Pasar Kerja AS Diprediksi Mulai Pulih



KONTAN.CO.ID - ​WASHINGTON. Pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS) diperkirakan mulai bangkit pada Agustus 2026. Namun, pemulihan tersebut diprediksi masih terbatas akibat berakhirnya status perlindungan sementara bagi imigran Haiti yang berpotensi menekan jumlah pekerja.

Dalam survei Reuters terhadap ekonom, tenaga kerja nonpertanian (nonfarm payrolls) diperkirakan bertambah 56.000 pada Agustus. Angka ini berbalik dari penurunan 23.000 pekerjaan pada Juli. Sementara itu, tingkat pengangguran diperkirakan bertahan di 4,1%.

Laporan Reuters (4/9), pemulihan terutama diperkirakan berasal dari sektor pendidikan pemerintah daerah. Sektor ini kehilangan 49.600 pekerjaan pada Juli sehingga pembalikan tren musiman pada Agustus berpotensi mengangkat angka tenaga kerja. Sektor rekreasi dan perhotelan juga diperkirakan mulai pulih setelah mencatat penurunan pekerjaan selama dua bulan berturut-turut.


Meski demikian, pasar kerja AS masih menghadapi sejumlah tekanan. Berakhirnya Temporary Protected Status (TPS) bagi ratusan ribu imigran Haiti dapat mengurangi jumlah tenaga kerja, terutama pada sektor jasa yang padat karya seperti layanan kesehatan. Ekonom Morgan Stanley memperkirakan pencabutan TPS dapat mengurangi payrolls sekitar 15.000 pekerjaan, meski dampaknya berpotensi lebih besar.

Secara umum, pasar tenaga kerja AS kini bergerak dalam pola “slow hire, slow fire”, yakni perusahaan cenderung berhati-hati baik dalam merekrut maupun melakukan pemutusan hubungan kerja. Perlambatan juga terjadi setelah momentum perekrutan melemah akibat tekanan harga minyak, gangguan rantai pasok, serta dampak tarif impor AS.

Baca Juga: Micro-Drama Mengubah Industri Hiburan

Kondisi pasar kerja yang melambat belum tentu mendorong kenaikan pengangguran secara tajam. Berkurangnya pasokan tenaga kerja akibat pensiun, populasi yang menua, serta penurunan arus imigrasi turut menjaga tingkat pengangguran tetap rendah. Ekonom memperkirakan jumlah pekerjaan yang perlu diciptakan AS untuk mengimbangi pertumbuhan penduduk usia kerja kini hanya sekitar nol hingga 50.000 pekerjaan per bulan.

Bagi pasar keuangan, data ketenagakerjaan Agustus menjadi salah satu indikator penting untuk membaca arah kebijakan Federal Reserve (The Fed). Namun, laporan tersebut diperkirakan belum menjadi penentu utama keputusan suku bunga dalam pertemuan 15-16 September. Pasar justru akan mencermati data inflasi konsumen AS yang dirilis pekan depan.

Tekanan inflasi dari pasar tenaga kerja juga mulai mereda. Pertumbuhan upah tahunan diperkirakan turun menjadi 3% pada Agustus dari 3,2% pada Juli. Gubernur The Fed Christopher Waller mengatakan dirinya cenderung mendukung mempertahankan suku bunga apabila data mendatang menunjukkan tekanan inflasi terus mereda.

Sementara itu, imbal hasil US Treasury masih meningkat akibat kekhawatiran inflasi dan ketidakpastian arah kebijakan The Fed. Kenaikan imbal hasil tersebut turut mendorong suku bunga hipotek tetap 30 tahun ke level tertinggi lebih dari setahun, yakni 6,71%. Kondisi ini berpotensi semakin menekan pasar perumahan AS yang masih lesu.

Ekonom Boston College Brian Bethune menilai ketidakpastian kebijakan The Fed menjadi salah satu faktor yang mendorong kenaikan suku bunga jangka panjang. Jika kondisi tersebut berlanjut, biaya pinjaman yang lebih tinggi berpotensi memperlambat aktivitas ekonomi AS lebih jauh.

Baca Juga: Malaysia Tetapkan Keadaan Darurat di Serian Negara Bagian Sarawak Imbas Kabut Asap