KONTAN.CO.ID - TOKYO. Saham dan obligasi Jepang anjlok ke titik terendah multi-bulan pada Senin (23/3/2026), karena eskalasi perang di Timur Tengah memicu kekhawatiran inflasi dan kekhawatiran akan perlambatan ekonomi. Indeks Nikkei merosot hingga 5% di awal sesi, menghapus keuntungan yang diraihnya tahun ini. Indeks Nikkei berakhir merosot 3,48% kelevel 51.515,04, Senin (23/3/2026). Indeks Topix yang lebih luas turun 3,41% menjadi 3.486,44. Kedua indeks tersebut berakhir pada penutupan terendah sejak 8 Januari 2026.
Baca Juga: Indeks Kospi Ditutup Anjlok 6,49%, Won Capai Level Terendah dalam 17 Tahun Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah Jepang 10 tahun melonjak hingga 6 basis poin menjadi 2,320%, titik tertinggi sejak 21 Januari, dan terakhir diperdagangkan pada 2,305%. Imbal hasil obligasi bergerak berlawanan arah dengan harga. "Ketidakpastian atas perang di Timur Tengah mendorong investor untuk lebih berhati-hati dalam memiliki aset berisiko," kata Masahiro Ichikawa, kepala strategi pasar, Sumitomo Mitsui DS Asset Management seperti dikutip
Reuters. "Tergantung berapa lama perang berlanjut, Nikkei bisa jatuh di bawah level 50.000," imbuhnya Indeks Nikkei melonjak ke rekor tertinggi ke level 59.332,43 bulan lalu dan berada di jalur untuk menembus angka 60.000, didorong oleh ekspektasi bahwa rencana stimulus Perdana Menteri Sanae Takaichi akan mempercepat pertumbuhan perusahaan. Indeks tersebut berakhir lebih dari 13% lebih rendah dari level tersebut pada hari Senin, karena Selat Hormuz, yang memasok 90% minyak Jepang, tetap tertutup.
Iran mengancam akan menyerang sistem energi dan air negara-negara tetangganya di Teluk jika Presiden AS Donald Trump menindaklanjuti ancamannya untuk menyerang jaringan listrik Iran dalam 48 jam, memadamkan harapan akan berakhirnya perang lebih awal, yang kini memasuki minggu keempat. Trump mengatakan pada hari Minggu bahwa Iran memiliki waktu 48 jam untuk membuka selat vital tersebut, yang secara efektif tertutup bagi sebagian besar kapal. Inflasi dapat menambah tekanan pada bank sentral global untuk menaikkan suku bunga, yang berdampak negatif terhadap pasar saham, kata Shuutarou Yasuda, analis pasar di Tokai Tokyo Intelligence.
Baca Juga: Pasar Saham Dubai Rontok usai Iran Ancam Serang Infrastruktur Energi Negara Teluk