KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar keuangan global kembali berada dalam tekanan setelah aksi jual surat utang pemerintah Amerika Serikat (AS) semakin intensif pada Selasa (18/8/2026). Imbal hasil US Treasury tenor 30 tahun melonjak ke level tertinggi dalam hampir dua dekade, seiring meningkatnya kekhawatiran bahwa eskalasi perang di Timur Tengah dapat memicu tekanan inflasi baru. Tekanan tersebut turut merembet ke pasar saham dan obligasi global. Di sisi lain, harga minyak mentah melanjutkan penguatan untuk hari ketiga berturut-turut setelah sinyal terbaru dari Washington dan Teheran kembali meredupkan harapan terhadap berakhirnya konflik dalam waktu dekat.
Harga minyak Brent bahkan mencapai level tertinggi sejak akhir Juli. Kondisi ini menunjukkan bahwa ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih menjadi salah satu sumber risiko utama bagi pasar global karena eskalasi konflik berpotensi memengaruhi harga minyak, obligasi, mata uang, hingga saham. Kenaikan imbal hasil obligasi AS juga menghapus ketenangan pasar yang sempat muncul setelah sejumlah data ekonomi AS terbaru menunjukkan pelemahan. Data tersebut sebelumnya membantu meredakan kekhawatiran investor terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed).
Baca Juga: Harga Minyak Brent Naik Tipis ke US$ 90 Per Barel, Harapan Damai AS-Iran Memudar Berdasarkan CME FedWatch, pelaku pasar kini melihat peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan September sebesar 34,6%, turun dari 48,4% sepekan sebelumnya. Namun, George Bory, Chief Investment Strategist for Fixed Income di Allspring Global Investments, menilai eskalasi konflik dapat kembali mengubah arah kebijakan moneter AS. "Jika keadaan berantakan dan konflik meningkat, penyesuaian di tengah siklus akan diperlukan," kata Bory.
Imbal hasil US Treasury melonjak
Mengutip Reuters, imbal hasil US Treasury tenor 30 tahun naik 1,42 basis poin menjadi 5,3232%. Level tersebut merupakan yang tertinggi dalam hampir 20 tahun. Sementara itu, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun naik 0,99 basis poin menjadi 4,7339%. Kenaikan imbal hasil juga terjadi di sejumlah pasar obligasi pemerintah utama dunia. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun mendekati level 3%, yang akan menjadi level tertinggi sejak pertengahan 1990-an. Di kawasan Eropa, imbal hasil obligasi negara-negara zona euro juga bertahan di sekitar level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Lonjakan imbal hasil obligasi menjadi perhatian investor karena dapat meningkatkan biaya pendanaan perusahaan. Kondisi tersebut terutama menjadi tantangan bagi perusahaan padat modal yang membutuhkan investasi besar, termasuk perusahaan yang tengah mengembangkan infrastruktur kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Baca Juga: Laba Xiaomi Anjlok 42,6% di Kuartal II-2026, Tekanan Biaya Komponen Pasar saham ikut tertekan
Tekanan di pasar obligasi turut memengaruhi sentimen di pasar saham. Indeks STOXX 600 Eropa turun 0,52% menjadi 653,01. Di Wall Street, kontrak berjangka yang melacak indeks S&P 500 dan Nasdaq 100 masing-masing turun 0,50% dan 1,22%. Sementara itu, indeks MSCI yang mengukur kinerja saham global turun 0,26% menjadi 1.153,64. Kenaikan imbal hasil obligasi dapat membuat saham menjadi relatif kurang menarik bagi investor karena surat utang menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi. Pada saat yang sama, biaya pinjaman yang meningkat dapat menekan prospek perusahaan yang membutuhkan belanja modal besar. Indeks Volatility Index (VIX), yang kerap disebut sebagai indikator ketakutan Wall Street, juga naik ke level tertinggi dalam lebih dari sepekan. "Situasi yang belum terselesaikan tersebut menunjukkan pentingnya mempertahankan lindung nilai terhadap kemungkinan kembali meningkatnya volatilitas harga minyak dan inflasi," tulis para strategis Gramercy Funds Management.
Investor menanti arah kebijakan The Fed
Perhatian investor selanjutnya tertuju pada risalah pertemuan kebijakan moneter The Fed yang dijadwalkan dirilis pada Rabu (19/8). Risalah tersebut akan menjadi salah satu petunjuk mengenai pandangan para pejabat bank sentral AS terhadap perkembangan ekonomi dan arah suku bunga ke depan. Investor juga akan mencermati simposium ekonomi tahunan Jackson Hole yang berlangsung pekan depan. Pertemuan tersebut diharapkan memberikan gambaran lebih lanjut mengenai bagaimana para pembuat kebijakan The Fed menilai data ekonomi terbaru.
Baca Juga: Rusia dan Korea Utara Dorong Tatanan Dunia Baru, Kerja Sama Militer Makin Erat Jonas Goltermann, Chief Markets Economist di Capital Economics, mengatakan risalah rapat The Fed kini menjadi semakin penting untuk membaca perbedaan pandangan di antara para pembuat kebijakan.
"Mengingat berkurangnya informasi yang dapat diperoleh dari pernyataan kebijakan FOMC dan konferensi pers Ketua The Fed (Kevin) Warsh, risalah dari pertemuan FOMC bisa dibilang menjadi semakin penting dalam menyampaikan keseimbangan pandangan di antara para pembuat kebijakan," ujar Goltermann. FOMC atau Federal Open Market Committee merupakan badan di dalam The Fed yang bertanggung jawab menetapkan kebijakan suku bunga. Perkembangan tersebut membuat pasar global menghadapi kombinasi risiko geopolitik dan moneter. Jika konflik di Timur Tengah kembali meningkat dan mendorong harga minyak lebih tinggi, tekanan inflasi dapat kembali menguat dan memperumit langkah The Fed dalam menentukan arah suku bunga. Dengan demikian, pergerakan harga minyak, imbal hasil US Treasury, serta sinyal kebijakan The Fed akan menjadi sejumlah faktor utama yang dicermati investor dalam beberapa hari mendatang.