Pasar Kondominium Jakarta Masih Tertekan dan Minim Proyek Baru



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar kondominium di Jakarta masih menghadapi tekanan sepanjang 2025. 

Tren penurunan peluncuran proyek baru dan penjualan unit yang sudah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir belum menunjukkan tanda pemulihan signifikan. 

JLL Indonesia mencatat, pasar kondominium mengalami perlambatan musiman pada akhir tahun di kuartal IV-2025, dengan penjualan menurun dibanding kuartal sebelumnya dan mencapai level terendah sepanjang tahun.


Head of Research JLL Indonesia, James Taylor menjelaskan bahwa dalam periode 10 tahun sejak 2015, grafik peluncuran proyek baru dan penjualan unit menunjukkan tren menurun secara tahunan maupun kuartalan. Kondisi tersebut berlanjut hingga kuartal IV-2025.

Baca Juga: Kualitas Jaringan 5G Operator Tergantung Peran Spektrum dan Kebijakan Pemerintah

“Pada kuartal IV 2025, yang biasanya memang kuartal yang cukup menantang tidak ada peluncuran baru, dan penjualan menurun secara tahunan. Artinya, pasar kondominium sedang menghadapi tantangan,” ungkap James, dalam media briefing, beberapa waktu lalu. 

Pada kuartal IV-2025 tidak terdapat satu pun peluncuran proyek baru. Bahkan sepanjang tahun, hanya ada satu proyek kondominium baru yang diluncurkan, yakni pada kuartal III-2025.

Pengembang lebih memfokuskan upaya pada penjualan stok eksisting dibandingkan meluncurkan menara atau proyek baru.

Dari sisi harga, pasar kondominium juga relatif stagnan. Sepanjang 2025, tidak terlihat kenaikan harga yang signifikan. 

Secara rata-rata, tingkat penjualan kondominium tercatat sekitar 56% dari total unit yang dipasarkan. Artinya, dari seluruh unit yang dipasarkan, hanya sekitar separuh yang berhasil terserap pasar. 

Meski demikian, JLL Indonesia melihat tetap ada peluang pada proyek-proyek dengan positioning yang tepat. 

Baca Juga: Hadapi Pembatasan Lebaran dan Uji Coba ODOL, Ini Strategi yang Disiapkan Crystalin

Senior Director of Strategic Consulting JLL Indonesia, Milda Abidin, menambahkan beberapa proyek yang berada dekat pusat aktivitas seperti kawasan bisnis atau universitas masih mencatatkan pergerakan, terutama karena menyasar pasar sewa dan investor dengan target spesifik.

“Jadi, untuk proyek-proyek dengan target pasar yang jelas, kami melihat aktivitas tetap berjalan meskipun tren secara umum menurun,” tambahnya. 

Selain itu, fleksibilitas pembiayaan juga menjadi faktor penting, terutama untuk kelas menengah. Seperti diketahui, sekitar 60% pendapatan masyarakat berasal dari kelas menengah.

Di sisi lain, penyesuaian tipe unit juga penting. Jika sebelumnya konsumen fokus pada satu kamar tidur, kini tipe unit dengan dua kamar tidur cenderung lebih diminati.

Dengan kondisi tersebut, pelaku industri diperkirakan akan tetap berhati-hati memasuki 2026. Tanpa perbaikan signifikan pada sisi permintaan, pasar kondominium diproyeksikan masih menghadapi tantangan dalam jangka pendek.

“Secara keseluruhan, meskipun ada penyesuaian pasar, kami masih melihat tren yang cukup positif tahun ini,” tandasnya. 

Selanjutnya: Tak Perlu Antre Penukaran! ATM Mandiri Di Lokasi Ini Keluarkan Uang Rp 10 Ribu

Menarik Dibaca: Promo Paket Bukber Burger King Hematnya Bikin Puasa Tenang, Mulai Rp 32 Ribuan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News