KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar hidrogen di Indonesia dinilai masih sangat luas. Salah satu pengembangannya dapat dilakukan melalui pemanfaatan energi surya dan panas bumi (geothermal) guna mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Sebagai informasi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan, Indonesia memiliki 93 inisiatif pengembangan ekosistem hidrogen dengan potensi investasi sekitar Rp 32 triliun. Untuk mengoptimalkan pengembangan sumber energi ini, pemerintah juga melirik peluang kolaborasi dengan sejumlah perusahaan asal Amerika Serikat (AS). Pengamat minyak dan gas (migas) sekaligus Direktur Utama PT Petrogas Jatim Utama Cendana, Hadi Ismoyo melihat, inisiatif memang dapat menjadi bagian dari roadmap pengurangan emisi karbon secara signifikan, terutama apabila dikembangkan dalam skala besar.
Meskipun begitu, ia menyorot adanya kemungkinan tak semua proyek atau inisiatif tersebut dapat terimplementasikan dengan potensi investasi Rp 32 triliun.
Baca Juga: Potensi Investasi Pengembangan Hidrogen Rp 32 T, ESDM Dorong Kerja Sama dengan AS "Cukup optimistis, namun tidak semuanya akan terealisasikan," kata Hadi kepada Kontan, Minggu (4/10/2026). Bagaimanapun, ia menilai pasar hidrogen untuk menggantikan penggunaan bahan bakar fosil dalam industri sangat besar, terutama untuk mendukung pengembangan green petrochemical (petrokimia). Hadi menyebutkan salah satu pemanfaatan hidrogen yang paling prospektif adalah integrasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan hidrogen sebagai energy storage. Menurutnya, hidrogen dapat dimanfaatkan sebagai media penyimpanan energi untuk digunakan kembali sebagai sumber pembangkitan listrik, terutama untuk menggantikan pembangkit berbahan bakar diesel di wilayah 3T. Di peringkat kedua, kata Hadi, ialah pemanfaatan akses dan sumber daya geothermal untuk memproduksi green hydrogen. Ia melihat prospek positif pada pengembangan puluhan lokasi kilang hidrogen hijau (green hydrogen plant) skala kecil dan menengah yang memanfaatkan akses terhadap pasokan listrik di masing-masing wilayah. Hadi menambahkan, rencana kerja sama dengan perusahaan AS juga strategis untuk mempercepat mempercepat pengembangan ekosistem hidrogen di Tanah Air. "Amerika Serikat memiliki teknologi hidrogen yang maju dan terbukti, sehingga Indonesia tidak perlu mengulang dari nol, lebih cepat implementasinya," kata dia. Namun demikian, Hadi menegaskan tantangan utama pengembangan hidrogen saat ini adalah biaya produksi yang masih mahal.
Baca Juga: DPR Minta Investasi Hidrogen Rp32 Triliun Perkuat TKDN dan Alih Teknologi Karena itu, ia menilai diperlukan berbagai upaya untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan hidrogen. Untuk pengembangan PLTS yang terintegrasi dengan produksi hidrogen, Hadi mendorong pembangunan PLTS dalam skala besar sekaligus mengintegrasikannya dengan sektor pertanian atau peternakan, seperti yang telah dikembangkan di China. Sementara untuk panas bumi, ia memandang pengembangan sebaiknya diarahkan ke lokasi dengan sumber daya panas bumi yang besar, sehingga biaya pengembangannya dapat ditekan. "Misalnya, Sumatra memiliki potensi sekitar 9.500 megawatt (MW) dan Jawa Barat sekitar 8.000 MW," imbuh Hadi.
Hadi melanjutkan, pemerintah juga dapat mempertimbangkan pengembangan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) raksasa untuk mendukung produksi hidrogen, mengingat adanya sejumlah potensi PLTA yang dapat dikaji. Pengembangan serupa, lanjut Hadi, sudah dilakukan di Tiongkok. "Untuk Indonesia bisa membangun PLTA Mamberamo dengan potensi sekitar 24.000 MW, PLTA Kayan sekitar 13.000 MW, serta potensi PLTA di Aceh-Sumatra Utara sekitar 4.000 MW," tandas dia.
Baca Juga: Kementerian ESDM Ungkap Proyek Ekosistem Hidrogen Bisa Tarik Investasi Rp 32 Triliun Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News