KONTAN.CO.ID - Anjloknya harga Bitcoin ke kisaran US$60.000 bukan dipicu oleh satu peristiwa besar, melainkan kombinasi beberapa faktor sekaligus. Matthew Sigel, Head of Digital Asset Research di VanEck, mengungkapkan ada lima faktor utama yang menekan harga Bitcoin dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini membuat pasar kripto menghadapi tekanan dari berbagai arah secara bersamaan. Berbeda dengan kejatuhan sebelumnya yang punya pemicu jelas, seperti runtuhnya FTX, larangan penambangan kripto di China, atau kolapsnya Terra, koreksi kali ini tidak memiliki satu penyebab tunggal.
Menurut Sigel, hal ini memang membuat titik terendah (bottom) sulit ditebak, namun di sisi lain bisa membuka peluang pemulihan yang lebih “bersih” ke depan. Mengutip
DLNews, berikut adalah 5 penyebab anjloknya harga Bitcoin: 1. Deleveraging Besar-besaran Minat terbuka (open interest) pada kontrak berjangka Bitcoin turun tajam menjadi sekitar US$ 49 miliar dari sebelumnya sekitar US$ 61 miliar hanya dalam satu pekan, berdasarkan data Coinglass. Artinya, terjadi penurunan lebih dari 20% pada posisi leverage atau transaksi berbasis utang di pasar Bitcoin. Lebih jauh, open interest sempat mencapai puncak di atas US$ 90 miliar pada awal Oktober. Ini berarti pasar telah memangkas lebih dari 45% leverage dari level tertingginya. Penurunan leverage ini sejalan dengan koreksi harga Bitcoin, yang menunjukkan pelemahan terjadi secara bertahap, bukan akibat likuidasi paksa yang tidak terkendali.
Baca Juga: Robert Kiyosaki Tepis Tuduhan Bohong soal Pembelian Bitcoin Dalam sepekan terakhir, total likuidasi di pasar kripto diperkirakan mencapai US$ 3–4 miliar, dengan sekitar US$ 2–2,5 miliar berasal dari kontrak berjangka Bitcoin. 2. Meredupnya Euforia AI Investor mulai mempertanyakan apakah perusahaan seperti OpenAI dan penyedia layanan cloud benar-benar bisa menghasilkan keuntungan dari belanja infrastruktur besar-besaran untuk kecerdasan buatan (AI). Ketidakpastian soal monetisasi AI ini turut menghantam para penambang (miner) Bitcoin. Banyak perusahaan mining yang sebelumnya beralih ke bisnis AI dan high-performance computing, berharap bisa memanfaatkan fasilitas mereka untuk menangkap peluang dari booming AI. Namun, ketika pendanaan mengetat dan harga Bitcoin turun, para miner terpaksa menjual Bitcoin untuk menjaga arus kas dan neraca keuangan. Tekanan jual dari miner ini menambah suplai Bitcoin di pasar spot, tepat di saat sentimen pasar sedang rapuh.
Baca Juga: Elon Musk Memperingatkan Amerika Serikat akan 1.000% Bangkrut 3. Muncul Kembali Isu Tata Kelola Proyek kripto World Liberty Finance yang terkait dengan keluarga Trump memicu kembali kekhawatiran soal transparansi di industri kripto. Laporan Wall Street Journal menyebut proyek tersebut menjual hampir setengah kepemilikannya kepada investor yang terkait dengan Uni Emirat Arab, dengan nilai sekitar US$ 500 juta, meski detail transaksi tidak diungkapkan secara jelas. Menurut Sigel, isu seperti ini justru menegaskan pentingnya aturan transparansi dan pelaporan standar, karena ketidakjelasan semacam ini bisa menggerus kepercayaan pasar.