Saat Pasar Kerja AS Kembali Bernapas



KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Setelah beberapa bulan berjalan tertatih, pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS) akhirnya menunjukkan tanda kehidupan. Pada Agustus 2026, perusahaan-perusahaan kembali membuka lebih banyak lapangan kerja, mengembalikan optimisme bahwa ekonomi AS masih memiliki tenaga untuk bertahan hingga penghujung tahun.

Departemen Tenaga Kerja AS mencatat, nonfarm payrolls bertambah 162.000 pekerjaan pada Agustus. Angka ini bukan sekadar lebih tinggi dari perkiraan ekonom sebesar 56.000 pekerjaan, tetapi juga menjadi pertumbuhan terbesar dalam lima bulan.

Pemulihan tersebut datang dari sektor yang sempat menjadi sumber tekanan. Lapangan kerja di sektor rekreasi dan perhotelan melonjak 62.000, dengan restoran dan bar menyumbang tambahan 59.000 pekerjaan. Pendidikan pemerintah daerah juga kembali menggeliat dengan penambahan 42.000 pekerjaan, setelah sebelumnya kehilangan tenaga kerja pada Juli.


Geliat pasar kerja bahkan merembet ke sektor lain. Manufaktur menambah 16.000 pekerjaan, konstruksi tumbuh 22.000 pekerjaan, sementara layanan kesehatan menambah 13.000 pekerjaan. Secara keseluruhan, rata-rata pertumbuhan pekerjaan dalam tiga bulan hingga Agustus mencapai 71.000 per bulan.

Namun, di balik angka-angka tersebut, pasar kerja AS belum sepenuhnya kembali ke masa kejayaannya. Sektor informasi kehilangan 23.000 pekerjaan dan industri aktivitas keuangan memangkas 11.000 posisi. Pengangguran jangka panjang juga meningkat, dengan jumlah orang yang tidak bekerja selama sedikitnya 27 minggu bertambah 159.000.

Angka 4,1% menjadi bagian lain dari cerita. Tingkat pengangguran tetap bertahan pada level tersebut meski angkatan kerja bertambah 683.000 orang. Tingkat partisipasi angkatan kerja bahkan naik menjadi 61,6%.

Baca Juga: Harga Minyak Naik Dalam Sepekan, Dipicu Serangan AS-Iran

Ada pula kabar yang sedikit menenangkan bagi The Fed. Penguatan lapangan kerja tidak diikuti akselerasi upah. Pertumbuhan upah tahunan justru melambat menjadi 3,1% pada Agustus, dari 3,2% pada Juli. Artinya, pasar kerja yang lebih kuat belum serta-merta menjadi bahan bakar baru bagi inflasi.

Tetapi justru di sinilah persoalan kebijakan moneter kembali mengemuka. Data pekerjaan yang jauh lebih kuat dari perkiraan membuat pasar kembali menghitung kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga. Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas kenaikan 25 basis poin pada pertemuan 15-16 September naik menjadi sekitar 62%, dari 49% sebelumnya.

Pilihan The Fed belum sepenuhnya jelas. Gubernur The Fed Christopher Waller sebelumnya mengatakan dirinya cenderung mendukung mempertahankan suku bunga jika data berikutnya menunjukkan tekanan inflasi terus mereda. Karena itu, laporan inflasi konsumen atau CPI Agustus yang akan terbit pekan depan kini menjadi potongan puzzle berikutnya.

Pasar keuangan pun mulai bereaksi. Imbal hasil US Treasury naik dan dolar AS menguat, sementara saham Wall Street melemah. Kenaikan yield bahkan telah mendorong suku bunga hipotek tetap 30 tahun ke 6,71%, level tertinggi dalam lebih dari satu tahun.

Di tengah semua itu, pasar kerja AS juga menghadapi persoalan struktural. Kebijakan pengetatan imigrasi pemerintahan Donald Trump, termasuk deportasi dan pencabutan status perlindungan sementara, membuat pasokan tenaga kerja semakin terbatas. Ekonom memperkirakan AS kini hanya membutuhkan tambahan nol hingga 50.000 pekerjaan per bulan untuk mengimbangi pertumbuhan penduduk usia kerja.

Maka, lonjakan pekerjaan Agustus bukan berarti cerita pasar tenaga kerja AS telah selesai. Sebaliknya, angka tersebut menempatkan The Fed pada persimpangan baru: mempertahankan suku bunga demi memastikan inflasi terus turun, atau kembali mengetatkan kebijakan karena pasar kerja ternyata masih cukup kuat.

Baca Juga: Harga Gandum Tertekan, Pasar Cermati Peluang Damai Rusia-Ukraina