KONTAN.CO.ID - Pasar keuangan global bergerak melemah pada perdagangan Rabu (29/7/2026), dipicu kembali memanasnya konflik di Timur Tengah serta meningkatnya kehati-hatian investor menjelang keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang dijadwalkan diumumkan pada hari yang sama. Melansir
Reuters, indeks saham Wall Street dibuka di zona merah, sementara harga minyak dan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) justru menguat setelah pertempuran dalam konflik Iran kembali berkobar.
Baca Juga: Stok Minyak AS Anjlok 7,2 Juta Barel, Tekanan Harga Minyak Kembali Menguat Pelaku pasar secara umum memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya. Namun, berdasarkan data CME FedWatch, pasar masih memperhitungkan peluang sekitar 34% bagi The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga. Ekspektasi tersebut didorong oleh lonjakan harga minyak yang memicu kekhawatiran inflasi akan kembali meningkat dan tetap berada di atas target tahunan The Fed sebesar 2%. Bahkan, pasar kini telah sepenuhnya memperhitungkan kenaikan suku bunga pada pertemuan September mendatang. Chief Economist FHN Financial Chris Low mengatakan, arah harga minyak dalam beberapa pekan ke depan akan menjadi faktor penting dalam menentukan langkah The Fed. "Jika harga minyak tetap tinggi hingga September, The Fed kemungkinan akan menilai guncangan harga energi telah berlangsung cukup lama sehingga memerlukan kenaikan suku bunga," ujarnya.
Baca Juga: Permintaan Tinggi di China, Ferrari Capai Target Kuota Penjualan EV Luce 2026 Menurut Low, pasar juga memperkirakan akan ada sejumlah pejabat The Fed yang mendorong kenaikan suku bunga pada rapat kali ini, dengan peluang yang cukup besar untuk memperoleh dukungan mayoritas. Harga minyak sendiri melonjak lebih dari 6% setelah serangan udara besar kembali terjadi di Timur Tengah, sehingga memupus harapan akan segera berakhirnya perang Iran. Kenaikan harga juga diperkuat oleh data industri yang menunjukkan penurunan persediaan minyak mentah Amerika Serikat. Di sisi lain, ketidakpastian menjelang rapat The Fed juga dipengaruhi oleh pendekatan Ketua The Fed Kevin Warsh yang dinilai lebih memilih memberikan panduan kebijakan (forward guidance) secara terbatas dibandingkan pendahulunya. Kondisi tersebut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sebesar 2,45 basis poin menjadi 4,629%, dari sebelumnya 4,604%. Sementara itu, indeks Dow Jones Industrial Average turun 1,37% menjadi 52.024,98. Indeks S&P 500 melemah 0,62% ke 7.382,73, sedangkan Nasdaq Composite terkoreksi 0,83% menjadi 24.670,21.
Baca Juga: Sepp Blatter Kritik Rencana FIFA Bentuk Anak Usaha Pengelola Piala Dunia Laporan keuangan emiten teknologi dinanti Selain menunggu keputusan The Fed, investor juga mencermati musim laporan keuangan perusahaan teknologi besar Amerika Serikat. Microsoft dan Meta dijadwalkan merilis kinerja keuangannya setelah penutupan perdagangan pada Rabu waktu setempat.
Baca Juga: Trump Siapkan Proyek US$ 22 Miliar untuk Modernisasi Bandara Dulles Selanjutnya, Amazon dan Apple akan menyampaikan laporan keuangan pada akhir pekan ini. Pasar global bergerak volatil sepanjang Juli karena investor mulai mempertanyakan keberlanjutan belanja besar-besaran untuk pengembangan kecerdasan buatan (
artificial intelligence atau AI). Kekhawatiran muncul setelah banyak perusahaan teknologi AS terus menggelontorkan miliaran dolar untuk investasi AI yang berpotensi menekan arus kas bebas (
free cash flow). Chief Market Strategist HB Wealth Gina Martin Adams mengatakan, perhatian investor kini mulai bergeser dari besarnya investasi AI menuju hasil yang dihasilkan dari investasi tersebut. "Investor ingin melihat bukti bahwa belanja modal untuk AI sudah mampu menghasilkan pendapatan saat ini, sekaligus memperkuat prospek pertumbuhan perusahaan di masa depan," ujarnya.
Baca Juga: Korea Selatan Akan Batasi Investasi ETF Saham Tunggal dengan Leverage Persaingan dari China juga menjadi perhatian pasar, baik dalam pengembangan cip semikonduktor canggih maupun peluncuran model AI berbiaya lebih rendah oleh perusahaan-perusahaan asal negeri tersebut. Ekspektasi pasar yang sangat tinggi terhadap sektor AI membuat laporan keuangan positif pun belum tentu mampu memuaskan investor. Hal itu tercermin dari saham SK Hynix yang tetap anjlok 9,61%, meskipun perusahaan berhasil membukukan lonjakan laba kuartalan hingga enam kali lipat. Tekanan tersebut turut menyeret indeks KOSPI Korea Selatan yang merosot hampir 6%, sehari setelah anjlok lebih dari 10% dan menyentuh level terendah dalam tiga bulan.
Sebagai respons atas gejolak tersebut, pemerintah Korea Selatan mengumumkan akan memperketat aturan investasi pada
exchange traded fund (ETF)
leverage saham tunggal, termasuk membatasi investasi individu maksimal 20% dari total aset investasinya.
Baca Juga: Vatikan Tunjuk Dua Uskup Baru di China, Kerja Sama dengan Beijing Berlanjut Di Eropa, indeks STOXX 600 turun 0,21%, sedangkan FTSEurofirst 300 melemah 0,28%. Sementara itu, indeks MSCI All Country World turun 0,57% dan menyentuh level terendah sejak 26 Juni.