Indonesia. Lebih lanjut, Elandry menyebut minat investor terhadap ETF emas terutama ditopang oleh posisi emas sebagai aset diversifikasi sekaligus
safe haven. Di sisi lain, ETF menawarkan kemudahan transaksi karena investor dapat membeli emas melalui bursa tanpa perlu menyimpan emas fisik. Dalam memilih ETF emas, investor disarankan memperhatikan sejumlah faktor, mulai dari likuiditas,
spread bid-offer, kemampuan produk mengikuti pergerakan harga emas atau
tracking, biaya pengelolaan, ukuran AUM, hingga kredibilitas manajer investasi dan kustodian. Produk dengan transaksi lebih aktif dan
spread lebih tipis menurut saya akan lebih menarik karena memberikan fleksibilitas keluar-masuk yang lebih baik," jelasnya.
Baca Juga: Dana Kelolaan ETF Emas Tumbuh 4 Kali Lipat, Infovesta: Berpeluang Tembus Rp 1 Triliun Selain aspek likuiditas, ETF emas juga menawarkan akses investasi dengan nominal yang relatif terjangkau. Elandry menyebut terdapat produk ETF emas yang dapat diakses mulai sekitar Rp 100.000. Ke depan, Elandry melihat prospek ETF emas masih cukup positif, terutama apabila volatilitas pasar global tetap tinggi dan kebutuhan investor terhadap diversifikasi terus meningkat. Dalam jangka menengah-panjang, ETF emas berpotensi mengambil sebagian porsi investasi emas ritel karena menawarkan kemudahan, transparansi, dan fleksibilitas transaksi.
"ETF emas berpotensi mengambil sebagian porsi investasi emas ritel karena lebih praktis, transparan dan mudah ditransaksikan," ujarnya. Menurut dia, minat terhadap ETF emas juga mulai muncul dari investor institusi, termasuk dana pensiun yang mulai mengkaji instrumen tersebut. Namun, pertumbuhan AUM ETF emas ke depan tetap akan bergantung pada sejumlah faktor. Di antaranya adalah edukasi investor, likuiditas pasar, serta kemampuan produk dalam menjaga
tracking terhadap
underlying emas. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News