KONTAN.CO.ID - Saham-saham teknologi kembali menguat pada perdagangan Selasa (22/9/2026), didorong kebangkitan optimisme terhadap kecerdasan buatan (AI). Namun, penguatan pasar saham global masih terbatas karena harga minyak kembali menembus US$100 per barel dan imbal hasil obligasi bergerak naik. Sentimen positif terhadap sektor teknologi muncul setelah popularitas asisten AI Muse milik Meta Platforms meningkat sejak diluncurkan dua pekan lalu.
Saham Meta melonjak lebih dari 11% pada perdagangan Senin (21/9), menjadi kenaikan harian terbesar sejak April 2024.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik, Pasar Tunggu Sinyal Pembicaraan AS-Iran Kenaikan saham Meta turut mengangkat sejumlah saham yang terkait dengan AI. Saham AMD bahkan mencatat kapitalisasi pasar mencapai US$1 triliun. Sementara saham Intel dan Arm Holdings masing-masing melonjak 12,2% dan 17%. Melansir
Reuters, Direktur Riset XTB Kathleen Brooks mengatakan, perkembangan tersebut menunjukkan permintaan terhadap perangkat dan layanan AI berbiaya tinggi masih cukup kuat, seiring besarnya belanja modal yang digelontorkan perusahaan teknologi besar. “Jika Muse digunakan secara luas, hal ini dapat meningkatkan permintaan terhadap perangkat AI lainnya dan mendorong sektor AI setelah mengalami beberapa bulan yang sulit,” ujar Brooks. Namun, penguatan saham teknologi belum sepenuhnya mendorong pasar saham global. STOXX 600 di Eropa turun 0,2% pada Selasa setelah menguat 1% pada sesi sebelumnya. Kontrak berjangka Nasdaq dan S&P 500 juga masing-masing turun sekitar 0,1%, mengindikasikan pembukaan pasar saham AS yang cenderung melemah.
Baca Juga: Bertemu Donald Trump Pekan Ini, Xi Jinping Akan Desak AS Stop Jual Senjata ke Taiwan Pasar menanti Trump-Xi Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian ke pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pada pekan ini. Pertemuan tersebut menjadi perhatian investor karena kedua negara masih menghadapi ketidakpastian terkait hubungan dagang. Investor mencermati peluang perpanjangan gencatan perdagangan sekaligus potensi kerja sama di bidang kecerdasan buatan.
Baca Juga: Kanada: Perundingan Dagang dengan Filipina & ASEAN Sudah 90%, Target Rampung November Strategis Deutsche Bank Jim Reid mengatakan, salah satu perhatian utama pasar adalah perkembangan hubungan dagang AS-China ketika kesepakatan gencatan perdagangan yang berlaku saat ini berakhir pada November. “Meski nada pembicaraan secara umum masih positif, belum ada kesepakatan yang tercapai,” kata Reid. Di pasar komoditas, harga minyak kembali naik. Kontrak berjangka Brent menguat 1,4% menjadi US$101,67 per barel setelah sehari sebelumnya anjlok lebih dari 3% dan sempat turun di bawah US$100 untuk pertama kalinya dalam dua pekan. Kenaikan harga minyak kembali menambah tekanan terhadap pasar karena harga Brent masih mencatat kenaikan sekitar 12% sepanjang September. Tekanan bahkan terlihat lebih kuat di pasar fisik. Harga beberapa jenis minyak mentah untuk pengiriman segera di Eropa barat laut telah menembus US$130 per barel, atau naik hampir 50% sepanjang September.
Baca Juga: Awan Gelap Bisnis Barang Mewah Menggelayuti Pelaksanaan Ajang Fashion Week Global Ekspektasi kenaikan suku bunga Kenaikan harga energi juga membuat investor kembali memperhitungkan potensi kenaikan suku bunga oleh sejumlah bank sentral utama. Kondisi tersebut menopang dolar AS, tetapi sekaligus mendorong kenaikan imbal hasil obligasi global. Dolar AS menguat terhadap yen Jepang sebesar 0,26% menjadi 157,7 yen per dolar AS, mendekati level tertinggi dalam tiga pekan. Penguatan dolar terjadi setelah dukungan terhadap yen melemah menyusul keputusan Bank of Japan (BOJ) menaikkan suku bunga pada pekan lalu ke level tertinggi dalam 31 tahun. Dua suara berbeda dalam keputusan tersebut serta minimnya sinyal pengetatan kebijakan lebih lanjut membuat yen kembali tertekan.
Baca Juga: Ekspansi Alibaba: Dari Cip Paling Canggih di China Hingga Program AI Superkuat Kepala Strategi Pasar Ebury Matthew Ryan mengatakan, intervensi valuta asing saja tidak cukup untuk menopang mata uang Jepang jika tidak dibarengi respons kebijakan moneter yang lebih kuat. Sementara itu, Federal Reserve AS telah menaikkan suku bunga pada pekan lalu dan memperingatkan bahwa upaya mengendalikan inflasi belum selesai. Kondisi tersebut membuat peluang pengetatan kebijakan lanjutan tetap terbuka. Indeks dolar AS yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama berada di dekat level tertinggi dalam tujuh pekan. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun juga naik menjadi 4,969%, mendekati level tertinggi 16 tahun yang tercatat pada Oktober 2023.