Pasar IPO Kehilangan Momentum, Apa yang Menahan Calon Emiten Go Public?



 

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Aksi penawaran perdana saham alias Initial Public Offering (IPO) di pasar saham Indonesia mulai meredup. Per Juli 2026, baru ada tujuh perusahaan yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan nilai Rp 2,16 triliun. 

Angka tersebut masih jauh dari target yang dicanangkan oleh BEI. Sampai akhir 2026, BEI menargetkan akan ada 50 aksi IPO. Namun sampai semester I-2026, target tersebut baru mencapai 14%.


Pada 2025, tercatat ada 26 emiten baru yang melantai di BEI dengan total dana yang dihimpun mencapai Rp 18,11 triliun. Padahal, BEI menargetkan ada gelaran 45 perusahaan. 

Baca Juga: Baru 7 Emiten IPO per Juli 2026, BEI Ungkap Prospek Hingga Akhir Tahun

Jika ditarik setahun sebelumnya, ada 41 perusahaan yang menggelar IPO pada 2024 dengan dana segar yang berhasil terhimpun sebesar Rp 14,35 triliun. Ini masih di bawah target BEI yang mencapai 62 perusahaan. 

Artinya, sejak Prabowo Subianto menjabat sebagai presiden Indonesia pada akhir 2024 sampai saat ini terdapat 74 perusahaan tercatat baru. Angka ini masih jauh di bawah era kepemimpinan Presiden Joko Widodo. 

Sejak menjabat sebagai presiden pada akhir 2014 sampai dengan akhir 2023, total gelaran IPO mencapai 450 emiten dengan estimasi nilai yang terhimpun mencapai Rp 228 triliun.

Tren kenaikan perusahaan yang melantai di Bursa Efek Indonesia dimulai pada 2018. Di mana, pada saat itu jumlah perusahaan yang menggelar IPO mencapai 57 dengan dana yang berhasil terhimpun sebesar Rp 15,7 triliun. 

Selama enam tahun beruntun sejak 2018 sampai dengan 22, perusahaan yang IPO selalu di atas 50 perusahaan. Puncaknya ada di 2023, kala itu gelaran IPO di pasar saham Indonesia mencapai 79 emiten dengan nilai Rp 54,14 triliun. 

Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy mencermati, sepi terutama di tahun ini karena pasar saham Indonesia sedang dalam fase bearish, khususnya investor ritel yang menahan diri untuk bertransaksi. 

“Khususnya ritel banyak yg menahan diri untuk bertransaksi atau mengurangi transaksi karena sulitnya meraih keuntungan saat pasar sedang bearish. Ini karena investor karenanya jadi jauh lebih selektif,” katanya kepada Kontan, Kamis (6/8). 

Baca Juga: Kinerja Emiten BUMN Belum Terdorong Peran Danantara, Simak Prospeknya

Selain itu, kata Budi, banyak calon emiten menghadapi perbedaan ekspektasi valuasi dengan investor, sementara ketidakpastian ekonomi, fluktuasi rupiah, serta rendahnya likuiditas. 

“Dan kurang baiknya kinerja sejumlah saham pasca-IPO membuat perusahaan memilih menunda pencatatan,” tuturnya. 

Untuk investor asing, lanjut Budi, persoalannya terutama menyangkut kepercayaan terhadap kualitas dan integritas pasar. Sorotan mengenai transparansi kepemilikan saham hingga kejelasan free float

Menurutnya, kondisi tersebut menyebabkan sebagian investor institusi asing mengambil posisi menunggu dan calon emiten besar enggan masuk ketika valuasi pasar belum optimal. 

“Jadi, masalahnya bukan pasar Indonesia sama sekali tidak menarik, tetapi premi risiko yang diminta investor menjadi lebih tinggi,” ucap Budi. 

Budi menambahkan regulasi yang berlebihan juga menjadi penyebab sepinya IPO sehingga yang harus dihindari adalah perubahan aturan yang terlalu sering atau tidak konsisten. 

Baca Juga: Yield SBN Diprediksi Bergerak Sideways, Simak Strategi Yang Bisa Dilakukan Investor

“Dengan baru tujuh IPO dan hanya empat perusahaan dalam pipeline sampai akhir Juli, target 50 perusahaan sudah tidak realistis. Target yang lebih wajar adalah sekitar 15–20 IPO sampai akhir 2026,” jelasnya. 

Budi menekankan fokus IPO pada tahun ini harus berada pada kualitas dan fundamental yang solid. Menurutnya, lebih baik memperoleh 15 emiten berkualitas dan likuid daripada 50 emiten kecil yang likuiditasnya menghilang setelah IPO.

Pengamat Pasar Modal Irwan Ariston menimpali sepinya gelaran IPO juga disebabkan oleh kondisi ekonomi makro Indonesia masih meragukan di mata investor terkait kebijakan alokasi anggaran yang belum positif mendukung ekonomi. 

“Di sisi emiten melihat kondisi pasar saham saat ini yang belum kondusif, tidak mendukung bisa terbentuknya harga bagus saat IPO sehingga mereka cenderung menunda atau mencari alternatif sumber pendanaan,” katanya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News