KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan di pasar aset kripto masih berlanjut seiring meningkatnya aksi jual global. Pada Jumat (6/2/2026) pukul 17.40 WIB, harga Bitcoin (BTC) anjlok lebih dari 7,5% dalam satu hari dan 28% secara bulanan ke level US$ 65.914. Tak hanya itu saja, aset kripto lain seperti Ethereum (ETH) juga sama-sama jatuh hingga 9,4% sehari dan 40% sebulan terakhir menjadi US$ 1.924.
Founder dan CEO TRIV, Gabriel Rey, menilai salah satu sentimen utama yang memicu penurunan tajam ini berasal dari aksi jual yang dilakukan oleh BlackRock.
Baca Juga: IHSG Terkoreksi 4,73% Sepekan, Ini Pemicunya Manajer investasi besar asal Amerika Serikat (AS) tersebut baru saja melepas lebih dari sekitar 3.500 unit Bitcoin, yang berdampak signifikan terhadap pergerakan harga di pasar. “BlackRock ini kan melakukan penjualan atas instruksi nasabahnya. Jadi saya rasa dalam item ini sentimen masih bearish karena terus ada potensi penjualan,” ujar Gabriel kepada Kontan, Jumat (6/2/2026). Tak hanya Bitcoin, tekanan juga datang dari aset Ethereum. Gabriel menyebut BlackRock turut menjual sekitar 27.000 unit Ethereum baru-baru ini. Selain itu, sentimen negatif semakin kuat setelah Vitalik Buterin, pendiri Ethereum, dilaporkan menjual Ethereum senilai puluhan juta dolar selama tiga hari berturut-turut. Ini menjadi katalis tambahan yang membuat pasar kripto semakin tertekan. Di luar faktor aksi jual, kondisi likuiditas global juga menjadi perhatian. Gabriel menilai pasar kripto saat ini masih mengalami liquidity crunch, di mana belum ada aliran dana baru yang masuk secara signifikan.
Baca Juga: Rupiah Tertekan Selama Sepekan Ini, Begini Proyeksi Pengamat untuk Pekan Depan Kondisi tersebut membuat pasar cenderung bergerak
sideways atau
bearish. “Saya melihat sentimen ini bisa berlanjut sampai ada pergantian Powell (Ketua The Fed)," tambahnya. Di tengah fluktuasi yang tinggi, Gabriel menyarankan investor menyesuaikan strategi dengan profil risikonya. Bagi investor yang bermain di instrumen
futures atau menggunakan
leverage, ia menekankan pentingnya disiplin dalam memasang
stop loss. Sementara itu, bagi investor yang memegang aset kripto di pasar spot, khususnya Bitcoin, kondisi koreksi saat ini justru dinilai sebagai peluang akumulasi secara bertahap atau
dollar cost averaging (DCA). Dengan berbagai faktor tersebut, Ia memperkirakan skenario terburuk penurunan BTC berada di sekitar 60% dari level puncak US$ 126.000. "Karena
support terkuat saat ini harusnya berada di sekitaran angka US$ 66.000 sekian. Saya rasa
cycle ini tidak akan turun lebih dari 70%. Jadi
the worst case harusnya 60% dari US$ 126.000 itu titik paling parah," jelasnya.
Baca Juga: Cakra Buana (CBRE) Siap Perluas Bisnis ke Sektor Offshore Artinya, harga BTC berpotensi masih bertahan di atas area US$ 50.000 di sepanjang tahun ini.
Ke depan, Gabriel juga menyinggung faktor politik AS sebagai potensi penyokong. Ia menilai Presiden AS Donald Trump kemungkinan akan mengambil langkah tertentu apabila pasar saham dan kripto mengalami penurunan tajam.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News