KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar global agen kecerdasan buatan (AI agent) diperkirakan mencapai US$ 8,5 miliar pada 2026, seiring meningkatnya pemanfaatan teknologi AI yang mampu bekerja secara otonom dalam menjalankan berbagai proses bisnis. Nilai pasar tersebut bahkan diproyeksikan meningkat menjadi US$ 35 miliar pada 2030, dan bisa mencapai US$ 45 miliar bagi organisasi yang mampu mengelola jaringan agen AI secara efektif. Proyeksi tersebut menjadi salah satu sorotan dalam laporan
2026 Technology, Media & Telecommunications Predictions yang diterbitkan Deloitte belum lama ini.
Laporan itu menilai industri telekomunikasi menjadi salah satu sektor yang berpotensi memperoleh manfaat terbesar dari penerapan teknologi agentic AI, terutama untuk meningkatkan efisiensi operasional dan kualitas layanan pelanggan.
Baca Juga: Pasar Global Berfluktuasi, Harga Minyak Tembus US$110 di Tengah Ancaman Eskalasi Iran Menurut Deloitte, tantangan operator telekomunikasi saat ini tidak hanya berasal dari aspek teknis, tetapi juga tekanan bisnis. Di tingkat global, sekitar 77% pelanggan mengaku tidak memiliki loyalitas tinggi terhadap penyedia layanan telekomunikasi. Hanya 47% pelanggan yang bertahan menggunakan operator yang sama selama lebih dari lima tahun, sementara tingkat perpindahan pelanggan (churn) mencapai sekitar 22% setiap tahun. Di sisi lain, sebanyak 86% konsumen menyatakan bersedia membayar lebih untuk pengalaman layanan yang lebih baik. Technology, Media & Telecommunications Industry Leader, Strategy, Risk & Transactions Deloitte Asia Tenggara, Piyush Jain, mengatakan tantangan terbesar operator bukan lagi memutuskan apakah akan mengadopsi AI, melainkan memastikan teknologi tersebut benar-benar diterapkan dalam operasional sehari-hari. "Operator yang bergerak maju memperlakukan AI sebagai kemampuan bisnis, bukan eksperimen teknologi," ujarnya dalam keterangannya, seperti dikutip, Selasa (28/7/2026). Berbeda dengan AI konvensional yang umumnya hanya membantu menyelesaikan satu tugas tertentu, agentic AI mampu mengoordinasikan berbagai proses, menjalankan alur kerja, hingga menyelesaikan pekerjaan lintas fungsi secara otomatis.
Baca Juga: Pasar Tokenisasi Aset Indonesia Diproyeksi Tembus US$ 88 Miliar pada 2030 Kemampuan tersebut membuat AI tidak lagi sekadar menjadi alat pendukung, tetapi mulai berperan sebagai penggerak utama operasional perusahaan. Deloitte menilai nilai ekonomi terbesar dari perkembangan AI tidak akan dinikmati oleh perusahaan yang paling banyak melakukan uji coba teknologi. Keuntungan justru akan diraih oleh organisasi yang mampu mempercepat transformasi dari tahap eksperimen menuju implementasi penuh dalam kegiatan operasional. Di Indonesia, sejumlah operator telekomunikasi mulai mengadopsi pendekatan tersebut. Salah satu operator telah menerapkan lebih dari 100 use case berbasis AI pada pengelolaan jaringan dan layanan pelanggan. Pemanfaatan AI itu diklaim membantu mengurangi gangguan jaringan, mempercepat respons layanan, sekaligus menekan biaya operasional. Operator lainnya juga mulai mengembangkan model AI-native dengan menanamkan AI langsung pada infrastruktur dan layanannya. Penerapan AI di sektor telekomunikasi dinilai semakin relevan mengingat jaringan operator di Indonesia melayani lebih dari 347 juta sambungan seluler yang tersebar di lebih dari 17.000 pulau. Beban tersebut membuat operator dituntut mampu menjaga kualitas layanan sekaligus meningkatkan efisiensi biaya.
Baca Juga: Pasar Seni Global Kembali Bergairah, Penjualan Tembus US$ 59,6 Miliar pada 2025 Momentum pengembangan AI juga bertepatan dengan upaya pemerintah menyusun regulasi yang lebih komprehensif. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) tengah menyiapkan Peraturan Presiden mengenai Peta Jalan AI Nasional yang ditargetkan terbit pada 2026, lengkap dengan pedoman etika dan keamanan AI. Regulasi tersebut diharapkan menjadi landasan bagi perusahaan dalam mengembangkan sekaligus mengelola teknologi AI secara bertanggung jawab. Deloitte menilai operator telekomunikasi yang terlambat mengintegrasikan AI ke dalam proses bisnis berisiko tertinggal dalam persaingan. Penyebabnya bukan karena keterbatasan akses terhadap teknologi, melainkan karena belum mampu menerapkan AI secara konsisten dan terintegrasi dalam operasional perusahaan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News