KONTAN.CO.ID - Dolar Amerika Serikat (AS) bergerak datar pada Selasa (17/3/2026) pagi. Sementara para trader menimbang perkembangan perang Iran, dan dolar Australia sedikit melemah menjelang perkiraan kenaikan suku bunga dari bank sentral Australia (RBA) yang diumumkan hari ini. Melansir Reuters, Euro turun 0,12% ke US$1,1492, sementara sterling melemah 0,1% ke US$1,33, menurun dari kenaikan tajam sesi sebelumnya. Indeks dolar hampir tidak berubah di 99,913.
Dolar Australia berada di US$0,706 (-0,16%), sedangkan dolar Selandia Baru turun 0,24% menjadi US$0,5848.
Baca Juga: Harga Emas Stabil Selasa (17/3), Tunggu Keputusan Bank Sentral dan Risiko Timteng Yen Jepang melemah ke 159,35 per dolar, hampir menembus level penting 160, meski otoritas Jepang memberikan peringatan verbal. Sentimen pasar kembali cemas setelah beberapa sekutu AS menolak permintaan Presiden Donald Trump untuk mengawal tanker minyak melalui Selat Hormuz, menimbulkan keraguan soal kapan ekspor energi dapat kembali normal. Lonjakan harga minyak akibat perang AS-Israel terhadap Iran meningkatkan kekhawatiran inflasi dan memicu penyesuaian ekspektasi suku bunga global, yang secara keseluruhan mendukung penguatan dolar AS.
Baca Juga: Harga Minyak Naik Lebih 2% Selasa (17/3), Akibat Kekhawatiran Gangguan Pasokan Iran Kyle Rodda, analis senior di capital.com, mengatakan: "Respons kebijakan terhadap krisis ini akan mulai terlihat dalam beberapa hari ke depan, dengan harga pasar mencerminkan kemungkinan kenaikan suku bunga segera atau paling tidak pelonggaran yang lebih sedikit dibanding ekspektasi sebelum krisis." Kepada investor, pertemuan RBA membuka rangkaian pertemuan bank sentral global pekan ini, yang akan menjadi acuan untuk menilai pandangan para pembuat kebijakan terhadap dampak perang Iran pada inflasi dan pertumbuhan. Prashant Newnaha, strategi senior di TD Securities, menambahkan: "Kenaikan tajam harga minyak menekan yen karena Jepang sangat bergantung pada impor energi, yang bisa mendorong inflasi dan memburuknya neraca perdagangan. Pada titik tertentu, otoritas harus memilih antara melindungi yen atau pasar obligasi — keduanya sulit dicapai sekaligus."