KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar keuangan Amerika Latin menguat pada perdagangan Rabu (4/11/2026), setelah Partai Demokrat berhasil menguasai dua kamar Kongres Amerika Serikat (AS), yakni Senat dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Kemenangan tersebut melemahkan dolar AS dan mendorong minat investor terhadap aset berisiko di negara berkembang. Mengutip
Reuters, indeks mata uang Amerika Latin (MSCI Latin American Currency Index) naik 0,8%. Sementara itu, indeks saham kawasan tersebut menguat 1,7%, setelah sebelumnya sempat menyentuh level terendah sejak Januari.
Kemenangan Demokrat di Senat dan DPR AS dinilai berpotensi membatasi ruang gerak kebijakan fiskal dan tarif pemerintahan AS.
Baca Juga: Wall Street Menguat Usai Demokrat Kuasai Kongres, Saham Pusat Data Anjlok Kondisi ini membuka peluang tekanan inflasi yang lebih rendah serta suku bunga AS yang lebih rendah dibandingkan perkiraan sebelumnya. Direktur Pelaksana Riset Risiko Geopolitik dan Strategi Saham Pasar Berkembang Tellimer Research, Hasnain Malik, mengatakan kemenangan Demokrat dapat membatasi kebijakan fiskal dan tarif pemerintah AS. "Hal ini berarti tekanan inflasi berpotensi lebih rendah dan suku bunga AS juga bisa lebih rendah," ujarnya. Sentimen tersebut tercermin dari pelemahan indeks dolar AS sebesar 0,3% terhadap sejumlah mata uang utama dunia. Imbal hasil US Treasury juga turun seiring meningkatnya ekspektasi investor terhadap kebuntuan politik di Washington. Pelemahan dolar AS dan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS umumnya menguntungkan pasar negara berkembang. Kondisi tersebut dapat melonggarkan tekanan pembiayaan, menurunkan biaya pembayaran utang, sekaligus meningkatkan daya tarik mata uang negara berkembang yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.
Baca Juga: Demokrat Kuasai Kongres AS, Kebijakan Tarif Trump Sulit Dibatalkan Di Brasil, indeks saham Bovespa menguat 1,1% dan berpeluang mengakhiri tren pelemahan selama enam sesi perdagangan berturut-turut. Real Brasil juga menguat 0,65% menjadi 5,4544 per dolar AS menjelang pengumuman kebijakan suku bunga bank sentral negara tersebut. Keputusan bank sentral Brasil menjadi perhatian investor setelah lima kali berturut-turut memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin. Investor mencermati apakah perubahan lanskap politik AS akan memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter Brasil. Namun, prospek mata uang real Brasil masih dibayangi ketidakpastian kebijakan fiskal setelah Presiden Luiz Inacio Lula da Silva kembali terpilih. Hasil survei
Reuters terhadap para ahli strategi valuta asing menunjukkan prospek real melemah akibat kekhawatiran investor terhadap kemampuan pemerintah melakukan penyesuaian fiskal. Investor menilai Lula berpotensi tidak melakukan pengetatan anggaran yang cukup untuk mengatasi persoalan defisit struktural Brasil, terutama setelah berbagai janji belanja disampaikan selama kampanye pemilu. Sementara itu, pasar saham dan mata uang Meksiko juga mencatat penguatan. Indeks saham acuan Meksiko naik 0,76% setelah sempat menyentuh level tertinggi sejak Maret. Peso Meksiko menguat 1,38% menjadi 18,561 per dolar AS.
Baca Juga: PLN Indonesia Power Lirik Amerika Latin dan Karibia untuk Ekspansi Bisnis Global Direktur Perdagangan Monex, Juan Perez, menilai kemenangan Demokrat dapat membatasi agenda ekonomi pemerintahan AS, termasuk kebijakan tarif perdagangan. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi sentimen positif bagi peso Meksiko karena perubahan terhadap perjanjian perdagangan Amerika Serikat-Meksiko-Kanada (USMCA) membutuhkan persetujuan Kongres AS. Jika Kongres menolak perubahan yang berisiko mengganggu hubungan perdagangan dengan Meksiko, ketidakpastian investasi dan tekanan terhadap peso berpotensi berkurang. Penguatan juga terjadi pada pasar keuangan Chile. Peso Chile naik 1,64%, sedangkan indeks saham negara tersebut melonjak 2,52%.
Meski demikian, risalah rapat bank sentral Chile menunjukkan bahwa opsi mempertahankan suku bunga maupun menaikkannya sebesar 25 basis poin sempat dipertimbangkan.
Baca Juga: Demokrat Berpeluang Kuasai Kongres AS, Saham AI Terancam Tertekan? Pada pekan lalu, bank sentral akhirnya sepakat mempertahankan suku bunga acuan di level 4,5%. Berbeda dengan mayoritas pasar di kawasan tersebut, indeks saham Kolombia justru melemah 1,16%. Penurunan harga minyak mentah Brent lebih dari 8% menekan pasar saham negara tersebut yang memiliki ketergantungan pada ekspor minyak.