Pasar Kripto Volatile, Investor dapat Memanfaatkan Fitur Staking di Reku



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan pasar kripto cenderung volatile secara signifikan selama satu pekan terakhir. Melansir data Coinmarketcap, Selasa pagi (22/8), harga Bitcoin melemah 11,14% dalam sepekan dan berada di level US$ 26.153,42 per koin atau Rp 400,79 juta (kurs Rp 15.324,70 per USD).

Sementara itu, Ethereum (ETH) terkoreksi 9,24% dalam sepekan, berada di level US$ 1.670 atau Rp 25,6 juta. Kemudian, Binance coin (BNB) turun 12,05% dalam sepekan, yang membuat BNB berada di harga US$ 211,53 atau Rp 3,24 juta per koin.

Kondisi tersebut perlu diperhatikan oleh investor aset kripto untuk menyusun kembali strategi investasinya. Robby selaku CCO platform pertukaran aset kripto Reku menjelaskan, investor perlu melakukan riset mendalam dan memahami profil risiko masing-masing di tengah volatilitas pasar.


Baca Juga: Bitcoin Jeblok Dalam Sepekan Usai Sinyal Hawkish The Fed dan Rumor SpaceX

“Ini penting untuk membantu investor dalam membuat perencanaan yang matang. Investor juga dapat lebih bijak dalam memilih jenis aset yang sesuai dengan profil risikonya,” kata Robby dalam keterangan tertulisnya, Selasa (22/8).

Robby melanjutkan, investor juga bisa memilih sejumlah teknik untuk mengoptimalkan aset. Diantaranya adalah dollar cost averaging (DCA) yang mana investor membeli sejumlah aset secara rutin dan disiplin.

Selain itu, investor juga bisa melakukan staking atau mengunci aset kripto untuk memperoleh passive income.

Reku sebagai pedagang aset kripto yang terdaftar di CFX mencatat, fitur staking menjadi salah satu pilihan utama investor di kondisi volatile.

Fitur staking memungkinkan pengguna mendapatkan rewards sebagai imbal atas partisipasi mereka dalam perkembangan blockchain hingga 12,5% per tahun.

Selain itu, pengguna juga mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga per koinnya serta bisa melakukan stake dan unstake secara fleksibel.

Robby menyatakan, Reku mencatat pertumbuhan volume pada fitur Reku hingga 100% sejak bulan Juni 2023.

Baca Juga: OJK Buka Kemungkinan Mewajibkan Selebgram Keuangan Berlisensi

Menariknya, sebesar 70% pengguna fitur staking di Reku adalah milenial. Tingginya partisipasi milenial pada staking menunjukkan tingginya permintaan dalam fitur ini serta kecermatan mereka dalam berinvestasi di aset kripto.

"Melalui staking, investor tetap bisa memperoleh passive income berkelanjutan selagi menanti pasar masuk ke zona hijau sehingga pilihan ini terbilang cukup strategis,” ucap Robby.

Reku merupakan satu-satunya pedagang aset kripto yang mendapat perizinan staking oleh BAPPEBTI. Perizinan ini membuktikan bahwa transaksi pengguna betu-betul di- stake di blockchain.

Pengguna juga dapat melihat setiap transaksi di blockchain melalui wallet address Reku. Hal ini berbeda dengan earn yang mana asetnya dikunci melalui platform lain, tidak langsung di blockchain.

Lebih lanjut, Robby optimistis fitur staking merupakan inovasi produk dan layanan yang dapat mempertahankan geliat investor di tengah ketidakpastian pasar.

Baca Juga: Catat, Tokocrypto akan Hapus Token SRM dan YFII Besok (22/8)

Untuk diketahui, BAPPEBTI mencatat peningkatan jumlah investor kripto di Indonesia yang mencapai 17,54 juta orang per Juni 2023 dengan rata-rata pertambahan sekitar 490.000 pelanggan per bulan.

Oleh karena itu, kendati kondisi volatilitas pasar yang signifikan, Robby menilai kehadiran fitur staking di platform Reku menjadi langkah strategis untuk mempertahankan appetite serta menjawab kebutuhan investor.

Bagi investor dengan tujuan jangka menengah hingga panjang, fitur staking cocok untuk diversifikasi portofolio dan membantu mengurangi risiko terkait volatilitas harga satu jenis aset kripto.

Adapun lima koin yang bisa di- staking di Reku adalah Ethereum (ETH), Cardano (ADA), Polygon (MATIC), Solana (SOL), Polkadot (DOT), dan Tezos (XTZ).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto