KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar keuangan Indonesia dinilai tetap menunjukkan ketahanan (
resilience) luar biasa di tengah gejolak eksternal, sehingga arus modal asing kembali berpeluang masuk seiring meredanya ketidakpastian suku bunga global. Meskipun pasar keuangan global dihadapkan pada ketatnya kebijakan moneter, pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), serta lonjakan yield instrumen utang, fondasi makroekonomi Indonesia dinilai cukup solid untuk menyerap gejolak tersebut. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat mencapai 5,4% pada semester I 2026, dan diproyeksikan bertahan di level 5,4% hingga akhir tahun serta 5,2% pada 2027.
Baca Juga: Akuisisi Sports Direct Jadi Katalis MAPA, Cek Prospek dan Rekomendasinya Solidnya pertumbuhan ekonomi didukung oleh defisit anggaran pemerintah yang terjaga disiplin, dengan estimasi di bawah batas 3% dari PDB, yakni sekitar 2,4% hingga 2,9%. Di saat yang sama, laju inflasi terjaga rendah di kisaran 3,2% tahun ini dan diperkirakan melandai ke 2,7% pada tahun depan, sehingga Bank Indonesia (BI) diprediksi hanya perlu menaikkan suku bunga acuan BI Rate sebanyak satu kali lagi dari posisi 5,75%. Chief Asia Economist HSBC Frederic Neumann menjelaskan bahwa daya tahan ekonomi Indonesia membuat risiko kenaikan suku bunga global tidak menjadi hambatan besar bagi pasar domestik maupun arus masuk modal asing. "Dalam beberapa pekan terakhir, kita telah melihat kembalinya arus masuk modal ke Indonesia karena investor asing terdorong oleh stabilitas makroekonomi yang kita lihat di negara ini," ujar Frederic dalam acara Media Briefing HSBC Indonesia Summit 2026, Selasa (29/9/2026). Penyesuaian indikator risiko, seperti peningkatan yield SBN dan kenaikan premi risiko (
Credit Default Swap/CDS) dipandang sebagai respons wajar pasar terhadap penguatan dolar AS.
Baca Juga: Beredar Kabar Bakal Diakuisisi, Ini Jawaban BLTA Stabilitas fiskal dan dorongan kredit perbankan yang terus berakselerasi menjadi bantalan utama yang menjaga keyakinan investor portofolio, baik di pasar obligasi negara maupun pasar saham. Di sisi pasar modal, Head of Equity Strategy Asia Pacific HSBC Global Investment Research Herald van der Linde mengungkapkan bahwa pasar saham Indonesia saat ini sangat murah karena valuasi telah menyentuh level terendah yang belum pernah terlihat sejak 2009. Kondisi tersebut menawarkan titik masuk (
entry point) yang makin menarik bagi pemodal internasional, terutama ketika titik puncak yield obligasi AS mulai terkonfirmasi dan euforia investasi pada sektor AI global mulai mereda. "Jika kita mendapat gambaran bahwa imbal hasil obligasi telah mencapai puncaknya, pasar saham diperkirakan bakal berkinerja sangat baik, dan Indonesia dapat berkinerja sangat bagus dalam lingkungan tersebut," tutur Herald.
Baca Juga: Aturan Baru Jasa Tambang, Dampaknya akan Berbeda ke Emiten Minerba Ke depan, stabilitas nilai tukar rupiah di rentang Rp 18.000 per dolar AS dan meredanya tekanan inflasi pangan diproyeksikan akan memicu rotasi arus modal asing kembali ke pasar berkembang (
emerging markets). Kombinasi antara pertumbuhan laba korporasi domestik yang stabil di kisaran 10%, ketahanan sektor perbankan, serta valuasi saham yang atraktif menjadi landasan utama bagi pemulihan pasar keuangan Indonesia secara bertahap. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News