KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Sejumlah produsen otomotif global tetap meluncurkan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) terbaru dalam ajang New York Auto Show, meskipun permintaan konsumen di Amerika Serikat tengah melemah. Langkah ini diambil di tengah penurunan tajam penjualan EV setelah pemerintah AS menghapus insentif pajak sebesar US$7.500. Kebijakan tersebut berdampak signifikan terhadap daya beli konsumen dan memperlambat adopsi kendaraan listrik di pasar terbesar dunia tersebut.
Produsen Tetap Ekspansi Produk EV
Kia mengumumkan akan mulai menjual model EV3 dengan harga lebih terjangkau di AS pada akhir tahun ini. Sementara itu, Subaru memperkenalkan SUV listrik tiga baris terbaru bernama Getaway yang mampu menampung hingga tujuh penumpang.
Model baru Subaru tersebut dijadwalkan mulai dijual pada akhir tahun ini atau awal tahun depan, sekaligus menjadi model EV keempat perusahaan di pasar AS.
Baca Juga: Libur Paskah Australia Sepi, Kenaikan Harga BBM Bikin Warga Batal Liburan Pasar EV Melemah, Tapi Ada Harapan Pulih
Meski pasar EV di AS menghadapi tantangan, kenaikan harga bahan bakar dalam beberapa pekan terakhir mulai memicu kembali minat konsumen terhadap kendaraan listrik. Wakil Presiden Pemasaran Kia America, Russell Wager, menyatakan optimisme bahwa pasar EV akan kembali pulih dalam beberapa tahun ke depan, meskipun tidak secepat yang diharapkan. “Kami yakin pasar EV akan kembali, mungkin tidak secepat yang diinginkan, tetapi kami tetap berkomitmen,” ujarnya. Kia memperkirakan pasar EV AS dapat kembali ke level sebelumnya dalam tiga hingga empat tahun mendatang.
Penurunan Pangsa Pasar EV
Data dari Alliance for Automotive Innovation menunjukkan bahwa pangsa penjualan EV di AS mencapai 9,6% sepanjang 2025, namun turun menjadi hanya 6,5% dalam tiga bulan terakhir—terendah sejak awal 2022. Penurunan ini terjadi setelah berakhirnya insentif pajak kendaraan listrik pada 30 September. Pimpinan Nissan di kawasan Amerika, Christian Meunier, menyebut permintaan EV saat ini sangat lemah. “Jika melihat pasar EV sekarang, hampir tidak ada permintaan. Sebagian besar masih bergantung pada insentif besar, bukan permintaan alami,” ujarnya.
Strategi Hybrid dan Adaptasi Industri
CEO Hyundai Motor, Jose Munoz, mengatakan kenaikan harga bahan bakar—terutama di California—mulai mendorong peningkatan penjualan EV yang didorong kondisi pasar, bukan regulasi.
Baca Juga: IPO SpaceX Bidik Valuasi di Atas US$2 Triliun, Berpotensi Terbesar Sepanjang Sejarah Namun, Hyundai juga menyesuaikan strategi dengan meningkatkan produksi kendaraan hybrid sebagai alternatif. “Idealnya, EV akan tumbuh bertahap menjadi sekitar 10–15% pasar, bukan langsung melonjak ke 50–60%,” jelasnya.
Hal senada disampaikan oleh eksekutif Toyota Motor yang menyebut kenaikan harga bahan bakar dapat memberikan dorongan tambahan bagi penjualan EV, meskipun tidak sebesar saat masih ada subsidi pemerintah.
Tantangan Kebijakan dan Masa Depan EV
Saat ini, kendaraan listrik hanya mencakup sekitar 2,5% dari total kendaraan ringan yang beroperasi di AS. Pada 2024, penjualan EV menyumbang sekitar 10,2% dari total penjualan kendaraan. Kebijakan Presiden AS Donald Trump yang mengurangi insentif pembelian EV serta mendorong produksi kendaraan berbahan bakar fosil turut menjadi tantangan bagi industri. Meski demikian, produsen otomotif global tetap melanjutkan investasi di segmen kendaraan listrik, dengan harapan tren jangka panjang tetap mengarah pada transisi energi yang lebih bersih.