Pasar Masih Volatil, Simak Rekomendasi Saham Pilihan IPOT



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih tertekan pada perdagangan awal pekan ini. Di mana, IHSG ditutup melemah 60,46 poin atau 0,97% menjadi 6.181,43 pada akhir perdagangan sesi pertama hari ini (28/9/2026).

Sekedar mengingatkan, IHSG ditutup di level 6.241 pada Jumat (25/9/2026), melemah sekitar 3,09% dibandingkan pekan sebelumnya. Pada periode yang sama, arus dana asing atau foreign outflow di pasar reguler tercatat sekitar Rp 3,5 triliun.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas David Kurniawan mengatakan, tekanan terhadap IHSG dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global dan domestik.


Dari global, risiko geopolitik kembali menjadi perhatian menyusul serangan Houthi terhadap infrastruktur energi Saudi Aramco yang meningkatkan risiko gangguan pasokan minyak dunia.

Baca Juga: IHSG Anjlok 0,97% ke 6.181,4 di Sesi I Senin (28/9), Saham GOTO Ambles 14%

“Gangguan pada East-West Pipeline Saudi yang menjadi jalur alternatif pengiriman minyak untuk menghindari Selat Hormuz mempersempit fleksibilitas distribusi ketika jalur utama menghadapi risiko eskalasi,” jelas David dalam keterangan resmi, Senin (28/9/2026).

Sementara dari domestik, perhatian pasar tertuju pada kebijakan suku bunga Bank Indonesia. BI mempertahankan BI-Rate di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur pada 22–23 September 2026, meski The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin.

“Fokus BI saat ini lebih kuat pada stabilitas Rupiah dan inflasi sekaligus tetap menjaga momentum pertumbuhan,” terang David.

Memasuki periode perdagangan 28 September hingga 2 Oktober 2026, David melihat tema higher-for-longer kembali menguat setelah The Fed menaikkan suku bunga 25 basis poin menjadi 3,75%–4,00% pada 16 September 2026.

Kebijakan serupa juga ditempuh Bank Sentral Eropa atau ECB yang menaikkan suku bunga 25 basis poin pada 10 September. Sementara Bank of Japan menaikkan suku bunga ke level 1,25%.

David juga menyoroti data ekonomi Amerika Serikat yang masih solid. Klaim pengangguran yang turun ke level terendah dalam hampir 60 tahun memperkuat ekspektasi pengetatan moneter lanjutan dan mendorong dolar AS ke level tertinggi dalam dua bulan.

Kenaikan imbal hasil US Treasury, terutama pada tenor panjang, juga berpotensi meningkatkan required risk premium di pasar negara berkembang. Kondisi tersebut dapat mendorong realokasi portofolio dari pasar negara berkembang menuju aset Amerika Serikat.

Baca Juga: Rupiah Terus Melemah ke Rp 17.960 Per Dolar AS di Tengah Hari Ini (28/9), Asia Mixed

Dari sisi komoditas, risiko geopolitik masih menjadi faktor penting bagi harga minyak. Eskalasi ketegangan AS dan Iran serta serangan Houthi terhadap East–West Pipeline milik Saudi Aramco mendorong harga Brent kembali menembus US$ 100 per barel. Sementara itu, harga WTI tercatat naik 12,38% secara bulanan menjadi US$ 92,41 per barel.

“Harga minyak memang mulai termoderasi di pekan terakhir September seiring berlangsungnya pembicaraan AS Iran terkait kemungkinan pembukaan kembali Selat Hormuz secara bertahap. Namun, hasil perundingan tersebut akan menjadi penentu utama arah harga energi di bulan Oktober, sekaligus ekspektasi inflasi global,” jelas David.

Di dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga masih menjadi perhatian. Per 25 September 2026, rupiah berada di kisaran Rp17.903 per dolar AS, sedangkan JISDOR berada di Rp17.917 per dolar AS.

Meski demikian, cadangan devisa Indonesia yang berada di sekitar US$146,5 miliar dinilai masih memberikan bantalan bagi stabilisasi nilai tukar.

Baca Juga: IRSX Right Issue 12,39 Miliar Saham Baru, Intip Profil, Lini Bisnis, dan Kinerjanya

Di sisi lain, inflasi Agustus 2026 meningkat menjadi 3,19% secara tahunan dari 2,88% pada Juli. Kenaikan tersebut didorong oleh inflasi volatile food dan core inflation. Risiko kenaikan harga energi serta potensi El Nino terhadap pangan juga dinilai dapat membatasi ruang pelonggaran moneter dalam waktu dekat.

Di tengah kondisi pasar yang masih sensitif terhadap volatilitas IHSG, Indo Premier Sekuritas mencermati sejumlah saham untuk perdagangan pekan ini.

Salah satunya PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA). Indo Premier memberikan rekomendasi Buy dengan harga saat ini dan level entry Rp 3.070 per saham, target harga Rp 3.300 serta stop loss Rp 2.980.

“MDKA konsisten bergerak di MA5 dan smart money masih cenderung akumulasi pada lima hari terakhir sehingga saham ini layak ditradingkan pekan ini,” kata David.

Selanjutnya, PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) juga direkomendasikan Buy. Harga saat ini dan entry berada di Rp 3.380 per saham, dengan target Rp 3.610 dan stop loss Rp 3.290.

Menurut David, AUTO mengalami healthy retracement dalam fase uptrend. Pergerakan harga juga menunjukkan potensi terjadinya breakout.

 
MDKA Chart by TradingView

Kemudian, PT Ketrosden Triasmitra Tbk (KETR) direkomendasikan saham beli dengan harga entry Rp 975 per saham. Target harga yang dipasang berada di Rp 1.080, sedangkan stop loss di Rp 925.

“Harga saham KETR konsisten bergerak di atas MA20 dan pada Jumat pekan lalu naik dengan high volume breakout sehingga layak buy pada pekan ini,” ujar David.

Selain saham, Indo Premier juga mencermati Reksa Dana Saham Premier ETF IDX High Dividend 20 atau XIHD. Instrumen tersebut dinilai dapat menjadi alternatif bagi investor yang mencari potensi pendapatan atau yield ketika kondisi pasar masih sensitif terhadap volatilitas IHSG.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News